Kunci untuk membuka pintu keajaiban, ada di tangan tiap manusia. Namun, manusia yang menyadari fakta ini sangat sedikit. Keajaiban yang dapat mengubah takdir tidak selalu datang. Dengan bekerja keras untuk merubahnya dan dengan satu langkah kecil, suatu hari nanti, pintu keajaiban itu akan terbuka.
~Sinopsis Operation Love-Proposal Daisakusen Episode 1~
Rei memandangi dirinya yang berbalut gaun pengantin dihadapan cermin, sementara di tempat lain, Ken sedang tertidur pulas ketika alarm berbunyi. Jas dan catatan pernikahan telah ia siapkan. Ia pun terbangun dan segera bersiap menuju gereja.
Eri mendatangi Rei, ia menggodanya sambil memainkan gaun Rei.
“Aku... selalu berpikir bahwa aku pasti akan menikah sebelum Rei”.
“Aku juga, selalu berpikir, pastinya Eri yang akan menikah lebih dulu. Sebab waktu kuliah, Ingat tidak,kamu berjanji bahwa ketika kamu menikah, kamu akan memberiku karangan bunga. Dan aku berpikir, setelah aku mendapat karangan bunga dari Eri, aku akan menikah. Hari ini... Akankah kamu mendapatkan karangan bunga dariku?”
“Tentu saja! Tapi, walaupun aku tidak mendapat karangan bunga, aku pasti menikah”.
Ken mencoba naik taksi agar lebih cepat sampai,namun sayangnya jalanan sedang macet karena sedang ada lomba marathon. Akhirnya ia memutuskan untuk berlari menuju Gereja. Eri mendatangi Tsuru dan Mikio, ia menanyakan keberadaan Ken. Mikio menelpon Ken menanyakan posisinya. Ken pun berjanji akan datang secepatnya, maka dari itu ia memutuskan berlari lebih kencang mengalahkan pelomba marathon dunia, sambil membayangkan dirinya yang sedang berlari di permainan baseball yang disemangati Rei.
Di ruang ganti, ayah berlatih cara berjalan dengan didampingi Ibu. Rei tersenyum melihat kedua orang tuanya. Ia pun bergegas memakai sarung tangannya.
Acara sudah hampir dimulai, Ken masih belum datang, akibatnya Tsuru dan Makio mengomel. Dari kejauhan tampak Ken menuju mereka dan tepat setelah mengatakan dirinya ketiduran, Ken pingsan. Akhirnya Tsuru pun menggendong Ken ke dalam gereja.
Rei di gandeng ayahnya menuju altar, suasana sangat khidmat. Ken berdiri di sisi gereja sambil bergumam dalam hati,
“Sejak pertama kali aku bertemu Rei di SD, sampai sekarang... berapa lamakah waktu telah berlalu?”
Rei tersenyum pada Ken, begitu juga Ken, Tangan Rei mulai melepaskan lengan ayahnya. Tsuru menarik Ken mundur, lalu pengantin pria, Tada-san maju untuk bersiap digandeng oleh Rei. (hahaha ternyata nikahnya ga sama Ken) dan Ken rupanya menjadi seksi publikasi, ia sibuk mengambil gambar pernikahan. Pendeta mulai memanggil kedua mempelai, Ken pun bergumam sendiri dalam hati,
“Rei selalu dekat denganku. Aku punya waktu yang tak terbatas untuk menyatakan perasaanku. Maka, mungkin aku selalu mencari, waktu yang tepat untuk menyatakannya”.
Pendeta membacakan janji pernikahan kemudian disanggupi oleh kedua mempelai. Di sisi lain gereja, seorang pria memperhatikan jalannya upacara pernikahan,“
Seseorang yang engkau nikahi, bukanlah orang yang sangat engkau cintai.
Tetapi yang kedua. Ada dugaan orang-orang yang mengatakan hal itu, adalah untuk menghibur diri mereka sendiri. Tapi apakah orang yang anda pacari adalah orang nomor dua yang paling anda cintai? Siapa yang bisa mengetahuinya? Namun, satu hal yang pasti. Saat anda akan kehilangan orang yang paling anda cintai dalam hidup anda. Ketika anda akan berpisah dengannya, maka tepatnya pada saat itu... Anda menyadari bahwa dialah orang yang paling anda cintai. Namun semua sudah terlambat”.
