Annyeonghaseyo Chingudeul
Dewi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin ^____^
Happy Reading........
Cerita dibuka dengan pertunjukan break dance di sebuah bangunan sederhana (sepertinya klub malam). Beberapa orang penari terlihat asyik menari ditemani oleh iringan music dari Dj berpengalaman dan MC sekaligus Rapper yang menambah riuhnya acara tersebut.
Dewi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Adha, Minal Aidin Walfaidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin ^____^
Happy Reading........
Cerita dibuka dengan pertunjukan break dance di sebuah bangunan sederhana (sepertinya klub malam). Beberapa orang penari terlihat asyik menari ditemani oleh iringan music dari Dj berpengalaman dan MC sekaligus Rapper yang menambah riuhnya acara tersebut.
Sementara itu di luar terlihat sebuah mobil yang diparkir asal-asalan.
Sang pengemudi dengan cekatan berjalan masuk ke dalam gedung dan mulai
mencari seseorang. Semua orang terlihat terkejut melihatnya tak
terkecuali beberapa anak muda yang sedang latihan di sebuah ruangan.
“ah, benar-benar” keluh seorang anak muda yang bersembunyi di balik punggung temannya
“ah, benar-benar” keluh seorang anak muda yang bersembunyi di balik punggung temannya
“jangan terlalu kuat” teriak anak muda tersebut saat dirinya dibawa
paksa oleh seorang wanita berseragam polisi yang tak lain adalah
Kakaknya
“kalau begitu diamlah, kamu benar-benar keterlaluan” ucap sang Kakak yang bernama Min Soo Ah
“kalau begitu diamlah, kamu benar-benar keterlaluan” ucap sang Kakak yang bernama Min Soo Ah
Anak muda tersebut didorong dengan paksa masuk ke dalam mobil, namun
baru beberapa detik ia duduk, Soo Ah kembali mengejarnya karena ia
berniat melarikan diri.
“kenapa menggunakan ini? apa aku melanggar hukum?” keluh sang adik saat Soo Ah memborgol tangannya dan mengaitkannya di mobil
“jangan mengeluh terus, kamu sendiri yang berbuat dan membuatku pusing dengan semua kelakuan nakalmu” jawab Soo Ah
“lepaskan, lepaskan aku” teriak adik Soo Ah
“kenapa menggunakan ini? apa aku melanggar hukum?” keluh sang adik saat Soo Ah memborgol tangannya dan mengaitkannya di mobil
“jangan mengeluh terus, kamu sendiri yang berbuat dan membuatku pusing dengan semua kelakuan nakalmu” jawab Soo Ah
“lepaskan, lepaskan aku” teriak adik Soo Ah
Mobil berjalan di jalan raya. Adik Soo Ah terus saja mengeluh dan
menggoyang-goyangkan tangannya yang terborgol. Pertengkaran Kakak dan
Adik pun tak bisa terelakkan, mulai dari pertengkaran mulut hingga
akhirnya saling berebut kunci borgol. Mobil yang dikemudikan Soo Ah
mulai oleng ke kanan dan ke kekiri. Soo Ah sama sekali tak menyadari
sebuah mobil yang berjalan ke arahnya dan seketika membanting setir ke
arah kanan saat menyadari mobil yang dikendarainya hampir bertabrakan.
Terdengar bunyi pecahan kaca dan gedebum keras. Beberapa detik kemudian
Soo Ah terbangun dengan posisi badan tergeletak di jalan raya.
“Noona, tolong aku….. Noona, cepat kemari, tolong selamatkan aku” teriak
adik Soo Ah yang masih berada di dalam mobil. Dirinya ketakutan
setengah mati saat melihat mobil yang dikendarainya bersama sang Kakak
berada di tepi Jembatan layang. Sementara di bawah jembatan adalah jalan
raya tempat lalu lalang mobil lainnya.
Soo Ah berjalan sempoyongan dengan baju dipenuhi noda darah menuju
mobil. Pandangannya perlahan-lahan mulai kabur dan pingsan tak sadarkan
diri.
“Noona, cepat kemari” teriak adik Soo Ah sekali lagi. Merasa sang Kakak tak dapat menolongnya, adik Soo Ah berinisiatif mengambil kunci borgol yang tergeletak di kursi sampingnya. Adik Soo Ah tak mampu menggapainya dan malah membuat mobil semakin oleng ke kanan. Adik Soo Ah melepaskan seat belt yang dikenakannya dan sekali lagi berusaha menggapai kunci dan berhasil.
