[Sinopsis K-Drama] Love Rain Episode 16

13 comments
Sinopsis Love Rain Episode 16

Aku pikir, semua orang tua juga akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan In-ha terhadap Joon. Sebesar apapun harapannya, sebesar apapun keinginannya, seorang ayah tidak akan pernah tega dan rela anaknya menderita karena keinginannya itu. Semua orang tua pasti ingin anaknya selalu bahagia. Aku udah punya anak? Belum, i don't have a family, yet. Tapi itu yang aku rasain, dan yang aku yakini. Ah, jadi kangen emak sama bapak di rumah..
Ha-na dan Joon berada di atas gedung. Joon mencium Ha-na, tapi Ha-na melepaskan Joon. Ha-na langsung pergi, tapi sebenarnya Ha-na masih ada di gedung. Joon berlari turun untuk mengejarnya. Joon menemukan Ha-na sudah di jalan raya. Joon bertanya apa yang sebenarnya Ha-na takutkan? Dengan mata yang berkaca-kaca Ha-na menegaskan kalau lain kali dia tidak akan pernah bertemu dengan Joon lagi. “Bahkan sekarang aku masih bertemu denganmu, merindukanmu, ingin memelukmu. Saat aku melihatmu terluka, aku juga terluka. Karena aku merindukanmu, aku ingin menjadi keluargamu.”kata Ha-na sambil menangis. Meskipun Ha-na sudah mengungkapkan isi hatinya dan Joon juga tahu bagaimana perasaan Ha-na sebenarnya, mereka tidak bisa bersama. Joon bertanya apa yang kemudian harus mereka lakukan? Bertemu orang lain untuk saling melupakan? Pura-pura tidak kenal saat bertemu di jalan? Ha-na menyetujui ide itu. Dia akan berpacaran dengan pria lain, jadi Joon juga harus melakukan hal yang sama, melupakan satu sama lain.
In-ha dan Yoon-hee membicarakan ulang tentang pernikahan mereka. In-ha membatalkannya, “Aku tidak bisa melepaskan Joon. Yoon-hee sedikit kaget saat In-ha berkata seperti itu. Tapi Yoon-hee akhirnya menyetujuinya. “Kau pria yang tidak bisa meninggalkan orang-orang di sekitarmu. Sama seperti saat dengan Dong-wook. Saat itu aku mencintaimu, saat ini juga aku masih mencintaimu. Jadi, sekarang aku berharap kau tidak bersedih lagi. Aku baik-baik saja.”kata Yoon-hee. In-ha sebenarnya berat hati mengambil keputusan ini, dia juga takut Yoon-hee jadi terluka. Yoon-hee pun berpikiran yang sama, sebaiknya mereka berpisah sebelum kondisi Yoon-hee semakin memburuk, meskipun Yoon-hee sebenarnya juga tidak rela melepaskan In-ha.
Keadaan ini memang menyakitkan buat semua orang. Yoon-hee, In-ha, Joon bahkan Ha-na. Joon berjalan sendirian di tengah keramaian. Hampir putus asa memikirkan apa lagi yang harus dia lakukan.
In-ha datang ke cafe Chang-mo dengan keadaan mabuk. In-ha bertanya pada sahabatnya itu, saat mereka muda, cinta adalah hal yang terpenting, kan? Tapi seiring berjalannya waktu dan tahun, hal yang lebih penting telah mengambil alih. “Keluarga, anak, putraku. Yoon-hee mengerti ini, tapi aku tidak.” Chang-mo bingung apa yang sebenarnya dibicarakan In-ha? In-ha malah berceloteh tentang Joon yang sangat berbakat, foto-fotonya sangat bagus dan cemerlang, “Setelah aku melihatnya, aku benar-benar tidak bisa terus berbohong seperti ini lagi. Tapi Yoon-hee, untuk melindungiku dari rasa sakit hati, sehingga aku tidak perlu merasa malu lagi. Aku benar-benar tidak ingin menyerah.”
