[Review K-Drama Special] Don't Worry I'm a Ghost

8 comments
Don't Worry, I'm a Ghost-Park Shin Hye
Annyeonghaseyo Yeorobun...
Adakah yang merindukan dewi???
Ya udah dech kalau g ada, hehehehe....

Judul Film : Don't Worry I'm a Ghost
Judul Lain : Geukjongmaseyo, Gwishinibnida
Sutradara : Lee Eun Jin
Penulis : Hwang Da Eun
Jumlah Episode : 1
Tanggal rilis : 15 Juli 2012
Genre : Romance, Comedy
Stasiun tv : KBS2

Don't Worry, I'm a Ghost
Okey, setelah kemarin berhoror-horor ria dengan Film Korea The Cat, lanjut lagi dengan drama special korea "Don't Worry I'm a Ghost". Meskipun kemarin dewi sempat bilang nggak mau nonton yang namanya film atau drama yang berbau horror, tapi untuk drama yang satu ini wajib dan wajib untuk ditonton....

Alasannya???? Dongsaeng favorit dewi, uri Park Shin Hye ambil bagian dalam drama ini dan juga salah satu ahjussi favoritku selain Ahjussi Cha Tae Hyun, Bong Tae Gyu ikut andil dalam pembuatan drama yang satu ini.

Buat yang sudah menonton Film Korea "Hello Ghost" dan melihat trailer drama special korea "Don't Worry I'm a Ghost" akan mengetakan 'wah, kayaknya sama'. Sama halnya dengan dewi,... ketika pertama kali melihat trailernya, pikiran dewi seketika tertuju pada film Korea Hello Ghost. Semuanya berubah ketika dewi menonton drama specialnya.
Lee Moon Ki (diperankan oleh Ahjussi Bong Tae Gyu) mengalami amnesia karena tanpa sengaja tertabrak saat hendak menyeberang jalan. Begitu tersadar, dirinya mengalami amnesia dan anehnya bisa melihat hantu (ih, takut)....
Don't Worry, I'm a Ghost
Kemanapun Moon Ki pergi, sang hantu (diperankan oleh Park Shin Hye) selalu mengikutinya dan tentu saja ada tujuan dibalik semua itu. Ya, Sang hantu yang diketahui bernama Kim Yeon Hwa meminta Moon Ki untuk mencari tahu penyebab kematiannya.
Mampukah Moon Ki melakukannya???
Apa sebenarnya alasan dibalik munculnya hantu Yeon Hwa dalam kehidupan Moon Ki???
Dan apakah Yeon Hwa itu memang benar-benar hantu ataukah cuma ilusi semata dari Moon Ki??? Nantikan sinopsisnya hanya di pelangi drama special untuk reader setia Pelangi Drama.

Memperkenalkan
  • Bong Tae Gyu sebagai Lee Moon Ki
Seorang pria yang tiba-tiba mengalami amnesia setelah mengalami kecelakaan. Hidupnya menjadi terganggu semenjak kemunculan seorang hantu cantik bernama Yeon Hwa yang selalu mengikutinya kemanapun dan selalu mengatakan memiliki hubungan dengan Moon Ki. Yeon Hwa bahkan mengetahui semua kesukaan dan kebiasaan Moon Ki yang membuat Moon Ki tak habis pikir 'bagaimana bisa????'.
Don't Worry, I'm a Ghost
  • Park Shin Hye sebagai Kim Yeon Hwa
Seorang gadis cantik pemilik toko bunga yang harus meregang nyawa di rumahnya sendiri. Berusaha membantu Moon Ki memiliki kembali ingatannya, menemukan teka teki kematiannya dan juga menemukan C.I.N.T.A
  • Lee Jong Ho sebagai Jin Soo
Adik atau bisa dikatakan 1 panti asuhan dengan Moon Ki. Jin Soo memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan Moon Ki.
  • Park Seo Yeon sebagai So Hyun
Seorang polisi wanita yang berusaha menyelidiki kasus kematian Yeon Hwa.


My Opinion
Menonton awal-awal nich drama rasanya datar (benaran loch, soalnya dewi sudah menonton film korea Hello Ghost), ceritanya pasti mudah ketebak dan dewi belum bisa ngerasain feelnya...(pendapat dewi pribadi ya) Tetapi, ada tetapinya loch, mendekati pertengahan dan ending, asli nich drama mampu membuat dewi menangis sesenggukan... Endingnya jauh berbeda dari apa yang ada di pikiran dewi dan juga yang ada di pikiran Yeon Hwa. Ternyata, eh ternyata....

Udah ah, terlalu kepanjangan reviewnya...

Beberapa scene di K-Drama Special Don't Worry I'm a Ghost

Don't Worry, I'm a Ghost
Don't Worry, I'm a Ghost
Don't Worry, I'm a Ghost

Sekian, Kamsahamnida^^
Don't Worry, I'm a Ghost
Written : DewiRf [Twitter|Blog]
Shared Only : pelangidrama.net
DON'T REPOST TO OTHER SITE!!!!!!!!!!!!!!!!
Read more...