Ken memperhatikan setiap detil prosesi pernikahan sambil terus bergumam,
“Hari ini Rei menikah. Hari ini, orang yang paling aku cintai di dunia ini, menikah dengan pria lain”.
Setelah prosesi pemakaian cincin, pendeta menyuruh kedua mempelai berciuman. Ken terhenyak melihat Tada-san yang mencium Rei. Wajahnya terlihat sangat sedih, dan pria tadi pun menertawakan Ken. Sementara itu Rei tersenyum bahagia bersama Tada-san.
Kedua mempelai melemparkan bunga dan kebetulan Eri yang menangkapnya. Ken tidak lepas memperhatikan Rei. Eri mengatakan kalau akhir tahun ini, ia harus menikah sambil memandang ke arah Mikio. Yang disindir hanya bisa diam saja. Tsuru justru bersemangat menawarkan diri agar dinikahi Eri.
Selanjutnya, MC melakukan penerbangan balon parasut, Mikio, Tsuru, dan Ken berlari mengejar percahan parasut tersebut, yang katanya terdapat harta karun. Eri tertawa melihatnya, Rei menghampiri Eri sambil tertawa, ia memandangi Ken sambil teringat Ken yang sedang berlari dalam perlombaan baseball.
“Jadi bernostalgia ya? Melihat mereka bertiga berlari. Mereka terbiasa seperti itu ya?”
“Ya.”
Ternyata parasutnya melewati dinding, ketiga pria itu pun melintasi dinding dan ternyata si parasut di tangkap oleh anak kecil. Tsuru memohon kepada si anak agar memberikan padanya. Ken menyarankan Tsuru merayu menggunakan permen. Si anak kecil justru nyerocos tak karuan, kemudian pergi meninggal ketiga pria malang.
Acara selanjutnya adalah kata sambutan dari guru mempelai wanita, bukannya mendengarkan sambutan sang guru, Ken dan Mikio justru asyik membicarakan keanehan guru tersebut. Rei tertawa mendengar sambutan sang guru yang memuji dirinya, tak sengaja matanya berpandangan dengan Ken. Mereka pun saling pandang salah tingkah. Namun Tada-san memanggilnya sehingga ia kembali sibuk berbicara dengan Tada.
Selepas acara sambutan, Mikio dan Ken berbicara di luar, Mikio sibuk memuji Rei, dengan malas2an Ken menanggapinya. Tsuru menghampiri mereka berdua dan mengajak masuk karena acara makan hamburger akan segera tiba. Mikio berlari mengikuti Tsuru sementara Ken memilih tetap di tempat. Sambil makan burger Tsuru masih saja mencoba mendekati Eri.
Setelah Ken duduk merenung sambil merokok, kemudian masuk memandangi Tada. Rei menyapanya dan menanyakan apakah dirinya cantik menggunakan gaun pengantin. Ken terhenyak.
“Bagaimana? Apakah kecantikanku mengejutkanmu?”
“Pakaiannya sangat cantik,tapi aku tidak tahu tentang pengantin yang memakainya.”
“Kalau kamu selalu seperti itu, kamu tidak akan pernah menikah.”
“Itu urusanku.”
“Oh iya, aku tunggu sambutannya ya!”
“Oke, tapi mana bayarannya?”
“Kamu kejam.”
Tada-san memanggil Rei, sehingga Rei meninggalkan Ken. Dan MC pun mulai menyebutkan acara selanjutnya, “Dan sekarang, teman dekat dari mempelai wanita sejak SD. Sebagai tambahan, dia juga murid dari mempelai pria selama kuliah. Tuan Iwase Ken, aku yakin kamu punya sepatah dua patah kata untuk kami”.
Ken menuju podium dengan grogi, Tsuru menyemangatinya dari jauh.