Sun-ho minum-minum sendiri di tamannya, sambil berusaha memikirkan sebuah pertanyaan yang belum ada jawabannya. “Kalau itu aku, apa yang aku lakukan? Apakah aku akan menyingkirkan orang tuaku dan melarikan diri?”. Tiba-tiba ada suara nimpalin, “Kau tidak bisa melakukan itu!” Joen-sul tiba-tiba ada di belakang Sun-ho. Kaya peramal, Jeon-sul menebak kalau masalahnya adalah orangtua gadis yang Sun-ho cintai dan orang tua Sun-ho akan menikah? Sun-ho terbelalak kaget, tebakan Joen-sul hampir benar, “Itu tidak benar. Orang tuamu baik-baik saja, kan?”kata Joen-sul. Sun-ho kaget Joen-sul mendengar semua curhatannya.
Mi-ho datang, dia bertanya tentang Joon pada kakaknya dan Jeon-sul. Sun-ho berkata kalau Joon tidak ada di tempatnya. “Kenapa kau hanya menyukai Joon?”komentar Jeon-sul yang dibalas dengan lirikan tajam Mi-ho yang mengancamnya kalau saat ini dia amat sangat gak mau diganggu.
Ha-na sampai di rumahnya. Seperti biasa Tae-seong sudah menunggunya. Tae-seong bertanya kenapa Ha-na pulang sangat larut. Ha-na beralasan kalau dia salah naik bis, sehingga harus berputar-putar. Tae-seong mengajak Ha-na bicara, tapi dengan halus Ha-na menolak. Tae-song mengingatkan Ha-na, lain kali bahkan jika Ha-na tidak membiarkannya, dia masih akan terlibat dalam masalahnya. Ha-na tidak ingin itu terjadi, karena Ha-na tidak ingin kehilangan Sunbaenya. Tae-seong hanya ingin Ha-na bahagia, “Yang kau lakukan adalah mencemaskan kebahagiaan ibumu, mencemaskan Seo-joon, lalu bagaimana dengan kebahagiaanmu sendiri? Kenapa kau harus berada dalam hubungan seperti ini? Aku harus memberimu kebahagiaan.”. Ha-na menjawab bahwa dengan menjaga ibunya dan Joon berarti dia menjaga dirinya sendiri. Tae-seong jadi emosi mendengar perkataan Ha-na, “Akhirnya yang paling merasakan sakit adalah kau, kan?”. Ha-na tidak bisa lagi menjawab. Tae-seong menyuruh Ha-na mengatakan pada ibunya kalau mereka berdua berpacaran.
Saat masuk rumah, Ha-na tidak bisa menemukan ibunya, ternyata ibunya sedang sakit dan berada di kamar. Di saat yang sama, Chang-mo membopong In-ha yang sedang mabuk berat.
Ha-na merawat ibunya. Meskipun Yoon-hee menyuruhnya isirahat, Ha-na menolaknya. Ha-na beranggapan kalau ibunya stres menyiapkan upacara pernikahan. Yoon-hee tidak menjawab, hanya menyuruh Ha-na keluar.
Mi-ho mendatangai Joon di studionya saat Joon melakukan pemotretan. Mi-ho berkata kalau film semalam sangat bagus, kenapa Joon tiba-tiba menghilang. Joon menjawab kalau itu salah Mi-ho sendiri. Mi-ho bertanya lagi, “lalu dengan apa kau akan membalasnya?”. Joon mulai gak sabar dengan kelakuan Mi-ho. “Kau ingin kita berkencan?” pertanyaan Joon ini bikin semua orang melongo. “Aku mencari seseorang untuk berkencan. Kau ingin kita berkencan?”. Mi-ho masih melongo. Joon menyuruh Mi-ho berhenti membuat kekacauan di sekitarnya. Mi-ho baru tersadar dan langsung mengiyakan ajakan Joon.