[Sinopsis J-Drama] Sinopsis Strawberry Night Episode 7

3 comments
Sinopsis Strawberry Night Episode 7

Wah, ga kerasa udah nyampe episode 7 lagi. Kasus apa lagi yang ditangani Reiko dan timnya kali ini. Simak ceritanya berikut ini ya.
"Japanese Star Anise"

Di sebuah taman bermain, tampak seseorang tak dikenal, sebut saja Mr. X, dengan sembunyi-sembunyi sedang membuntuti satu keluarga. Sang ayah membelikan anak perempuannya balon merah. Mr. X membuka tasnya dan tangannya langsung meraih senjata api di dalamnya. Kebetulan sekali sang ayah tiba-tiba pergi ke toilet. Setelah melihat-lihat sekeliling, Mr. X segera mengikuti sang ayah ke toilet. Merasa diikuti, sang ayah membalikkan badan ketika sampai di depan pintu toilet.
“Apa maumu?”tanya sang ayah.
DOR! DOR! DOR! Jawaban Mr. X hanyalah 3 buah tembakan yang langsung mengarah pada tiga titik vital. Mr X mundur perlahan. Sang anak menghampiri ayahnya karena balonnya lepas. Sang istri langsung menjerit melihat suaminya tewas tertembak. Begitu juga sang anak dan pengunjung taman bermain yang melihatnya. Mr X langsung pergi begitu saja. (oya, aku sengaja pake nama Mr X biar aku ga bingung nyeritainnya..oke)
Entah masih dalam waktu yang sama atau tidak, seorang lelaki tewas di apartemennya. Lehernya terikat tali. Di depan lelaki itu, seseorang berdiri dengan menggenggam senjata seperti yang digunakan oleh Mr X. Apakah orang itu juga Mr X?
Kita beralih ke markas besar. Di ruangannya Reiko dan Kohei bermain reversi. Untuk kesekian kalinya Kohei kalah. “Kau harus lebih sering latihan. Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku kalau hanya berkonsentrasi mengambil sudut,”ucap Reiko.
“Aku pasti punya keberuntungan di tengah permainan,”kata Kohei sambil membuka buku panduan bermain reversi. “Lima kali menang berurutan”.
“Bukannya enam?” Nori ikut nimbrung.
“Benar. Enam kali menang berurutan,”seru Reiko.
“Yang benar saja, kau tidak mungkin dikalahkan. Tapi aku berpikir selama bermain,”kata Kohei.
“Apa?”
“Aku merasa ragu dengan pekerjaan kita. Mengubah putih ke hitam atau hitam ke putih?”tanya Kohei. (*hitam=bersalah; putih=tidak bersalah)
“Alaminya, kita di sini untuk meyakinkan bahwa hitam adalah hitam,”jawab Reiko.
“Iya, kan? Rasanya tidak lucu sama sekali kalau kita mengubah putih jadi hitam,”sambung Kohei.
“Sama seperti mengubah hitam jadi putih,”ucap Nori.
“Yang itu bahkan lebih buruk, kan?”
“Pertanyaanmu aneh sekali.”
“Oh ya?”
“Satu permainan lagi?”tanya Reiko.
“Baiklah,” Kohei lalu merapikan biji-biji reversinya. “Tapi rasanya lambat sekali, ya? Kalau dilihat tim lain sedang mengerjakan kasus yang besar,”keluh Kohei.
“Jangan pikirkan tim lain. Tim kita ya tim kita,” mata Reiko menatap meja tim Kusaka yang kosong. “Aku sudah tidak mood. Aku mau beli kopi,”ekspresi Reiko berubah.
“Pasti mengganggunya, ya?”kata Kohei.
“Sudah biasa,”balas Nori.
Reiko menghela napas ketika keluar dari ruangannya. Tiba-tiba ponselnya berdering.
“Kau bisa pergi ke Ohtsuka?”tanya Imaizumi.
“Ohtsuka? Maksudmu Kantor Pemeriksaan Medis?”tanya Reiko.
“Iya. Dokter Kunioku ingin bertemu denganmu,”jawab Imaizumi.
“Dokter Kunioku? Apa ada tindak kejahatan?” Reiko tiba-tiba senang mendengar ada kasus. “Aku tidak tahu. Ada sebuah mayat dibawa dan tidak diketahui apa dia bunuh diri atau dibunuh,”jawab Imaizumi membuat Reiko menarik kembali senyumnya.
“Kalau tidak diketahui, ada kemungkinan bahwa hasil otopsi akan menyatakan bahwa itu bunuh diri,”kata Reiko.
“Yah. Lalu kau hanya akan menyiakan waktumu. Bawa seseorang bersamamu dan periksalah. Paham?”perintah Imaizumi.