“Tada-san, Rei-san,Selamat atas pernikahannya! Aku adalah teman sekelas Rei sejak dari SD. Kami selalu bersama di sepanjang waktu kami selama menjadi pelajar. Kemarin, ketika aku membuka album kelulusan SD. Di bawah kolom "impian masa depan", dia telah menulis, "Aku ingin menjadi mempelai wanita yang cantik." Yaah, apakah dia sekarang cantik atau tidak, ini patut dipertanyakan.”
“Dia super cantik!” sela Tsuru.
“Paling tidak, impiannya sejak SD terpenuhi, sebagai sahabat, itu membuatku sangat bahagia. Sesuatu seperti, ketika makan siang, dia tertawa terbahak-bahak, sehingga susu keluar dari hidungnya. Atau ketika tour sekolah, dia mengambil bus yang salah, kemudian panik. Atau ketika menjadi konduktor pada konser paduan suara, karena terlalu bersemangat dia terjatuh dari panggung. Dia punya kekurangan,tapi.. Dia orang pertama yang selalu memikirkan sekitarnya, dan menjadikan dirinya nomor dua. Walaupun dalam keadaan sulit, dia tidak membiarkan senyumnya menghilang. Bagaimanapun juga, dia memikirkan teman-temannya lebih dari siapapun. Dan yang akan aku katakan selanjutnya adalah, waktu yang telah kami habiskan bersama, amat sangat menyenangkan. Sungguh... Tiba-tiba, aku ingin menangis. Sosok Rei dengan baju pengantin, terlalu indah untukku. Sejujurnya, aku rasa... Selamat... Aku harap kalian berbahagia selamanya.”
Rei terdiam mendengarkan pidato Ken. Ia sebenarnya ingin menangis. Semua teman2nya pun terdiam.
MC membacakan acara selanjutnya, “Semuanya, coba lihat ke sini! Kedua mempelai akan menyalakan obor. Yang menyalurkan api ke lilin ini. Lilin ini menyala dengan cinta dari kedua mempelai. Lihatlah! Mohon tepuk tangannya yang meriah.”
“Dan sekarang, tolong perhatiannya ke slideshow berikut ini. Slideshow ini dipersembahkan dari hati yang terdalam oleh sahabat karib mempelai wanita, Oku Eri dan sahabat karib yang lain, Enokido Mikio, yang sekarang bekerja di perusahaan Visual Art Production.”
Dan mulailah memorial foto-foto Rei diungkap, mulai dia bayi, masa balita, kepindahannya saat SD yang membuatnya bersahabat dengan Ken. Tsuru menggoda Ken ketika ada foto masa kecilnya yang jelek.
“Dia selalu berada di sisiku sepanjang waktu. Kenapa sekarang bukan aku yang berada disisinya? Mengapa kami, begitu jauh?”
“Akhirnya, aku tidak bisa melakukan apapun untuk Rei. Aku tidak bisa membuatnya tertawa. Aku tidak bisa membuatnya bahagia. Bahkan,aku tidak bisa menyatakan perasaanku kepadanya.”
“Lagi dan lagi, aku yang lemah di masa lalu tergambar di layar itu. Dan aku sangat marah dengan diriku sendiri.”
“Waktu itu, untuk pertama kalinya, aku melihat Rei menangis. Waktu itu, aku berhenti berlari. Mungkin jika.. Mungkin jika aku bisa menunjukkan sisi baik dari diriku. Dapatkah keadaan berubah? Dapatkah aku berada di sisi Rei? Aku ingin memperbaikinya. Kembali ke masa itu. Aku ingin memperbaikinya. Sekali lagi. Sekali lagi. Sekali lagi.”
Tetiba ruangan menjadi gelap, sebuah suara muncul,dan seluruh aktivitas di ruangan itu membeku.
“Oscar Wilde pernah berkata, Pria ingin menjadi cinta pertama dari wanita, dan wanita ingin menjadi cinta terakhir pria”.
“Kamu?”
“Menurut fakta, kamu adalah pria, tapi kamu ingin menjadi cinta terakhirnya. Walaupun keadaan sudah seperti ini, kamu masih belum menyerah sepenuhnya. Apakah aku salah?”