“Noona, cepat kemari” teriak adik Soo Ah sekali lagi. Merasa sang Kakak tak dapat menolongnya, adik Soo Ah berinisiatif mengambil kunci borgol yang tergeletak di kursi sampingnya. Adik Soo Ah tak mampu menggapainya dan malah membuat mobil semakin oleng ke kanan. Adik Soo Ah melepaskan seat belt yang dikenakannya dan sekali lagi berusaha menggapai kunci dan berhasil.
Namun naas, disaat kunci sudah berada di tangan, disaat itu juga mobil
terjatuh dari jembatan layang dan terseret oleh truck yang melintas
tepat di bawahnya.
3 Bulan kemudian
Di sebuah apartemen sederhana terdengar bunyi alarm yang menyuruh sang
pemilik rumah untuk segera bangun. Tidak ada reaksi dari pemilik rumah.
Seekor anjing tiba-tiba melompat ke atas tempat tidur dan menarik
selimutnya.
Beberapa menit kemudian terlihat seorang gadis tunanetra yang mulai
beraktifitas dan mengerjakan semuanya sendirian termasuk menggosok gigi,
mencuci muka dan memakaikan pengait pada Anjingnya yang bernama Se Ji
yang akan menuntunnya menyusuri jalan-jalan dalam hidupnya.
Beberapa orang polisi terlihat lalu lalang di sebuah gedung bertingkat.
Sementara di salah satu ruangan Se Ji dan sang majikan, Soo Ah terlihat
sedang menunggu seseorang. Soo Ah mulai membiasakan diri dengan
kehidupannya sekarang. Soo Ah bahkan belajar mengenali lingkungan dan
sekelilingnya dengan bantuan pendengarannya yang tajam. Instingnya
sebagai mantan polisi pun akan membawanya pada sebuah kejadian yang tak
pernah diduganya sebelumnya.
Seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan
“ah, kamu pasti sudah menunggu lama kan? Akhir-akhir ini baik-baik saja kan?” tanya Bos Soo Ah
“terima kasih atas perhatiannya” jawab Soo Ah
“anjing yang baik. Baiklah ada apa sehingga kamu mencariku?”
Soo Ah terlihat tegang dan beberapa kali menggenggam erat tangannya “aku ingin menangani sebuah kasus”. Bos Soo Ah dan termasuk polisi senior terlihat menghela nafas. Baginya mustahil bagi Soo Ah untuk menangani sebuah kasus dengan kondisinya yang tak seperti dulu lagi.
“ah, kamu pasti sudah menunggu lama kan? Akhir-akhir ini baik-baik saja kan?” tanya Bos Soo Ah
“terima kasih atas perhatiannya” jawab Soo Ah
“anjing yang baik. Baiklah ada apa sehingga kamu mencariku?”
Soo Ah terlihat tegang dan beberapa kali menggenggam erat tangannya “aku ingin menangani sebuah kasus”. Bos Soo Ah dan termasuk polisi senior terlihat menghela nafas. Baginya mustahil bagi Soo Ah untuk menangani sebuah kasus dengan kondisinya yang tak seperti dulu lagi.
Soo Ah berjalan lesu bersama dengan Se Ji. Kata-kata Bosnya masih terngiang jelas di telinganya
“kasus ini sama sekali tidak ada perkembangan. Aku berharap kamu beristirahat saja di rumah dan itu adalah harapan kami”
“kasus ini sama sekali tidak ada perkembangan. Aku berharap kamu beristirahat saja di rumah dan itu adalah harapan kami”
Langkah kaki Soo Ah membawanya sampai di tepi jalan raya. Soo Ah
memencet sebuah tombol dan seketika dunia menjadi gelap seperti dunia
dalam pandangan Soo Ah saat ini. Tiba-tiba terdengar bunyi klakson “kamu
ingin mati ya?” teriak seorang pria dan teriakannya membuat Soo Ah
kaget dan tak dapat berkonsentrasi.
Sebuah Bus besar lewat disamping Soo Ah dan membuat Soo Ah semakin
gelagapan. “Hei, lihat-lihat kalau jalan” teriak pria tersebut sekali
lagi dan memacu mobilnya meninggalkan Soo Ah di tengah jalan raya dan
masih kebingungan.
Beberapa detik kemudian Soo Ah berhasil sampai di seberang setelah
sebelumnya kakinya tanpa sengaja menabrak pembatas jalan dan menyebabkannya
terluka.
Se Ji berbaring di lantai dan menatap Soo Ah yang sedang menerima
telepon dari Ibunya. Ibu Soo Ah menelepon hanya untuk menanyakan kabar
Soo Ah yang lebih memilih tinggal sendirian daripada tinggal bersama
dirinya dan anak panti lainnya.