“Baiklah,”jawab Reiko. “Kenapa selalu aku kalau berhubungan dengan Dokter Kunioku,”kata Reiko pada dirinya sendiri. Kesal, Reikopun meninju mesin penjual minuman.
Sementara itu di tempat pachinko, Kikuta sedang asyik main. Pelayan di sana membawakan tempat lagi. Kikuta sudah memenangkan 8 wadah. Tak lama kemudian, Reiko meneleponnya. “Ya,”ucap Kikuta.
“Bagaimana?”tanya Reiko.
“Ha?”
“Kau kalah lagi?”tanya Reiko.
“Tidak juga.”
“Aku ingin kau ikut denganku,”perintah Reiko.
Kikuta akhirnya menemani Reiko pergi ke kantor Dokter Kunioku. Dokter Kunioku sudah menunggunya dan begitu Reiko datang ia senang sekali.
“Aku ke sini karena tidak ada pilihan,”kata Reiko.
“Aku tidak memintanya datang ke sini,”kata Dokter Kunioku menunjuk Kikuta.
“Kikuta adalah pengawalku,”jawab Reiko.
“Apa? Pengawal?” Dokter Kunioku memicingkan matanya.
“Aku harus melindungi diriku sendiri dari lamaran Dokter Kunioku,”kata Reiko.
“Lamaran?” Kikuta bingung.
“Aku suka gaya bicaramu itu. Aku menemukan restoran enak yang menyajikan dobin-mushi kesukaanmu,”kata Dokter Kunioku.
“Lupakan dobin-mushi. Katakan saja kenapa Dokter memanggilku ke sini,”ucap Reiko dingin. “Sial~ Aku tidak akan menyerah. Tidak sampai aku memenangkan Hime,”kata Dokter Kunioku.
“Memenangkannya?” Kikuta makin bingung.
“Jadi, apa ini soal mayat yang tidak bisa diidentifikasikan bunuh diri atau dibunuh?”tanya Reiko.
“Iya, iya. Ini, ini. Tali itu dililitkan ke leher tiga kali, dan dipercaya sudah memotong dan membelit kerongkongan. Kalau dia mau, dia bisa mengikatnya sendiri, tapi orang lain juga bisa melakukannya untuk membuatnya terlihat seperti bunuh diri,”tutur Dokter Kunioku, menunjukkan foto-foto lelaki yang tewas di apartemennya sendiri.
Kikuta mau mengambil makanan yang tersaji di meja, tapi Dokter Kunioku malah memukul tangannya dan menjauhkan kue itu dari Kikuta. “Ini bukan untukmu, tahu?”kata Dokter Kunioku. Kikuta membuka makanannya sendiri yang ia dapat dari pachinko. “Ada berita apa dari otopsi?”tanya Reiko.
“Kami memeriksa pendarahan subkutan, tapi tidak bisa memastikan apa-apa dari situ. Kami tidak bisa secara medis memutuskan apa itu bunuh diri atau pembunuhan. Namun demikian...,”jawab Dokter Kunioku.
“Namun?”
“Waktu perkiraan kematiannya adalah sekitar jam 11:00 tadi malam, tapi ada yang aneh dengan badannya,”jawab Dokter Kunioku.
“Ada yang aneh?”
“Aneh soalnya pembekuan terjadi sangat cepat hanya di sisi kanan tubuh. Dengan kata lain, hanya di sisi kanan mayat telah didinginkan beberapa waktu dengan sesuatu yang dingin untuk menurunkan temperatur badan dengan cepat,”jawab Dokter Kunioku.
“AC yang ada di ruangan tempat mayat ditemukan. Mungkin karena itu?”pikir Kikuta.
“Itu mungkin saja. Tapi tetap saja, aneh sekali hanya satu sisi yang dingin. Selain itu, ini bukan musimnya memakai AC,”kata Dokter Kunioku.
“Kau mau bilang kalau ada seseorang yang mencoba memanipulasi waktu perkiraan kematian?”tanya Reiko.
“Benar, benar. Bisa dibilang ini pembunuhan. Tapi kalau pembunuhan, kenapa hanya satu sisi?” Dokter Kunioku balik bertanya.
“Siapa yang menemukan mayatnya?”tanya Reiko.
“Polisi Daerah Nishigahara.”
“Terima kasih, Dokter,” Reiko langsung pergi begitu saja.
“Kalau kau bisa menyelesaikan kasus ini, dobin-mushi yang kau sukai... Wah~ Dia sudah pergi,”ucap Dokter Kunioku.
“Permisi,” Kikuta pamit. Namun, ia balik lagi. “Dokter. Apa maksudnya lamaran?”tanya Kikuta.
“Lupakan! Bukan urusanmu. Sana, sana. Menghilang dari pandanganku!” Dokter Kunioku agak kesal. Kikuta memberikan makanannya pada Dokter Kunioku. Sekejap saja Dokter Kunioku berubah ekspresinya. “Terima kasih,”ucap Dokter Kunioku.