“Anoo. Aku tahu apa yang akan kamu katakan. Jika aku bisa, aku ingin kembali ke masa itu, dan memperbaiki hidupku.”
“Kamu ingin menjadikannya milikmu.
“Iya sih, tapi.. “
“Bagaimana jika kita melakukannya? Kamu kembali ke masa lalu, dan sampai waktu foto itu diambil,lakukanlah lagi sehingga tak ada penyesalan.”
"Melakukannya lagi?”
“Ah, aku punya dua peringatan untukmu. Ada batas waktu. Apakah kesempatan ini efektif atau sia-sia, itu tergantung bagaimana kamu menggunakannya. Atau, masa lalu atau masa kini, tak ada yang berubah.”
Ken penasaran dengan pria yang tadi mengajaknya mengobrol, ia pun menanyakan asal usul si pria itu. Pria itu mengaku sebagai Yosei ‘peri’ yang hidup di dalam gereja itu. Ken terkejut bukan main, namun si Yosei menawarkan sekali lagi apakah Ken ingin kembali masa lalu. Ken pun menyanggupi. Dan taraaaa, Ken melintasi waktu kembali masuk ke dalam memori foto itu.
Saat itu baru saja acara lomba baseball, Tsuru membangunkan Ken yang pingsan, setelah memastikan Ken benar2 sadar, mereka pun kembali memasuki lapangan.
“Riiii-shuuuu! wasshoi,wasshoi!”
Ken masih tak percaya dirinya kembali ke masa pertandingan baseball kualifikasi Koushien. Ia melihat ke seliling, di sana terdapat Rei dan Eri yang sedang menyemangatinya, para penonton yang bersorak untuk kemenangan mereka.
Ken memastikan pada Tsuru yang ada di sampingnya.
“Apa yang kamu maksud "apa ini"? Kenapa kita ada di sini? Semenit yang lalu kita berada di WeddingHall”
“Yeah, pernikahanku dan Eri yang megah... Apakah kamu bodoh! Apa yang sedang kamu bicarakan? Apakah kamu tidak mau menang? Selisihnya cuma satu poin di antara mereka dan kita, ini adalah keajaiban di sejarah klub ini. Ada apa? Mukamu merah. Kamu baik-baik saja?
“Ah, aku mengerti. Aku minum terlalu banyak tadi.”
“Ohh, minum apa?”
“Bir, man! Biiir!”
“Apa yang kamu maksud dengan bir? Ayo beri semangat! Lihat! Ayo beri semangat! GOOO! MIKIOOO!”
“
Oke, jadi ini bukan tahun 2007 ya.”gumam Ken menyadari
missunderstandingnya bersama Tsuru tadi.
Di lapangan tampak Mikio mencoba memukul bola dan strike. Pelatih memanggil Ken, ia meminta Ken menyampaikan pesan pada Mikio.
“Iwase! Sampaikan pesan ke Mikio! Pertama, santaikan bahumu dan ambil nafas yang dalam”. Ken pun mengambil nafas dalam dalam, namun pelatih malah memukul kepalanya, Ken pun mengaduh.
“Bukan kamu! Jangan mengayun terlalu keras, cukup kena saja.”
“Oke.”
“Pergi sana, cepat!”
Ken pun berlari ke tengah lapangan menghampiri Mikio,“Mikio.. Good Morning Anyeong Haseyo!”
“Cepatlah, ada apa?!”
“Angkat kedua tangan! Lenturkan badanmu! Ambil nafas dalam-dalam! Ina Bauer!”
“Apa? Strategi apa itu?”
“Serius kamu tidak tahu Ina Bauer?”. (Tehnik Ina Bauer digunakan oleh pemenang skating Arakawa Shizuka pada Olimpiade 2006)
“Siapa itu? Murid pindahan?”
“Jadi aku benar-benar kembali ke masa lalu ya..” gumam Ken ngoceh sendiri.
“Kembali ke masa lalu?”
Pelatih yang melihat percakapan aneh Mikio-Ken,akhirnya menyuruh Ken kembali ke bangku cadangan. Dan Mikio masih bingung dengan apa yang disampaikan Ken tadi. wkwkwkwk
Di bangku penonton, Eri memuji Mikio, Rei menanggapi Eri dengan kesal.