Soo Ah meniup tangannya yang terkena cipratan susu yang dimasaknya untuk
Se Ji. Sekuat apapun Soo Ah bertahan, Soo Ah hanyalah gadis biasa.
Hanya Se Ji yang selama ini selalu ada disampingnya dan menemani Soo Ah
disaat orang-orang menjauhinya. Hanya Se Ji yang bisa membuat Soo Ah
kembali tertawa dan membuat dunia Soo Ah yang gelap menjadi lebih
berwarna.
Di sebuah rumah tanpa penerangan terlihat seorang gadis yang berjalan
sempoyongan dan merintih kesakitan. Saat dia berhasil mencapai pintu,
sebuah tangan kembali menariknya untuk masuk.
Keesokan harinya
Soo Ah bersiap-siap ingin pergi. Sebuah berita di televisi mengabarkan kalau akhir-akhir ini sering terjadi kasus penculikan dimana korbannya adalah wanita. Mereka menghilang tiba-tiba dan tak ada kabar hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Dan foto wanita yang dikabarkan hilang adalah wanita yang berada di rumah tanpa penerangan.
Soo Ah bersiap-siap ingin pergi. Sebuah berita di televisi mengabarkan kalau akhir-akhir ini sering terjadi kasus penculikan dimana korbannya adalah wanita. Mereka menghilang tiba-tiba dan tak ada kabar hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Dan foto wanita yang dikabarkan hilang adalah wanita yang berada di rumah tanpa penerangan.
Soo Ah memasuki sebuah area perumahan. Kali ini Soo Ah tidak membawa
serta Se Ji dan hanya menggunakan tongkat sebagai alat bantunya. Soo Ah
menghentikan langkahnya dan tersenyum saat mendengarkan desiran angin
yang membawa daun-daun gugur beterbangan.
Seorang anak kecil tersenyum senang saat melihat Soo Ah dan berteriak
“Unnie” . Beberapa detik kemudian sekumpulan anak yang lainnya juga
melakukan hal yang sama dan berlarian ke arah Soo Ah dan memeluknya.
“Unnie, kami senang kamu datang”.
Seorang wanita setengah baya pun terlihat senang saat melihat Soo Ah.
Dia adalah Ibu panti dan sudah menganggap Soo Ah sebagai anaknya sendiri
begitupun dengan Soo Ah yang sudah menganggapnya sebagai Ibunya
sendiri.
Soo Ah berjalan menaiki tangga yang sudah tak asing lagi baginya.
Samar-samar terdengar bunyi dentingan jam. Seketika bayangan masa lalu
Soo Ah terbayang di benaknya. Soo Ah bisa merasakan saat-saat dirinya
dan adiknya tinggal di panti asuhan. Saat dimana dia dan adiknya
bermain kejar-kejaran dan sang adik bersembunyi di sebuah kamar dan Soo
Ah berhasil menemukan adiknya. Hati Soo Ah perih ketika mengingat
saat-saat itu.
“sering-seringlah kemari, disini sangat memerlukanmu. Ini adalah barang
magentik, jika ada yang mendekatimu kamu bisa merasakannya” ucap Ibu Soo
Ah ketika berbicara empat mata dengan Soo Ah “kamu menyukainya?
Kecelakaan itu membuatmu kehilangan penglihatan. Kamu ingin mengatakan
apa?”
“aku sangat menyukainya dan ini sangat berguna untukku”
“aku sangat menyukainya dan ini sangat berguna untukku”
Ibu Soo Ah mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong bajunya “ini untukmu,
ambillah. Kami semua sangat perhatian terhadapmu. Pergilah liburan dan
bersenang-senanglah”
“aku tak membutuhkannya, ini menghabiskan banyak uang dan yang kuinginkan sekarang adalah menangkap penjahat” ucap Soo Ah marah ketika menerima tiket dari Ibunya
“kamu tidak dapat melakukannya”
“aku pasti bisa” ucap Soo Ah sedih dan pergi
“aku tak membutuhkannya, ini menghabiskan banyak uang dan yang kuinginkan sekarang adalah menangkap penjahat” ucap Soo Ah marah ketika menerima tiket dari Ibunya
“kamu tidak dapat melakukannya”
“aku pasti bisa” ucap Soo Ah sedih dan pergi
Soo Ah berjalan tergesa-gesa saat keluar dari panti dan tanpa sengaja
menabrak tumpukan mainan anak panti hingga terjatuh. “Unnie, kamu
baik-baik saja kan?” tanya beberapa anak panti dan membantu Soo Ah
berdiri
“kamu benar-benar keterlaluan” ucap Ibu Soo Ah ketika Soo Ah mulai menjauh
“ada hal yang Ibu tak dapat ikut campur dan itu adalah urusanku”.