Ha-na bertemu Sun-ho di suatu cafe. Ha-na ingin menjawab pertanyaan Sun-ho tentang taman. Ha-na juga memberitahukan keadaan ibunya yang kemarin sempat sakit.
Jeon-sul akhirnya bertemu dengan Joon. Mi-ho memperkenalkan Jeon-sul sebagai keponakan Chang-mo pada Joon yang memang tidak mengenali Jeon-sul. Joon marah saat tahu kalau Jeon-sul di situ bekerja sebagai tukang kebun, siapa yang memintamu bekerja di kebun? Siapa yang memberimu ijin? Jeon-sul menjawab kalau Sun-ho yang mempekerjakannya. Jeon-sul heran mengapa Joon sensitif sekali dengan masalah tukang kebun?. “Apa kau suka pada tukang kebun itu?”. Jeon-sul juga memberi tahu kalau Sun-ho dan tukang kebun itu (Ha-na) sedang bertemu di cafe di depan. Sun-ho langsung berlari keluar setelah mengatakan dia akan bertemu dengan tukang kebun itu.
Setelah mendengar itu Joon langsung kabur. Kemana? Ke cafe tempat Sun-ho dan Ha-na bertemu. Ditengah-tengah obrolan, tiba-tiba Joon dan Mi-ho datang ke meja Ha-na dan Sun-ho. Mereka berdua kaget. “Bukanhya kau berkata tidak akan datang ke tempat di dekat studio?”tanya Joon ke Ha-na dengan pandangan sinis. Melihat Joon dan Ha-na yang sepertinya memanas, Sun-ho menyuruh Mi-ho pergi dengan dirinya. Melihat Ha-na yang tidak menjawab, Joon memojokannya lagi, “Bukannya itu ucapanmu sendiri?”. Sun-ho membela Ha-na kalau dia yang memanggilnya karena urusan taman. Masih mengabaikan Sun-ho Joon berkata lagi, “Kau satu-satunya yang mengatakan akan berkencan dengan pria lain.” Mi-ho dan Sun-ho menanyakan kebenarannya. “Iya. Aku akan berkencan dengan pria lain.” Mi-ho menebak kalau pria itu adalah Tae-seong. Joon semakin panas saja mendengar nama itu disebut. Sun-ho tidak ingin terjebak diantara perang dingin, sepasang kekasih sehingga pamit untuk pergi. Ha-na mengajak Sun-ho pergi bersama, karena sudah tidak ada lagi yang dia ingin katakan.
“Buka cincinnya!” tiba-tiba Joon berkata. Ha-na menyembunyikan tangannya dan berkata kalau ini bukan urusan Joon. Joon berkata dengan sinis, bagaimanapun aku sudah membuang punyaku. Ha-na terkejut mendengarnya. “Baik, aku tidak akan datang ke sekitar sini.”kata Ha-na. “Aku harap juga demikian.”timpal Joon lalu pergi yang disusul oleh Mi-ho
Sun-ho berlari mengejar Joon, dia ingin setidaknya Joon berbicara baik-baik dengan Ha-na. “Jangan ganggu aku, tidak ada lagi yang ingin aku bicarakan.” Suasananya menjadi sangat tidak enak. Mi-ho mengajak Joon pergi, dan Ha-na juga berpamitan dengan Sun-ho. Melihat Sun-ho yang akrab dengan Ha-na, Joon jadi cemburu. Joon bertanya pada Sun-ho setelah ini dia mau pergi kemana lagi? (Joon takut kalau Sun-ho yang nganterin Ha-na pulang). “Jangan ganggu aku. Ini urusanku.”balas Sun-ho.
Saat Ha-na akan pergi, Sun-ho menahannya untuk makan dulu. Sekali lagi Ha-na menolaknya. Eh malah Joon yang mengajak mereka makan siang, mereka berempat! *nah loh*. Joon beralasan mumpung mereka berkumpul, sebagai adik dan kakak sebaiknya mereka makan siang bersama. Ha-na yang awalnya menolak, menerima tantangan Joon itu. “Tidak. Aku tidak ingin pergi!”kata Mi-ho. Mi-ho ingin makan berdua saja dengan Joon.