“Pitchernya, keren ya?”
“Ya, Mikio, pasti bisa memukulnya”
“Bukan itu!”
“Kamu bicara apa sih?”
“Aku bicara tentang orangnya. Kalau saja dia memanjangkan rambutnya. Aku kira jadi tambah keren,iya kan?”
“Ayo kembali menyemangati,oke?”
“Yay! Kereeen! Lihat sini! Sebelah sini,sini! Whooo! MIKIO! Kamu bisa! memukulnya!”
“Striiiikee... Batter Out!!” teriak wasit, Eri dan Rei terdiam, Mikio kembali ke bangku cadangan menghampiri Ken. Tsuru menyayangkan Mikio yang strike out.
“ Ken.. Sebelumnya "Inna Bammah" apa itu?”
“Oh itu, walaupun 100orang menungganginya, itu bukan maasaa...” sela Tsuru
“Ayo beritahu aku!
“Kamu pasti akan mengerti nanti.”
"Nanti?”
“Dalam 5 tahun, kamu pasti akan mengerti.”
“Itu terlalu lama?”
“Ya! Beritahu sekarang!Sekarang!” timpal Tsuru
“Ar-a-ka-wa Shi-zu-ka,oke? Arakawa Shizuka!” gumam Ken sambil memukul kedua sahabatnya dengan toa.
“Siapa itu?” tanya Mikio.
Dan tibalah pergantian pemain, pelatih meminta Ken masuk lapangan. Ken terperangah, ia tak percaya dirinya akan jadi pitcher.
“Memukul?”
“Ya. Lalu kamu ke sini untuk apa?”
“Pemukul No. 9, Nezu Shigeto-kun, diganti Iwase Ken-kun. Iwase Ken-kun. Nomer 14.”
Kamu kembali ke masa lalu, lakukan lagi, dan kamu tidak punya penyesalan apapun.Waktunya terbatas. Apakah kesempatan ini efektif atau sia-sia tergantung dari bagaimana kamu menggunakannya.
Ken memasuki lapangan, ia menyiapkan posisinya, di kursi penonton tampak Rei begitu mengkhawatirkan Ken. Ia mencuri pandang terhadap Eri kemudian menyemangati. Ken memandangi Rei. Mereka pun saling pandang, namun Tsuru datang mengingatkan kalau dirinya akan memukul bola sehabis Ken.
“Ken! Whoa! Hey!” Setelah kamu giliranku, jadi jangan sampai strike out. Sebab memutar balik yang dramatis menjadi kemenanganlah yang membuat kita menuju Liga Utama.”
“Sudah lama aku tidak memegang pemukul” gumam Ken dalam hati.
“Ayo cepat!” teriak wasit.
“Ya. Maaf.”
“Ken-zou! Apa yang akan kamu lakukan kalau kamu sedang gugup? Kamu perlu lebih santai. Atau kamu tidak akan bisa memukul homerun” ucap Rei dari atas bangku penonton. Ken memandangi Rei dengan seksama. Pelatih mulai memelototi Ken yang tak kunjung memukul bola.
Eri dan Rei mulai khawatir.
“Bisakah Ken memukulnya?” tanya Eri.
“Ya, kita harus tetap berharap kan?” ucap Rei sambil mengenggam erat jimatnya.
“
Aku agak sedikit ingat tentang hal ini. Oke, kita mulai!”
gumam Ken sambil mengingat2 kejadian tempo dulu.
“
Lemparan pertama adalah lemparan cepat ya? Lemparan kedua, agak keluar, iya kan?”
“Baaaaaalllll..” teriak wasit.
“
Mmm,ingatanku tidak buruk juga. Artinya... Lemparan ketiga... Lengkungan ke dalam yang manis. Aku jenius!”
Bola lemparan Ken terbang jauh, ia berlari sekuat tenaga, Rei dan Eri tampak bahagia sekali.