“kamu benar-benar keterlaluan” ucap Ibu Soo Ah ketika Soo Ah mulai menjauh
“ada hal yang Ibu tak dapat ikut campur dan itu adalah urusanku”.
Soo Ah sekarang berada di halte Bus. Soo Ah menghubungi temannya yang
bekerja di kepolisian dan memintanya untuk memberitahu dirinya jika ada
kasus baru atau perkembangan dari kasus yang sedang mereka tangani.
Selesai menutup telepon, Soo Ah kembali terdiam. Telinganya berusaha
menangkap suara-suara disekitarnya termasuk suara rintik-rintik hujan,
suara seseorang yang sedang menghela nafas dan suara beberapa orang yang
berdiri di sampingnya dan sedang menunggu taxi yang akan membawa mereka
ke tujuan masing-masing sama seperti dirinya.
Satu persatu orang disamping Soo Ah mulai menaiki taxi hingga akhirnya
tinggal Soo Ah sendirian. Sebuah mobil berhenti di depan Soo Ah.
“annyeonghaseyo” sapa pria di dalam mobil
“bolehkan aku menumpang?” tanya Soo Ah yang menganggap kalau mobil di depannya adalah taxi
“silakan, ayo masuk”
“terima kasih”
“annyeonghaseyo” sapa pria di dalam mobil
“bolehkan aku menumpang?” tanya Soo Ah yang menganggap kalau mobil di depannya adalah taxi
“silakan, ayo masuk”
“terima kasih”
Soo Ah menyandarkan kepalanya di jendela mobil sementara pria di
depannya terus saja melirik jam tangannya dan sesekali melihat Soo Ah
melalui kaca spion.
“kamu ingin pergi kemana?”
“aku ingin ke jalan Chong”. Jawab Soo Ah dan meraba kursi yang didudukinya dan merasa aneh “ini bukan taxi kan? Aku merasa sedikit aneh”
“aku mengetahui keadaanmu, kamu tidak bisa melihat kan?” tanya Pria misterius dan menaikkan suhu pemanas dalam mobil dan Soo Ah bisa merasakan dan mendengarnya walaupun tak melihatnya
“tapi kita sekarang berada dimana? Aku merasa pernah mendengar suaramu?” tanya Soo Ah
“jangan tanya lagi” ucap Pria misterius dan memberikan sekaleng kopi dan tisu agar Soo Ah mengelap bekas air hujan di wajahnya “apa kamu bisa membukanya?” tanya Pria misterus kepada Soo Ah
“iya, tidak apa-apa” jawab Soo Ah dan menggenggam kaleng minuman
“biar aku yang membukakannya untukmu”
“tidak apa-apa” jawab Soo Ah. Pria misterius tetap memaksa membukakan tutup minuman kaleng Soo Ah namun Soo Ah tetap menolak. Pria misterius dengan serta merta menginjak rem saat menyadari sesuatu yang disimpan di bagasi mobilnya terjatuh ke jalan.
“kamu ingin pergi kemana?”
“aku ingin ke jalan Chong”. Jawab Soo Ah dan meraba kursi yang didudukinya dan merasa aneh “ini bukan taxi kan? Aku merasa sedikit aneh”
“aku mengetahui keadaanmu, kamu tidak bisa melihat kan?” tanya Pria misterius dan menaikkan suhu pemanas dalam mobil dan Soo Ah bisa merasakan dan mendengarnya walaupun tak melihatnya
“tapi kita sekarang berada dimana? Aku merasa pernah mendengar suaramu?” tanya Soo Ah
“jangan tanya lagi” ucap Pria misterius dan memberikan sekaleng kopi dan tisu agar Soo Ah mengelap bekas air hujan di wajahnya “apa kamu bisa membukanya?” tanya Pria misterus kepada Soo Ah
“iya, tidak apa-apa” jawab Soo Ah dan menggenggam kaleng minuman
“biar aku yang membukakannya untukmu”
“tidak apa-apa” jawab Soo Ah. Pria misterius tetap memaksa membukakan tutup minuman kaleng Soo Ah namun Soo Ah tetap menolak. Pria misterius dengan serta merta menginjak rem saat menyadari sesuatu yang disimpan di bagasi mobilnya terjatuh ke jalan.
Soo Ah memegangi kepalanya yang kesakitan karena terbentur jok mobil.
Soo Ah mulai membereskan barang-barangnya dan turun dari mobil.
“ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Soo Ah di tengah guyuran hujan
“tidak apa-apa, semuanya sudah beres” jawab Pria misterius dan menutup pintu bagasi
“kamu sebenarnya siapa?” tanya Soo Ah mulai panik dan berniat membuka bagasi mobil
“tidak apa-apa, jangan khawatir”
“tunggu sebentar” ucap Soo Ah dan mengambil Hp dari dalam tasnya dan berniat menelepon temannya sesama rekan seprofesi
“kamu ini kenapa?” teriak Pria misterius dan mendorong Soo Ah hingga terjatuh
“lepaskan aku” teriak Soo Ah saat pria tersebut menariknya dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Soo Ah yang notabene seorang polisi dan dianjurkan harus menguasai ilmu bela diri berusaha melepaskan diri dan memelintir tangan Pria misterius dan memaksanya merapat ke kaca mobil.
“ada apa? Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Soo Ah di tengah guyuran hujan
“tidak apa-apa, semuanya sudah beres” jawab Pria misterius dan menutup pintu bagasi
“kamu sebenarnya siapa?” tanya Soo Ah mulai panik dan berniat membuka bagasi mobil
“tidak apa-apa, jangan khawatir”
“tunggu sebentar” ucap Soo Ah dan mengambil Hp dari dalam tasnya dan berniat menelepon temannya sesama rekan seprofesi
“kamu ini kenapa?” teriak Pria misterius dan mendorong Soo Ah hingga terjatuh
“lepaskan aku” teriak Soo Ah saat pria tersebut menariknya dan memaksanya masuk ke dalam mobil. Soo Ah yang notabene seorang polisi dan dianjurkan harus menguasai ilmu bela diri berusaha melepaskan diri dan memelintir tangan Pria misterius dan memaksanya merapat ke kaca mobil.
Sebuah mobil perlahan-lahan mendekat ke arah mereka. Pria misterius
merasa posisinya terancam mendorong Soo Ah dan
dengan cepat melarikan diri. Soo Ah berusaha meraba jalanan disekitarnya
dan mencari ponselnya yang sempat ikut terjatuh ketika dirinya di
dorong.
Sebuah bunyi klakson mengejutkan Soo Ah.
Soo Ah berada di kantor polisi bersama dengan Ibunya dan seorang pria
yang membantunya. Soo Ah mulai bercerita kepada polisi jika dirinya saat
itu berada dalam bahaya dan ingin dibunuh. Polisi sama sekali tak
mempercayai ucapan Soo Ah, karena mana mungkin seorang gadis buta bisa
bercerita semuanya secara detail, sungguh tak masuk diakal.
Merasa kesal dan jengkel pada Polisi yang tak mempercayai ucapannya, Soo
Ah pun memutuskan meninggalkan kantor polisi. Apalagi para polisi sama
sekali tak menggubrisnya dan lebih mementingkan seorang pria yang
mengamuk.
Kembali ke rumah tanpa penerangan
Alunan music terdengar samar-samar dari sebuah ruangan. Seorang gadis diletakkan secara paksa di atas sebuah meja panjang dan wajahnya dipenuhi banyak luka dan noda darah. Seorang pria mendekatinya dan memegangi wajahnya dengan kasar. “apa yang ingin kau katakan?” tanyanya “tolong lepaskan aku” lirihnya. Pria hanya tersenyum sinis dan membalikkan wajah si gadis ke arah kanan hingga membuatnya berteriak histeris saat melihat mayat seorang gadis tak jauh darinya.
Alunan music terdengar samar-samar dari sebuah ruangan. Seorang gadis diletakkan secara paksa di atas sebuah meja panjang dan wajahnya dipenuhi banyak luka dan noda darah. Seorang pria mendekatinya dan memegangi wajahnya dengan kasar. “apa yang ingin kau katakan?” tanyanya “tolong lepaskan aku” lirihnya. Pria hanya tersenyum sinis dan membalikkan wajah si gadis ke arah kanan hingga membuatnya berteriak histeris saat melihat mayat seorang gadis tak jauh darinya.
Soo Ah sedang memandikan Se Ji. Soo Ah tertawa saat Se Ji
mengibas-ngibaskan air ke wajah Soo Ah. Se Ji tiba-tiba berhenti saat
menyadari kehadiran seseorang di depan pintu rumah mereka. “ada apa?”
tanya Soo Ah.
Terdengar bunyi ketukan di pintu rumah Soo Ah. “nuguseyo?” tanya Soo Ah
namun seseorang di balik pintu tak menjawab “nuguseyo?” tanya Soo Ah
sekali lagi dan mendekatkan wajahnya ke pintu “kami datang mengantarkan
barang”
Soo Ah membuka pintu. Dua orang pria di depannya menunjukkan identitasnya dan terlihat heran saat Soo Ah tak merespon
“kamu tak dapat melihat?” tanya salah satu pria
“ya, ada apa?”