Tiba-tiba ada motor dengan kencang melintas dan hampir menyerempet Mi-ho. Joon menarik Mi-ho agar tidak tertabrak motor, tapi malah mengenai Ha-na. Ha-na membentur dinding di samping mereka, sikunya tergores cukup parah dan mengeluarkan darah. Joon melihat luka di tangan Ha-na ingin langsung menolongnya, tapi tiba-tiba Mi-ho mengeluh kakinya sakit. Mi-ho meminta Joon mengantarnya ke rumah sakit. Joon sempat ragu setelah melihat Ha-na, tapi akhirnya dia menggandeng Mi-ho pergi ke rumah sakit. Dengan nanar, Ha-na melihat Joon dan Mi-ho yang berjalan pergi.
Meskipun badan Joon sedang menggandeng Mi-ho, tapi pikirannya masih ada di Ha-na. Sampai-sampai Mi-ho kesel saat lampu penyebrangan sudah hijau, Joon tidak beranjak juga. Mi-ho melepaskan tangan Joon. Ternyata dia cuman pura-pura sakit. Mi-ho ngambek karena seharusnya mereka hanya makan siang berdua, dan Joon selalu saja mengacuhkan Mi-ho.
Ha-na diobati oleh Sun-ho. Sun-ho bertanya apa Ha-na sedih? “Joon seperti itu kalau dia panik. Dia pasti panik beberapa saat yang lalu. Melihat lukamu, aku yakin dia sangat cemas.” Ha-na tersenyum mendengar kata-kata Sun-ho itu. Ha-na pamit pergi, tapi tidak sengaja dia bertabrakan dengan Jeon-sul. Jeon-sul mengingat Ha-na sebagai gadis yang tempo hari menangis karena lagunya. Dia lalu mengejar Ha-na yang sudah berlari pergi.
Jeon-sul tidak berhasil mengejar Ha-na. Sun-ho datang dan bertanya apa Jeon-sul kenal dengan Ha-na? “Ha-na? Jadi dia tukang kebun itu?”tanya Jeon-sul. Jeon-sul memberitahu Sun-ho kalau perempuan itu menangis saat mendengar lagunya, dia penggemarnya. “Tidak mungkin. Kau bukan Joon.”kata Sun-ho. Jeon-sul ngomel, “Joon?? Jadi tokoh utama melodrama itu adalah dia dan Joon?. Sun-ho pergi tanpa tidak menjawab pertanyaan retoris Jeon-sul itu.
Jeon-sul : “Apa ini? Apa yang sedang terjadi? Ibunya dan ayah Joon akan menikah sehingga melodrama itu berubah jadi hebat. Lalu bagaimana tentang cinta Sun-ho untuk Ha-na dan cinta Mi-ho dengan Joon?”
Joon dan Mi-ho akhirnya pergi ke restoran. Mi-ho dengan antusias memesan makanan, sedangkan Joon hanya diam saja, memikirkan Ha-na sepertinya. Mi-ho mencoba menyuapi Joon dengan makanan kesukaannya. Tapi Joon udah bener-benar gak berselera sama sekali.
Ternyata Ha-na sudah menunggu Joon di rumah. Joon kaget melihat Ha-na, tapi dia mengacuhkannya. “Aku menunggumu karena kau membuatku kecewa dengan meninggalkanku seperti itu. Mengesalkan seperti itu.”kata Ha-na. Joon bertanya bagaimana dengan luka Ha-na. Joon ingin menyentuh tangan Ha-na, tapi Ha-na tidak mau tangannya disentuh oleh Joon. “Tidak apa-apa.”katanya. “Kau pikir kita benar-benar bisa putus? Logikaku tak jalan setiap kali aku melihatmu. Ayo kita melarikan diri saja!”kata Joon. Ha-na diam saja. Dia berbalik untuk pergi.
In-ha sedang membungkus sebuah kado ketika Joon datang dengan kondisi mabuk. Joon sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia menyerah, karena memang itu keinginan Ha-na. “Ini bukanlah karena cinta 30 tahunmu yang memuakkan. Apa masalahnya? Kau bahkan tidak bisa melupakannya.” In-ha merasa bersalah melihat keadaan Joon seperti ini. In-ha berkata meskipun itu sudah 30 tahun, tapi itu hal yang paling berharga untuknya. “Kau bahkan tidak pernah mengunjungi anakmu setelah kau bercerai. Tapi cintamu, sangat berharga bahkan kau tidak bisa menyerahkannya. Tolong lihat aku, karena cinta berhargamu itu, aku menjadi seperti ini.” In-ha hanya diam saja. (‘seperti ini’ yang dimaksud Joon mungkin bukan hanya tentang Ha-na, tapi juga tentang sikap ayahnya, dan ibunya, yang akhirnya membuat Joon tidak percaya akan cinta. Emang, yang paling menderita kalau ayah ibunya bercerai adalah anak). In-ha membenarkan Joon, dia egois karena demi mendapatkan apa yang dia inginkan dia mengorbankan apapun, “Aku tidak pernah ingin menyakiti perasaan orang lain.”
“Kalau itu yang kau inginkan, kau telah gagal karena semua orang telah tersakiti.”
In-ha menyelimuti Joon yang sedang tertidur. Menyesal melihat anaknya terluka seperti itu. “Bagaimana aku bisa mengulangi kesalahanku??”
Keesokan paginya, sebelum Joon pergi, In-ha meminta Joon untuk sarapan bersama. Joon menolaknya. In-ha berkata sudah melihat foto Ha-na yang diambil oleh Joon, foto itu sangat bagus. “Aku ingin minta bantuanmu. Cari waktu, dan ambil foto kita bersama, kau bisa melakukannya?”pinta In-ha. Di saat seperti itu, untuk Joon permintaan ayahnya adalah seperti menyiramkan air garam ke atas luka. “Kau ingin foto pernikahan? Jangan buat aku melakukan itu. Kau tidak punya hak seperti itu.” In-ha berkata, “Dari foto yang kau ambil, aku bisa merasakan besarnya cintamu untuk gadis itu. Jadi..” Belum selesai In-ha berbicara, Joon sudah memotongnya, “Jangan ikut campur urusanku. Itu tidak ada hubungannya denganmu. Jangan berlagak kau tahu segalanya.” In-ha hanya bisa diam melihat kepergian Joon begitu saja. (haduh, langsung aja Joon dikasih tau kalau pernikahan batal. Jadikan gak salah paham gini).