“
Semua yang aku lakukan sejak pagi ini adalah berlari. Enam tahun yang lalu, juga, aku tahu aku dapat memukul pada lemparan ketiga. Oh iya, aku ingat! Pertandingan ini, Tsuru strike out dan kami kalah! Artinya.. Kalau seperti ini lagi, tidak akan ada yang berubah. Wajah sedih Rei. Aku yang tak berguna. Tidak akan berubah”.
Dan sayangnya bola lemparan Ken tertangkap lawan, ia berusaha lari sekuat tenaga menuju base terakhir, Rei semakin erat mengenggam jimatnya sambil mengamati Ken. Akhirnya Ken tak berhasil menyentuh base terakhir lebih dulu. Dan wasit mengatakan “OUT!” pertandingan pun selesai. Rei terduduk lemas di bangku penonton.
Tsuru menghampiri Ken dengan emosi, “Hey, Ken. Kenapa kamu terus berlari? Kenapa kamu tidak menyerahkannya padaku? Kamu seharusnya tetap di base ketiga, dan membiarkan aku memukul, kan?”
“Tidak, tentang itu..”
“Bagaimana aku bisa masuk Liga Utama? Jawablah Ken?” ucap Tsuru sambil mengguncang2 tubuh Ken.
Mikio mendekat dan mengangkat Tsuru menjauh dari Ken, Tsuru meronta minta dilepaskan, Ken justru ikutan mendekati Tsuru,
“Yo, yo, yo, yo! YO! Guys, kalian jangan bilang siapa-siapa! Walaupun aku berhenti di base ketiga, pada akhirnya kita tetap kalah” ucap Ken.
“Apa maksudmu?” tanya Tsuru heran.
“Tsuru... Kamu strike out.”
“Wha?! Bagaimana kamu bisa tahu?”
“Benar, sungguh, sungguh.”
“Sial, kamu mencoba menyalahkanku atas kesalahanmu ya?”
“Ini bukan kebohongan!”
“Tentu saja, jadi kalau ini bukan kebohongan, lalu apa? Lelucon Amerika?”
“Percayalah! Ya?”
“Terus saja bicara, aku akan memukulmu! Lelucon Amerika apanya! Kamu seharusnya tahu kapan berhenti!”
“Sungguh, Sungguh,Sungguh.”
“Kamu sialan!”
“Aku ini datang dari masa depan! Di waktu lampau... Aku melihat dengan mataku sendiri kamu strike tiga kali.”
Tsuru yang merasa omongan Ken mulai ngaco pun merayu Ken agar berhenti bicara.
Di luar dengan ceria Eri mendatangi Rei yang sedang mencuci handuk pemain,
“Jyaan! Aku mendapat bola bertanda tangan dari pitchernya.”
“Apa ada yang salah dengan cowok yang kuat?”
“Apapun yang aku katakana padamu adalah sia-sia. Ken sangat tertekan. Dia menutupi kepalanya dengan handuk seperti ini.” ucap Eri sambil mempraktekkan cara Ken menutupi kepalanya saat itu.
“Kalau kamu ingin melakukan sesuatu, kamu seharusnya menyiram kepalanya dengan air.”
“Tidak apa-apakah? Tidak mengatakan seseuatu kepadanya.?”
“Kenapa?”
“Sebab kamu kelihatannya mengkhawatirkannya.”
“Tidak ada yang harus dilakukan untuk si bodoh itu.”
“Apakah kalian ini dekat atau jauh, aku tidak pernah tahu.”ucap Eri penasaran.
“Kami tidak dekat dan tidak juga jauh. Kami hanya selalu bersama-sama sejak SD.”
“Benarkaaah??”
“Dan kami tidak lebih dan tidak kurang dari itu.”
“Kalau kamu lebih berterus terang seperti aku, kamu pasti akan 100 kali lebih bahagia.”
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku.” ucap Rei kesal.
Tsuru menangis di sisi lapangan, ia menyusung undukan tanah, Mikio menggodanya.
“Kenapa? kamu mau bawa pulang itu?”
“Kalau ini Turnamen Koushien aku bisa mengerti, tapi.. “
“Kita kalah, dan bagaimanapun juga, ini tanahnya! Maksudku, sekopnya? Kamu telah menyiapkannya dari awal.”