“Kebetulan sekali,”ucap Kikuta dalam perjalanan pulang.
“Apanya?”
“Sekarang ini Tim Kusaka sedang mengerjakan kasus mereka di Daerah Nishigahara,”jawab Kikuta.
“Ah, peristiwa 3 hari yang lalu di mana kepala geng ditembak sampai mati.” Ternyata sang ayah yang dibunuh itu adalah ketua geng aka yakuza.
“Kenapa mereka selalu mendapatkan kasus menggemparkan yang disukai media,”keluh Kikuta.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan soal itu. Kita hanya bisa menerima kasus selanjutnya. Lagipula, itu hanya perkelahian antar yakuza, kan?”
“Kasus yang biasa.”
“Bukan kasus yang menarik. Kita konsentrasi saja pada kasus kita.”
“Mungkin saja bisa berubah jadi sesuatu yang besar.”
“Kita pasti akan memecahkan kasus ini,”kata Reiko sangat yakin.
Di kepolisian Nishigahara, rapat penyelidikan sedang berlangsung. Tim Kusaka melaporkan hasil penyelidikannya mengenai kasus pembunuhan ketua yakuza di Nishigahara. Sang ayah yang tewas itu bernama Kanbe Yoshitaka, ketua yakuza Kanbe-gumi, yang merupakan cabang dari yakuza Yamato-kai. Sampai saat ini pistol yang digunakan untuk membunuh Kanbe Yoshitaka belum juga ditemukan. Kusaka memulai laporannya dengan menceritakan bagaimana yakuza Kanbe-gumi terbentuk dan bagaimana sejarahnya Kanbe Yoshitaka terpilih sebagai ketua. Selain itu Kusaka juga menceritakan perihal bisnis yang dikelola yakuza tersebut dan menyebutkan jumlah penghasilan mereka tiap tahun.
Di ruang rapat tampak Ioka yang bekerja sama dalam satu tim dengan Kusaka. Ioka nampak tidak bersemangat sambil memandang jimat warna pink yang harusnya diberikan pada Reiko. Tak lama, Reiko lewat di depan ruang rapat. Reiko memandang Kusaka dengan geram.
Mendengar penjelasan yang sangat lama itu membuat para polisi yang lain capek dan saling melempar pandang. Apalagi Hashizume.
“Tunggu dulu, Kusaka. Apa-apaan kecepatan siput ini. Sebenarnya apa yang kau selidiki?” Hashizume menginterupsi laporan Kusaka.
“Aku tidak mengerti apa maksudmu,”jawab Kusaka.
“Kasus ini lebih seperti berasal dari persaingan yakuza. Kurasa aku sudah menjelaskan bahwa penyelidikan ini harus berpusat di sekitar persaingan Kanbe-gumi, Jinwa-kai dan Takami-gumi,”jelas Hashizume, sewot.
“Iya, aku tahu.”
“Apakah laporanmu ada hubunganya dengan persaingan mereka?”
“Aku masih belum yakin.”
“Kenapa kau melaporkan hal-hal yang menyimpang?”
“Aku memasukkan fakta-fakta yang mungkin berhubungan atau tidak. Aku tidak menganggapnya membuang waktu,”jawab Kusaka.
“Apa?!” Hashizume makin emosi.
“Tapi kau tahu, Kusaka. Kalau kau mencoba menyelidiki segala sesuatunya dengan caramu, kau akan kehabisan banyak waktu,”ujar Imaizumi, mencoba menengahi.
“Aku tidak percaya penyelidikanku memakan banyak waktu ketimbang yang lain,”kata Kusaka.
“Tidak ada yang bilang kau memakan banyak waktu,”ucap Imaizumi.
“Kalau masalahnya adalah persaingan, kita butuh sesuatu untuk membuktikannya. Aku tidak ingin menyelidik gagasan terbentuk sebelumnya,”kata Kusaka.
“Cukup! Selanjutnya, Crime Lab. Shibata,”teriak Hashizume.
“Aku masih belum selesai. Sekarang ini, Kanbe-gumi punya 53 anggota. Jika anggota yang dimiliki oleh staff eksekutif, yaitu, anggota cabangnya, dimasukkan jumlahnya mencapai 172. Kanbe-gumi yang disebut sebagai perusahaan...,” Kusaka bersikeras meneruskan laporannya.
“Tidak bisa diharapkan,”gumam Ioka.
“Sepertinya rapatnya sudah selesai,”ujar Kikuta melihat tim Kusaka sudah keluar dari ruang rapat. Reiko langsung berdiri.
“Aku tidak ingat meminta bantuan tambahan,”ujar Kusaka begitu melihat Reiko.
“Aku mengerjakan kasus yang berbeda. Permisi,”kata Reiko.