“kami ingin mendiskusikan sesuatu” dan samar-samar Soo Ah bisa mendengar suara borgol
“kalian ingin mendiskusikan apa?” tanya Soo Ah sekali lagi
“kami ingin bertanya kembali mengenai perkataanmu di kantor polisi dulu”
“kamu tak dapat melihat?” tanya salah satu pria
“ya, ada apa?”
“kami ingin mendiskusikan sesuatu” dan samar-samar Soo Ah bisa mendengar suara borgol
“kalian ingin mendiskusikan apa?” tanya Soo Ah sekali lagi
“kami ingin bertanya kembali mengenai perkataanmu di kantor polisi dulu”
Di kantor polisi
Seorang pria setengah baya terlihat kesal saat dilimpahi tanggung jawab menangani kasus pembunuhan yang sama sekali tak ada titik terangnya, sementara teman-temannya yang lain hanya tertawa melihatnya.
Seorang pria setengah baya terlihat kesal saat dilimpahi tanggung jawab menangani kasus pembunuhan yang sama sekali tak ada titik terangnya, sementara teman-temannya yang lain hanya tertawa melihatnya.
Detektif Jo terlihat bingung saat dihadapkan dengan Soo Ah. Detektif Jo
menatap Soo Ah dan Se Ji secara bergantian. Dirinya tak henti berdesis
karena saksi untuk kasus ini adalah seorang tunanetra.
Detektif Jo mulai melemparkan pertanyaan sederhana kepada Soo Ah.
“siapa namamu dan apa pekerjaanmu?”.
“siapa namamu dan apa pekerjaanmu?”.
Soo Ah menjawab “namaku adalah Min Soo Ah dan pekerjaanku adalaah
polisi. Sebuah kecelakaan menyebabkan kebutaan pada mataku dan membuatku
harus beristirahat dari pekerjaanku”.
Detektif Jo menghela nafas dan menutup buku laporannya, karena baginya sudah tidak ada lagi yang bisa dia tanyakan pada Soo Ah.
“tolong dengarkan apa yang semua aku katakan karena ini adalah harapan terakhir kita”.
“tolong dengarkan apa yang semua aku katakan karena ini adalah harapan terakhir kita”.
Soo Ah mulai bercerita mengenai kejadian yang dialaminya di malam itu.
Soo Ah bercerita kalau dirinya sebenarnya juga akan dijadikan korban.
Disaat semua orang sudah pergi dan hanya dirinya saja yang tinggal di
halte bus, pria tersebut mendekat. Ketika berada di dalam mobil Soo Ah
baru menyadari kalau mobil yang dinaikinya bukan taxi. Soo Ah sama
sekali tak mengerti dengan semua yang dikerjakan dan dikatakannya.
Gerakan pria tersebut sangat cepat dan selalu melirik jam tangannya.
Detektif Jo terkesima dengan semua penjelasan Soo Ah.
Di sebuah jalan raya terlihat seorang pemuda sedang mengendarai motor.
Pemuda tersebut menghentikan motornya tiba-tiba ketika melihat
pengumuman dari kepolisian mengenai kasus penculikan dan pembunuhan.
Detektif Jo bergerak cepat. Awal penyelidikannya adalah menginterogasi beberapa supir taxi yang biasa beroperasi di Gimpo Internasional.
Detektif Jo hampir gila memikirkan kasus yang sedang ditanganinya,
ditambah dengan hadirnya seorang saksi baru bernama Kwon Gi Seob yang
dalam pandangan Detektif Jo sama sekali tak dapat membantu. Dari luar
ruangan detektif Jo, seorang teman menyemangatinya, namun bagi detektif
Jo, semangat yang diberikan temannya dianggapnya sebagai sebuah ledekan.
Detektif Jo mulai bertanya kepada Gi Seob semua hal yang diketahuinya.
Gi Seob hanya tertawa apalagi ketika menyadari kehadiran seorang
tunanetra yang menjadi saksi yang sama dalam kasus tersebut. Soo Ah yang
menyadari maksud dari tertawa Gi Seob menjadi marah dan menyuruh Gi
Seob untuk segera berbicara.
“kamu tahu, ini adalah kesempatan kita yang terakhir, jadi cepatlah berbicara” ucap Soo Ah tegas
“kamu jangan keterlaluan dan membuat hal-hal aneh” tambah Detektif Jo
“benar-benar menyedihkan, benar-benar aneh” ucap Gi Seob
“kamu sebenarnya tahu atau tidak tahu?” tanya Soo Ah tiba-tiba
“apa?”