“Kamu bodoh!
“Kita adalah laki-laki!Kita harus siap untuk yang terburuk sekalipun! Lihat Socrates!” ucap seseorang menimpali.
“Wha--? Mencari emas??Tidak, tidak, tidak..” tanya Mikio sambil menghampiri pria itu yang ternyata rekan baseballnya.
“Socrates!” ucap pria itu.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Mikio
“Aku mengumpulkan keringat dan tangisan dari pemain muda baseball.”
“Ha?”
“Batu yang tertinggal di saringan ini. Adalah penyesalan dan keluhan yang tertinggal dari para pemain.”
“Aku terkesan.” ucap Mikio
“Oke guys. Kita sudah kalah, ini tidak ada gunanya lagi kan? Dibandingkan dengan tanah yang ada di sini, Menang dan kalah adalah hal kecil.” ucap Tsuru bijaksana yang membuat Mikio tersadar dari kegeje-an nya. Wkwkwk.
Ken tiduran di sisi bangku penonton, “
Walaupun aku melakukannya lagi, inikah hasilnya? Walaupun aku kembali ke masa lalu. Pada akhirnya, aku tetaplah aku?”
Rei melihat Ken yang tak bersemangat, ia segera menghampirinya dan bersikap seolah sebagai wartawan.
“Whaaa--? Apakah kamu,Iwase Ken, iya kah? Pemukul terakhir, yang out sehingga kalah di pertandingan? Iya kan? Kamu kan? Apakah boleh jika aku mewawancaraimu?”
Ken bangun dari tidurannya, “Ada apa?”
“Walaupun pertandingannya telah berakhir, kamu tetap lemas, apakah kamu capek? Atau, apakah kamu terlalu malu?”
“Tidak dua-duanya.”
“Ketika final turnamen SMP, kamu juga pemukul terakhir bukan? Apakah kamu malu karena kalah disebabkan olehmu?”
“Kamu menyebalkan!” seru Ken.
“Pertandingan berakhir dengan hasil mengecewakan, tapi.. Suatu hari, apakah kamu berpikir pada akhirnya kamu akan bahagia dalam hidupmu?”
“Eh?” tanya Ken heran.
“Apa yang terjadi? Kemenangan Meyakinkan di Turnamen Baseball Nasional! oleh Manager. Ini adalah wawancara dengan si pendiam, dan berperilaku buruk. Iwase-san!”
Rei berhenti bertindak seolah-olah sebagai wartawan, ia berjalan membelakangi Ken,
“Seharusnya aku yang benar-benar sedih, sebagai Manager. Sebab, hari ini adalah hari terakhir aku menjadi manajer tim baseball. Untuk kemenangan di pertandingan ini, aku pergi berdoa ke kuil di Chiba. Untuk pergi saja butuh waktu 2 jam. Dan aku menyumbang 500yen ke kuil. Menulis permohonan dan membeli jimat keberuntungan. Tidak ada satupun yang berhasil. Tapi, kenapa kamu terus berlari? Aku sangat terkejut. Karena di masa yang lalu, Kenzo, tidak pernah bergerak walaupun di masa yang kritis. Tapi.. Hari ini kamu bergerak dan berlari. Kenapa?” ucap Rei sambil melepaskan spanduk di bangku penonton. Ken menghampiri Rei, ia membantu melepaskan ikatan spanduk.
“Sebab aku telah berjanjikan?”
“Eh?”
“Kepadamu... ketika menulis itu. Aku berjanji kepadamu. Aku berjanji bahwa aku akan membawamu ke Koushien.
“Walaupun kamu berjanji, tapi kamu kalah di babak pertama, lalu kamu mau bicara apa lagi?”
“Yaa.. tapi..”
“Kosakata Inggris. Tanggal-tanggal sejarah. Kamu tidak ingat semua itu. Tapi kamu ingat hal-hal sepele seperti itu. Susu keluar dari hidung kamu sewaktu SD, dan masuk bus yang salah ketika studi tur. Oke, sampai kapan kamu mau membicarakan hal itu?”