“Menyingkir dari jalanku,”kata Kusaka lalu pergi. Reiko kaget mendengarnya.
“Ketua Kusaka tidak pernah berubah, ya?”ucap Kikuta.
“Reiko-chan!”panggil Ioka sambil melambaikan tangan.
“Ioka,” Kikuta terkejut. “Kenapa kau ada di sini? Bukannya kau ada di Daerah Kameari Barat?”tanya Kikuta, menghalangi Ioka mendekati Reiko.
“Aku dipindahtugaskan lagi. Aku sudah di sini sejak bulan kemarin,”jawab Ioka, berusaha mendekati Reiko. “Kau bercanda. Aku ingin tahu kenapa kau selalu muncul kemanapun aku pergi,”Reiko kaget.
“Bukankah itu karena Reiko dan aku dihubungkan dengan benang merah? Kau tidak bisa melihatnya? Benang merah samar-samar di kelingkingku,” Ioka menunjukkan kelingkingnya. “Aku tidak lihat. Sama sekali,” Reiko mengalihkan pandangannya.
“Aw, ayolah. Jangan malu-malu. Oh, iya. Reiko, kau harus membawa jimat ini bersamamu. Kau pasti diberkati,”pinta Ioka.
“Tidak perlu,”tolak Reiko.
“Ayolah, jangan begitu...,” Ioka memaksa.
“Buang saja,”seru Kikuta, mendorong Ioka.
“Hentikan! Ini adalah jodoh. Aku mengikuti benang merah dan berakhir dengan berpasangan dengan Ketua Kusaka,”keluh Ioka.
“Tidak ada yang lebih baik dari itu. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Kusaka,”kata Reiko.
“Iya, benar. Seperti aku percaya saja. Pria itu tidak ada harapan. Dia terus terjebak pada hal-hal sepele. Aku hampir tidak tahan lagi,”Ioka geram.
Tiba-tiba Kusaka datang memanggilnya. Ioka serta merta merubah nada suaranya.
“Ditambah lagi, dia terus mengawasiku. Tuhan tolong aku. Sampai jumpa,”bisik Ioka, lalu pergi mengikuti Kusaka.
“Dia pasti saja bersikap SKSD,”keluh Kikuta.
“Ingin berpasangan dengannya?”tanya Reiko.
“Tidak, terima kasih,”jawab Kikuta.
Imaizumi datang dan memperkenalkan Reiko pada Fukanoshi, Asisten Inspektur Daerah Nishigahara. Imaizumi menyerahkan kasus itu pada Reiko sepenuhnya.
Reiko dan Kikuta menuju ruang rapat yang disediakan oleh kepolisian Nishigahara.
“Maaf. Daerah ini penuh kacau dengan kasus penembakan. Kami bahkan tidak punya penyelidik untuk mendampingimu. Hanya ini ruangan yang kami punya, gunakanlah dengan bebas,”ujar Fukanoshi.
“Mari kita langsung ke pokok masalah. Bisa kau ceritakan seperti apa mayat saat ditemukan?”tanya Reiko.
“Kuharap ini hanya bunuh diri. Kalau dua penyelidikan dari markas besar harus dilakukan di kantor kecil seperti kita, akan memakan banyak anggaran. Ini adalah temuan awal kami. Pagi ini sekitar jam 10:30 seorang wanita menelepon dan mengatakan seorang pria ditemukan tewas. Dan dia meminta kami datang. Lokasinya di Apartemen Timur nomor 107, Tabata 2-chome, Kita-ku. Kemudian 2 polisi diberangkatkan ke sana dan menemukan sesosok mayat di dalam ruangan,”tutur Fukanoshi. Fukanoshi menyerahkan berkasnya, Reiko hanya melihat sekilas lalu menyerahkan lagi pada Kikuta. (Reiko keliatan agak sombong di sini)
“Pintunya tidak terkunci?”tanya Kikuta.
“Iya,”jawab Fukanoshi.
“Bagaimana dengan wanita yang melaporkan?”tanya Kikuta lagi.
“Dia tidak ada di sana. Kami segera mengirim tim penyidik dan anggota crime lab ke TKP, tapi mereka tidak bisa memastikan itu merupakan bunuh diri atau pembunuhan. Makanya kami datang meminta partisipasi pemeriksaan medis,”jawab Fukanoshi.
“Apa mayatnya sudah bisa diidentifikasi?”tanya Reiko.
“Murata Kazuo. Kami memverifikasinya dengan dokumen sewa apartemen,”jawab Fukanoshi.
“Bisa kita lihat apartemennnya besok?”tanya Reiko.
Esok harinya, Reiko dan Kikuta pergi ke apartemen itu. Ada petugas yang berjaga di sana. Mereka berdua melihat ke sekeliling ruangan. “Ruangan ini dirawat dengan baik,”ujar Kikuta.
“Sepertinya belum ada seorangpun yang ke sini, ya?”