“kamu tahu tidak?” tanya Detektif Jo. Batas kesabarannya sudah di ambang batas
“benar-benar lucu. Aku melihat kejadiannya dengan mataku sendiri” ucap Gi Seob dan tertawa
“kamu tahu, ini adalah kesempatan kita yang terakhir, jadi cepatlah berbicara” ucap Soo Ah tegas
“kamu jangan keterlaluan dan membuat hal-hal aneh” tambah Detektif Jo
“benar-benar menyedihkan, benar-benar aneh” ucap Gi Seob
“kamu sebenarnya tahu atau tidak tahu?” tanya Soo Ah tiba-tiba
“apa?”
“kamu tahu tidak?” tanya Detektif Jo. Batas kesabarannya sudah di ambang batas
“benar-benar lucu. Aku melihat kejadiannya dengan mataku sendiri” ucap Gi Seob dan tertawa
Detektif Jo berdiri dari kursinya dan menarik rambut Gi Seob. “kamu
ingin bagaimana hah, ayo keluar, aku tidak tahan dengan sikapmu lagi”
ucap Detektif Jo sementara Gi Seob berteriak kesakitan.
Seorang wanita setengah mabuk berjalan keluar dari sebuah klub malam.
Langkahnya tak beraturan dan sesekali oleng dan bahkan hampir terjatuh.
Sebuah mobil diam-diam membuntutinya dan berhenti di depannya. Wanita
tersebut memperhatikan mobil tersebut dan tanpa pikir panjang masuk ke
dalam mobil.
Sementara itu Soo Ah sedang mengetik sesuatu dari dalam buku yang
bertuliskan huruf braile. Bunyi Hp menghentikan kegiatannya sementara
waktu.
“yomseo, yomseo…. Kenapa tidak berbicara? Siapa ini?” tanya Soo Ah namun sipenelepon tak menjawab dan hanya terdengar hembusan nafas seorang pria.
“yomseo, yomseo…. Kenapa tidak berbicara? Siapa ini?” tanya Soo Ah namun sipenelepon tak menjawab dan hanya terdengar hembusan nafas seorang pria.
Sebuah Hp kembali berbunyi di tempat berbeda.
“benar-benar gawat. Aku tahu. Aku akan membereskan semua ini. Aku akan mengendalikan mereka” ucap seorang pria dan mengakhiri percakapannya. Disampingnya berbaring seorang wanita setengah baya yang tak sadarkan diri dan sebuah jarum suntik yang telah disuntikkan pada gadis tersebut. Sebuah ponsel berwarna putih dilemparkan ke luar kaca jendela dan beberapa detik kemudian hancur lebur tergilas mobol yang berseliweran di jalan raya.
“benar-benar gawat. Aku tahu. Aku akan membereskan semua ini. Aku akan mengendalikan mereka” ucap seorang pria dan mengakhiri percakapannya. Disampingnya berbaring seorang wanita setengah baya yang tak sadarkan diri dan sebuah jarum suntik yang telah disuntikkan pada gadis tersebut. Sebuah ponsel berwarna putih dilemparkan ke luar kaca jendela dan beberapa detik kemudian hancur lebur tergilas mobol yang berseliweran di jalan raya.
Detektif Jo dan Soo Ah masih melakukan penyelidikan. Detektif Jo kembali
menginterogasi beberapa sopir taxi dan merekam suara mereka yang
nantinya akan diperdengarkan pada Soo Ah. Soo Ah terus saja menggeleng
dan mengatakan “bukan” setiap Detektif Jo masuk ke dalam mobil dan
memberikan sebuah alat perekam berbentuk pena.
“sepertinya ini akan sulit” ucap Soo Ah ketika mereka makan malam di sebuah rumah makan
“Tapi kita akan mengungkap kasus ini” ucap Detektif jo dengan mulut penuh makanan
“benar” jawab Soo Ah optimis. Soo Ah dan Detektif Jo berencana untuk kembali berbicara dengan Gi Seob seusai makan.
“Tapi kita akan mengungkap kasus ini” ucap Detektif jo dengan mulut penuh makanan
“benar” jawab Soo Ah optimis. Soo Ah dan Detektif Jo berencana untuk kembali berbicara dengan Gi Seob seusai makan.
Di keremangan malam terlihat seorang pemuda sedang mencoret-coret poster
tentang pengumuman penculikan dan pembunuhan. Gara-gara poster tersebut
harinya menjadi berantakan dan harus berurusan dengan kepolisian.
Sementara dari kejauhan seorang pria sedang memperhatikannya.