Salah satu pegawai kebun tempat Yoon-hee bekerja bertanya tentang rencana pernikahan Yoon-hee di salah satu taman di situ. Yoon-hee berkata kalau dia membatalkan menggunakan taman itu. Pegawai itu kaget mengapa tiba-tiba dibatalkan.
In-ha datang. Mereka berdua berbincang-bincang tentang masa lalu mereka. In-ha memberikan sebuah kotak berisi jam tangan kepada Yoon-hee. Yoon-hee berkata kali ini dia akan merawatnya dengan baik. In-ha meminta maaf kepada Yoon-hee karena membuatnya meninggalkan In-ha untuk yang kedua kalinya. “Cinta tidak harus berkata maaf, kan?”kata Yoon-hee. Dia lalu membaca surat yang ditulis oleh In-ha ‘Setelah 30 tahun, akhirnya aku bisa membalas suratmu. Tak peduli apa yang orang-orang katakan, bertemu denganmu adalah pencapaian hidupku. Terima kasih atas semua yang kau berikan padaku. Terima kasih karena kau telah mempercayaiku. Terima kasih karena telah mengingat kenangan berharga itu. Aku akan selalu menghargai kehadiranmu dalam hidupku. Dan juga, aku merasa sangat diberkati karena telah bersamamu. (notes:pemandangannya bagus bangeett...)
In-ha menyiapkan dokumen-dokumen. Sepertinya dia kan pergi jauh.
Yoon-hee mencoba jalan dengan mata tertutup. Dari belakang Ha-na datang dengan menutupkan tangannya ke mata Yoon-hee. “Tebak siapa?”. Yoon-hee bisa menebak kalau itu Ha-na. Mereka berdua berjalan-jalan. Ha-na bertanya tentang persiapan pernikahan ibunya. Yoon-hee berkata kalau In-ha sedang pergi ke Amerika. Yoon-hee ingin memberitahu sesuatu kepada Ha-na, tapi dia tidak bisa memberi tahukannya sekarang.
Ha-na mendapat pesan dari Joon, ‘Aku merindukanmu’. Ha-na hanya diam melihatnya. Joon berharap-harap cemas melihat ponselnya. Kemudian sms balasan dari Ha-na datang, ‘Aku juga merindukanmu.’ Joon ingin membalas sms Ha-na lagi, tapi dia mengurungkan niatnya.
Ha-na dan Joon bertemu dengan Yoon-hee. “Ha-na, Joon, kami memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Kami tidak akan menikah. Kami memutuskan untuk menjadi teman baik saja. Ini yang terbaik untuk kita berdua.” Ha-na tidak mengerti kenapa ibunya melakukan hal ini, padahal sebelumnya hubungan ibunya dengan profesor baik-baik saja. “Apakah ayah yang ingin melakukan ini?”tanya Joon. Yoon-hee menjawab kalau keputusan ini bukan sepenuhnya dia yang membuat.
Ha-na bertanya pada Joon, apa dia yang memberitahu ibunya tentang mereka berdua? Apa dia memberitahu ayahnya? “Tidak. Ayahku tahu dengan sendirinya.” Ha-na menyadari, pernikahan ibunya dengan ayah Joon batal karena mereka berdua. Ha-na ingin menjelaskan hal itu kepada ibunya, tapi Joon berpendapat kalau ibu Ha-na mungkin belum tahu. Lalu apa yang harus mereka lakukan?