“Tidak mungkin.”
“Mungkin saja. Begitu kita sampai di sana, dia bilang tidak bisa meminta siapapun untuk membantu kita. Jelas sekali dia bermaksud untuk membuat kita menangani kasus ini sendirian,”kata Reiko.
“Berarti mereka tidak punya cadangan orang untuk kasus yang tidak bisa ditetapkan sebagai bunuh diri atau pembunuhan.”
“Aku yakin Kusaka bilang dia butuh bantuan,”ucap Reiko.
“Ini AC yang ditinggalkan, ya?” Kikuta memastikan.
“Iya, tapi dari posisinya, tidak terlihat kalau udara dinginnya mengarah ke sisi kanan saja,”kata Reiko, melihat posisi AC yang tepat di atas tempat tidur.
Petugas polisi yang berjaga datang, memberitahukan kalau pemilik apartemen sudah ada. Reiko dan Kikuta pun pergi keluar. “Maaf sudah menyusahkanmu,”ucap Reiko.
“Tidak apa-apa,”jawab pemilik apartemen.
“Aku ingin bertanya soal Pak Murata yang tinggal di Apartemen No. 107. Pak Murata itu orang yang seperti apa?”tanya Reiko.
“Susah dijelaskan. Dia itu pendiam, tidak banyak bicara,”jawab pemilik apartemen.
“Sudah berapa lama dia tinggal di sini?”tanya Kikuta.
“Kurang lebih 3 bulan. Dia tiba-tiba muncul ingin menyewa kamar. Aku pernah menolaknya karena dia tidak punya-apa untuk memperkenalkan dirinya,”jawab pemilik apartemen. “Dia tidak punya KTP?”tanya Kikuta.
“Benar. Kemudian dia bilang akan membayar sewa 6 bulan langsung. Ini adalah bisnis. Selama dia bisa membayar, aku tidak punya alasan untuk menolaknya.”
“Anda tahu di mana Pak Murata bekerja?”tanya Reiko.
“Kadang dia pergi ke lokasi konstruksi, tapi kurasa ada seorang wanita yang bersamanya.”
“Wanita?”
“Dia menyewa untuk satu orang, tapi dia sering membawa seorang wanita. Secara pribadi, mereka cukup mengganggu. Dan pada akhirnya, ini. Tidak akan ada yang mau menyewa kamar tempat mayat ditemukan,”pemilik apartemen mengeluh.
Reiko dan Kikuta kembali masuk ke kamar Murata. Kikuta membuka lemari dan mengecek pakaian di dalamnya.
“Semuanya barang milik pria,”kata Kikuta.
“Tidak ada tanda-tanda kalau ada seorang wanita tinggal di sini.”
“Apa menurutmu dia yang menelepon?”tanya Kikuta.
“Mungkin saja.”
“Seorang wanita yang menghapus keberadaannya dan menghilang. Kelihatannya mulai terlihat sebagai pembunuhan.”
“Tapi kalau memang begitu, kenapa dia menelepon?”tanya Reiko.
Reiko membuka sebuah lemari dan membuka laci kecil di dalamnya. Ada pahatan kayu di dalamnya. “Aku penasaran apa ini. Bau apa ini?”tanya Reiko, memberikan kayu itu pada Kikuta. “Apa ini pohon cemara?” Kikuta malah balik tanya.
Reiko mengeluarkan kayu-kayu itu dari dalam laci. Semuanya ada 13 potong.
“Ini kunci untuk apa?”tanya Kikuta ketika menemukan sebuah kunci menempel di laci. Beberapa saat kemudian, Nori menelepon Reiko. Nori mengabarkan penemuan sidik jari dari catatan kriminal. Reiko memerintahkan semua timnya untuk berkumpul.
Tamotsu berlari menuju ruang rapat minimalis yang disediakan. Begitu ia masuk, anggota yang lain sibuk merapikan ruangan sebelum rapat kecil mereka dimulai.
“Maaf aku terlambat,”ucap Tamotsu.
“Apa kau mengolah lahan lagi?”tanya Kikuta.
“Ha? Iya. Hadiah dari pemiliknya,” Tamotsu menyerahkan makanan yang dibawanya.
“Lahan?” Kohei tidak mengerti maksudnya.
“Ayo kita mulai. Ini adalah pria yang ditemukan tewas di sebuah apartemen di Tabata. Dia menyebut dirinya Murata tapi sepertinya itu sebuah alias,”ucap Reiko lalu menempelkan foto korban. “Nama aslinya adalah Kishitani Seiji. Dia lahir 28 September 1967. 44 tahun. Dia sudah terkenal brengsek sejak remaja. Saat umurnya 17 tahun, dia dikirim ke penjara remaja selama setahun 2 bulan karena pembunuhan. Di umurnya yang ke 20, dia mulai sering mengunjungi kantor geng, dan saat 23, dia jadi anggota Yoshida-gumi, sebuah sub-cabang Yamato-kai. Saat umurnya 29 tahun, dia dihukum 11 tahun penjara karena pembunuhan, tapi dia bebas setelah 8 tahun. Kala itu, umurnya 37 tahun. Sejak saat itu, tidak ada catatan kriminal apapun tentangnya,”papar Kikuta dengan cepat, membuat Kohei kesulitan menulisnya.