“Aku akan selalu membicarakannya. Selamanya. Aku berjanji. Aku akan membicarakannya selamanya.”
“Kamu menyebalkan. Tapi, kamu tahu.. Ketika kamu berlari ke home base, Aku tidak berfikir itu sebagai momen terakhir. Aku tidak pernah ragu, kamu pasti bisa melakukannya. Aku percaya padamu. Walaupun sejak kita masih kecil, kamu selalu mengecewakanku. Aku tidak tahu kenapa, tapi.. Kenzo.. Yang bodoh, lambat, dan lugu.. Dan selalu kaku. Baseball manager, Yoshida Rei. Dengan pengunduran dirinya hari ini, tidak ada penyesalan. Sampai hari ini, Dari hati yang terdalam, terima kasih atas kerja kerasmu selama ini”.
Ken terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Rei, ia mencoba meresapinya. Sesuatu yang tak dilakukannya jaman dulu.
Tetiba muncullah Eri,
“Rei! Mereka mau berfoto bersama, dan semuanya sudah berkumpul.”
“Aku segera ke sana.”
“Kenzo! Kamu akan terlambat lagi.” ucap Eri sambil melempar topi tepat mengenai hidung Kenzo.
“Sakit tahu.. Bodoh!” ucap Ken.
Rei segera menghampiri Eri dan meminta maaf, Eri mulai menggoda Rei,
“Jadi apa yang kalian bicarakan?”
“Tidak ada.” ucap Rei pura-pura.
Dan mereka pun akhirnya berfoto bersama, dan bersamaan dengan sinat blizz, Ken kembali ke gereja. Semua tamu undangan tertawa, Mikio, Tsuru sibuk membahas perihal leucon Amerika. Tada-san tersenyum melihat foto Rei. Namun ada yang berbeda, ekspresi Rei dalam foto tadi berubah menjadi lebih ceria. Ken melihat ke arah Rei yang tertawa ke arahnya. Ken mengambil udang sisa Yosei tadi untuk meyakinkan kalau dirinya tak bermimpi.
Tetiba ruangan kembali gelap, “Kamu...” panggil Yosei.
“Dia muncul..” seru Ken kaget.
“Kamu pikir dengan hanya merubah dari wajah sedih ke wajah tersenyum dapat merubah keseluruhan hidupkamu?”
“Yaa, tidak, tapi..”
“Apakah kamu tidak bisa membuat dengan sedikit dramatis, sesuatu yang agak memalukan atau yang lain. Apakah kamu tidak bisa berpikir yang lainnya? Apakah itu penampilan terbaikmu?”
“Aku tidak berpikir bahwa itu akan benar-benar berubah.”
“Sejarah membuktikan bahwa membuat alasan adalah keahlian manusia.”
“Tolonglah, berikan aku kesempatan sekali lagi! Aku akan melakukan yang terbaik kali ini.”
“Itu mustahil.”
“Jangan berkata seperti itu! Tolonglah!”
“Itu mustahil, tidak ada kedua kali.”
“Pastinya ada yang bisa anda lakukan, Tolonglah!”
“Mustahil untuk kembali pada foto yang sama dua kali.”
“Kalau fotonya berbeda,bisakah? Artinya, jika fotonya berbeda, aku bisa kembali lagi?”
Yosei tersenyum. Ruangan kembali terang, slide show menuju foto berikutnya.
“Ini, foto apa ini? Dan ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat sangat marah? Walaupun Rei berekspresi seperti itu, aku tidak akan membiarkannya berakhir seperti itu.” gumam Ken ketika melihat slideshow.
Bersambung....
Catatan author: saya menulis ini dalam kondisi berada di garis mati. Saat waktu benar2 terhimpit, jadi mohon maaf kalo ga maksimal. Cerita drama ini gokil banget tapi apa boleh buat sub, audio, dan video yang saya donlot ga match suka macet2 di tengah jalan, alhasil meraba2 deh nulisnya. Jadi kalo ada percakapan yang ga sesuai atau salah, kasih tahu ya.
Thanks for reading, don't forget to leave comment....
DO NOT REPOST TO OTHER SITE/FP !!!