“Bahkan jika orang tua kita menikah, kita tidak bisa saling menyerah, kan?”kata Joon. Mereka berdua sekarang berada di pantai. “Haruskah kita kawin lari?”tanya Joon. “Tapi bukankah mereka berpisah karena kita?” Ha-na menjawab pertanyaan Joon. “Tidak bisakah kita fokus pada hubungan kita, mulai sekarang! Ayo kita kembali bersama.” pinta Joon.
Ha-na berbincang dengan ibunya. “Saat aku memutuskan untuk menikah, aku memikirkan banyak hal. Aku juga memikirkanmu. Tapi, saat aku memikirkanmu, aku juga memikirkan keluargaku. Aku membuat Joon dan ibunya merasa tidak nyaman. Jadi aku membatalkan pernikahan. Itulah, ibu sudah tua. Bahkan jika kita tidak menikah, kita bisa menjadi teman.” Ha-na sedih melihat ibunya, dia merasa bersalah, “Maafkan aku, ibu. Aku.. jika aku bisa, aku akan membantumu mengambilnya kembali. Tapi..” Yoon-hee bertanya kenapa Ha-na meminta maaf kepadanya. Ha-na tidak menjawabnya.
Joon mencoba menelfon Ha-na, tapi telfonnya tidak pernah diangkat. In-ha kembali dari konferensinya di Amerika.
Hye-jung mendapat berita kalau pernikahan Yoon-hee dan In-ha batal. Tepat saat Hye-jung menutup telfon, Mi-ho datang. Hye-jung menanyakan kabar itu ke Mi-ho. Mi-ho kaget, “Kenapa? Apa karena Joon oppa?”. Hye-jung kaget, mengapa Joon disebut-sebut. Mi-ho langsung menutup mulutnya, karena sudah salah bicara. “Ada apa dengan Joon? Apa yang kau bicarakan?”tanya Hye-jung. Mi-ho bingung harus menjawab apa.
Joon masih bingung kenapa Ha-na tidak mau mengangkat teleponnya. Dia menyuruh Jo Soo memutar balik mobil mereka. Meskipun ada pemotretan, Joon menyuruh Jo Soo membatalkannya. Hal ini membuat Jo Soo benar-benar puyeng.
Ternyata mereka datang ke tempat Ha-na tinggal. Kalau untuk maslah ini, Jo Soo setuju sama bos nya 100%.
Joon mencari Ha-na di taman dan rumah kaca, tapi belum menemukannya.
Di rumahnya Yoon-hee sedang membaca, tapi tiba-tiba penglihatannya mulai kabur lagi, tiba-tiba dia tidak bisa melihat dengan jelas. Di saat yang sama, In-ha datang menemui Yoon-hee. Dan Hye-jung dalam perjalanan juga untuk menemui Yoon-hee.
Ha-na berada di jembatan, sendirian. Ponselnya bergetar, tapi Ha-na mengabaikanya. “Kau akan tetap mengabaikan panggilan dariku?”tanya Joon yang sedikit mengagetkan Ha-na. “Bagaimana aku menjawabnya? Apa yang harus ku katakan?”tanya Ha-na. Joon menyuruh Ha-na mengatakan apa yang ingin Ha-na katakan. Ha-na diam saja. Joon tidak sabar karena Ha-na diam saja, “Benar-benar tidak ada yang kau ingin katakan padaku?”.
“Aku ingin bersamamu.”kata Ha-na. Joon menghampiri Ha-na dan memeluknya. Ha-na juga membalas memeluk Joon. Dibawah, Hye-jung melihat dua orang yang saling berpelukan, tapi tidak menyadari kalau itu Joon dan Ha-na. Joon dan Ha-na berlari sambil bergandengan tangan. Senyuman juga terukir di wajah mereka.