“Kalau dia dibunuh, mungkin saja dia terlibat dalam sebuah masalah,”ucap Tamotsu.
“Iya. Kishitani tinggal dengan seorang wanita,”kata Reiko.
“Wanita?”tanya Tamotsu.
“Ada seorang wanita yang disebut-sebut oleh para polisi juga. Mungkin saja itu wanita yang tinggal dengannya. Aku ingin kalian mencari tahu soal wanita ini. Kita tidak tahu wajah maupun namanya. Umurnya sekitar 30-35 tahun. Dia tinggal di Apartemen Timur 107, Tabata 2-chome, Kita-ku. Itulah petunjuk yang kita punya. Aku yakin wanita ini tahu sesuatu,”perintah Reiko. “Kepolisian Nishigahara tidak punya cadangan. Tim kita akan menyelesaikan kasus ini sendiri. Mengerti?”
“Baik,”jawab anak buaknya serempak.
“Nori, kau berpasangan dengan Kikuta,”ujar Reiko.
“Kau sendirian tidak apa-apa, kan?”tanya Kikuta pada Nori.
“Iya,”jawab Nori, mantap. Semua tersenyum senang mendengarnya.
Kohei berpasangan dengan Tamotsu dan segera pergi ke tempat yang ditugaskan.
“Tamotsu-san, apa maksudnya mengolah lahan?”tanya Kohei.
“Hah?”
“Tadi yang dibilang Kikuta-san. Apa itu yang disebut jargon? Aku tidak yakin dengan hal itu.”
“Mengolah lahan artinya pergi ke tempat seperti bar yang kau kenal baik dan berbincang-bincang di sana. Lahan adalah jaringan informasi polisi. Kalau lahanmu subur, kau bisa memanen banyak hasil panen,”jelas Tamotsu.
“Begitu ya,” Kohei mengangguk mengerti.
“Katanya harga polisi ditentukan dari nomor sepatu yang dipakai. Kurasa hal itu sudah kuno sekarang,”lanjut Tamotsu.
“Tidak, tidak. Aku justru belajar banyak darimu.”
“Oh, permisi. Boleh aku tanya sesuatu?”tanya Tamotsu begitu melihat salah satu pegawai bar lewat di situ.
Nori ditugaskan untuk mencari informasi di apartemen Kishitani. Ia mulai berkeliling tiap kamar. Namun, tidak ada jawaban meski ia sudah memencet bel berkali-kali.
“Di rumah ini juga tidak ada orang,”gumam Nori. Awalnya Nori putus asa, tapi ia ingat apa yang dikatakan Reiko dan Kikuta kemarin. Dan ia sudah bilang kalau ia bisa melakukannya sendiri. Mengingat semua itu, Nori memantapkan langkahnya dan terus mengunjungi tiap kamar.
Sementara itu, Reiko dan Kikuta pergi ke tempat konstruksi, tempat Kishitani pernah bekerja sebelumnya. “Maaf mengganggu,”ucap Reiko pada salah satu pekerja yang baru turun dari damtruck.
“Ada apa?”tanya pria itu.
“Ada seorang pria yang bekerja di sini, namanya Kishitani... Murata. Bisakah kau menceritakan apapun tentang dirinya?”tanya Reiko.
“Murata?”
“Yang ini,” Kikuta menunjukkan foto.
“Ah, dia. Belakangan aku tidak melihatnya. Mungkin dia sudah dapat banyak uang?”
“Ada seorang wanita yang tinggal dengan Murata-san. Apa Anda tahu sesuatu tentangnya?”tanya Reiko.
“Aku tidak tahu mereka tinggal bersama atau tidak, tapi aku pernah melihatnya,”jawab pria itu.
“Anda pernah melihatnya?” Kikuta memastikan.
“Iya. Aku tidak yakin, tapi sepertinya dia datang untuk menjemputnya? Aku hanya melihatnya saja. Sepertinya dia seorang penyeduh bir. Tapi hubungan mereka pasti berjalan baik, ya?”
“Anda tidak tahu namanya?”tanya Reiko.
“Tidak. Aku cuma pernah melihatnya, itu saja.”
“Begitu ya. Terima kasih banyak,”ucap Reiko lalu pergi.
“Ayo kita ke TKP Kanbe sekali lagi,”ajak Kusaka