Gi Seob memarkirkan motornya di depan sebuah toko. Mobil yang
mengikutinya juga melakukan hal yang sama. Setelah berpamitan pada
Bosnya, Gi Seob melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki dan
memasuki sebuah gang kecil dan sempit. Gi Seob sama sekali tidak
menyadari seorang pria yang membuntutinya karena saat itu dia sedang
berbicara dengan temannya di telepon.
=Flashback=
Malam dimana Soo Ah mengalami musibah, Gi Seob juga berada di tempat
yang sama. Bedanya Gi Seob berada beberapa meter dari tempat kejadian
tersebut dan tanpa sengaja melihat wajah pelaku pembunuhan saat melintas di hadapannya.
=Flashback end=
Selesai mengobrol dengan temannya di telepon, Gi Seob mulai menyadari
kehadiran seseorang di gang selain dirinya. Langkah kaki yang
didengarnya bukan hanya langkah dirinya melainkan sebuah langkah lain
yang terdengar berjalan dibelakangnya.
Gi Seob menghentikan langkahnya dan seketika langkah dibelakangnya pun
tak terdengar. Gi Seob kembali berjalan, langkahnya semula pelan dan
semakin lama semakin kencang. Pria yang mengikutinya pun mempercepat
langkahnya dan ikut berlari….
Terdengar nafas ngos-ngosan dari diri Gi Seob. Satu persatu pagar
dilompatinya dan berakhir dengan bersembunyi di sebuah bangunan. Bunyi
ponsel Gi Seob dari Detektif Jo mengacaukan segalanya. Pria tersebut
berhasil menemukan Gi Seob dan dengan gerakan cepat menyerang Gi Seob
dari belakang dengan sebuah batu bata. Pandangan Gi Seob perlahan-lahan
kabur namun dia masih bisa melihat wajah pemukulnya.
Sebuah suara wanita yang hendak membuang sampah mengentikan langkah pria
misterius untuk memukul Gi Seob hingga mati. Wanita tersebut terkejut
setengah mati saat mendapati tubuh Gi Seob berada di tumpukan sampah.
Sementara itu Detektif Jo dan Soo Ah yang baru saja sampai di depan
gang tempat kediaman Gi Seob terkejut saat mendapati sebuah mobil
ambulans dan beberapa polisi berkumpul.
“itu bukannya Gi Seob” ucap Detektif Jo saat melihat tubuh Gi Seob dibopong ke dalam mobil ambulans. Detektif Jo segera turun dan melihat kondisi Gi Seob dan meninggalkan Soo Ah sendirian di mobil yang tak menyadari kehadiran pria misterius yang selama ini mereka cari.
“itu bukannya Gi Seob” ucap Detektif Jo saat melihat tubuh Gi Seob dibopong ke dalam mobil ambulans. Detektif Jo segera turun dan melihat kondisi Gi Seob dan meninggalkan Soo Ah sendirian di mobil yang tak menyadari kehadiran pria misterius yang selama ini mereka cari.
Detektif Jo dan Soo Ah dengan setia menunggui Gi Seob di rumah sakit.
Detektif Jo kembali mengeluarkan sebuah pertanyaan kenapa sampai ada
orang yang ingin membunuh Gi Seob?
“mungkin karena dia ingin menjadi saksi” ucap Soo Ah
“mungkin karena dia ingin menjadi saksi” ucap Soo Ah
Detektif Jo akhirnya mengerti dengan semua yang terjadi pada Gi Seob.
Kedatangan Gi Seob ke kantor polisi yang dinilainya hanya untuk
bermain-main saja rupanya adalah benar-benar untuk memberikan kesaksian.
=To Be Continued=



















































ditunggu lanjutannya ^^
wahhh ternyata keren ni film kenapa di doramax264 ama MQ belum keluar ya wkkw, itu ibu pantinya yang jadi emanknya beo jin, yang jadi dektetktif si Do Mi yang di my wife is a gangster kalu lihat dia lucu, tumben mainnya nggak sama ahjusi LBS ya, biasanya dia main movie ama ahjusi lbs, smlm habis lihat movienya dia ama ahjusi *guling2
Wah seru, tp kasian adiknya tewas ya...ditunggu kelanjutannya...:)
ayoo dilanjutin sinop'a,,, penasaran nie..:)
fighting!!!!!!!!!!!!!!!
*aryla_lyla*
baru aja ntn.. di film bagus.. thank dewi
wah, baru ketemu nih pilem.
thanks recapsnya.