-Bersambung-

Thanks to IDWS and DSS
written and image by ik@PelangiDrama
only posted on PelangiDrama
DON'T REPOST TO OTHER SITE/FANPAGE FB !!!!

13 Responses so far.

  1. wah aku baca'a pertengahan jd bingung :D

  2. iva says:

    Joon dan hana bisa tersenyum lagi :-)

  3. Anonim says:

    Smakin seru aj jlan cerita,lanjut episode 17.thanxs authors

  4. ai says:

    gak ada kata lain buat melukiskan drama ini "SO SWEET!!"

  5. Anonim says:

    Seru.seru.seru.thanks authors

  6. asik,. aku tunggu episode selanjutnya,. aku senang membaca sinopsis diblog ini,., krna sinopsis di blog lain tidak sebaik sinopsis blog ini...
    ^_^

  7. EmaAlkaff says:

    pst sekarang mslh'a sama ibu'a joon

    thanks author

  8. Anonim says:

    Wahh..ternyata udahh terbittt ^^

    ~Vinny~

  9. Agnezita says:

    suka banget dengan drama satu ini. terima kasih buat yang sudah menyediakan sinopsisnya. wlpn ak dah ntn komplit mpe seri 20, tetep masih baca sini juga karena kalo nda< terasa belum lengkap. :)

  10. Anonim says:

    pasaran klanjutannya.............tambah seru...............

  11. Lanjut buat sinopsisnya ya.. suka banget sama drama ini. moga akhirnya joon sama hana

  12. ayo min, lanjtuin ke 17 nya :)
    suka banget ama drama ini

Leave a Reply

RULES BERKOMENTAR:
*Jangan lupa Like dan ReTweet Postingan di atas.
*Gunakan bahasa sopan.
*Sertai nama dalam berkomentar.
*Sebelum tanya episode selanjutnya, lihat dulu INDEX Sinopsis, bila belum ada, harap bertanya baik-baik.
*Kami akan sangat menghargai komentar berupa support dan kritik yang membangun demi perbaikan kualitas Pelangi Drama

 
Pelangi Drama © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger . Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here