“Sekali lagi? Dari kemarin kita ke sana terus. Kalau itu kaos murahan, pasti sudah tipis sekarang,”keluh Ioka. “Bukankah Takami-gumi ada di baliknya? Direktur Hashizume... tidak, tidak hanya dia. Semua penyidik di daerah kita setuju kalau Takami-gumi ada dibalik pembunuhan Kanbe. Ya, kurasa informasi adalah hal penting untuk diselidiki seperti permintaanmu, tapi semuanya ada batasnya. Aku tidak bermaksud jadi seorang pekerja sewa yang menentang markas, tapi bukankah tidak apa-apa bagi seorang polisi untuk sekali-kali mengandalkan intuisinya?”cerocos Ioka.
“Aku tidak seperti Himekawa. Aku akan meletakkan segala sesuatu yang ada dalam jangkauanku melalui sebuah saringan dan mengambil satu butir yang tersisa. Begitulah caraku. Kalau kau tidak suka, silahkan pergi,”jawab Kusaka, tak peduli.
Ioka menghentikan langkahnya. “Kalau pergi adalah pilihan, aku tidak akan bilang apa-apa di awal. Reiko-chan,”gerutu Ioka sambil menggenggam jimat pinknya. Mau tak mau, ia harus tetap bersama Kusaka.
Reiko dan Kikuta berpisah untuk mencari informasi dari orang yang lewat dan toko-toko di sekitar TKP. Orang yang ditanyai oleh Kikuta pernah melihat Kishitani, tapi ia tidak yakin kalau Kishitani pernah jalan dengan seorang wanita.
Nori menanyai sepasang kakek-nenek yang lewat di depan apartemen. Lagi-lagi foto Kishitani dikeluarkan.
Tamotsu dan Kohei pergi ke jalur yang biasa Kishitani lewati dari tempat kerja. Bisa saja di bar atau stasiun.
Semua tim bekerja keras di tempat yang sudah ditugasi. Reiko dan Kikuta menemukan orang yang pernah melihat Kishitani dengan seorang wanita. Mereka berdua bergegas menemui orang itu. Tamotsu dan Kohei terus menanyai orang-orang yang baru turun dari kereta.
Nori kembali naik-turun mengunjungi kamar di apartemen itu satu per satu, tapi belum ada orang yang berhasil ia temui. Tapi usahanya terbayar sekarang. Begitu ia keluar, ia melihat seorang wanita, salah satu penghuni apartemen itu, yang baru saja pulang. “Permisi! Permisi. Permisi. Maaf mengganggu,” Nori mengejar wanita itu.
“Ya?”tanya wanita itu.
“Apa Anda tinggal di sini? Aku ingin bertanya padamu soal pria yang tinggal di Apartemen 107,”ujar Nori.
“Ah, maksudmu pria yang ditemukan tewas itu?”
“Iya.” Mereka berjalan ke depan gedung.
“Memang, itu perkelahian yang mengerikan,”seru wanita itu.
“Perkelahian?”
“Sepertinya terjadi begitu saja. Pria itu memukuli kekasihnya. Benar-benar menakutkan,”ucap wanita itu sambil mengingat-ingat kejadian itu.
“Kapan hal itu terjadi?”
“Mungkin sekitar 4-5 hari yang lalu? Apa wanita itu yang membunuhnya?”tanya wanita itu penasaran. “Terima kasih banyak,”jawab Nori, lalu pergi.
Kita ke tempat Tamotsu dan Kohei.
“Lalu bagaimana, ke stasiun keempat? Aku bisa lihat kenapa sepatumu aus,”ucap Kohei, karena sampai saat ini belum ada keterangan sama sekali.
“Dibandingkan saat dulu, kita jarang berjalan-jalan. Aku sudah ganti dua pasang tahun ini. Kurasa aku sudah tidak muda lagi,”kata Tamotsu.
“Dua pasang? Aku sudah memakai milikku selama 2 tahun,”gumam Kohei.
Tamotsu dan Kohei melewati perlintasan kereta dan terus berjalan. Tamotsu tak sengaja melihat sebuah bar. “Kita coba tempat itu,”ajak Tamotsu.
Sementara itu, Reiko, Kikuta dan Nori sudah berkumpul di restoran. Waktunya makan malam. “Mereka masih bekerja, kan? Kita mulai saja tanpa mereka?”tanya Kikuta.
“Kita tunggu sebentar lagi,”jawab Reiko, melirik jam tangannya.
“Kalau wanita itu membunuh Kishitani, apa itu karena perkelahian yang dilihat tetangganya?” Nori bertanya-tanya.
“Maksudmu Kishitani memulai pembicaraan soal putus jadi dia marah dan mencekiknya?”tanya Reiko.
“Iya.”jawab Nori.
“Tapi wanita itu sering terlihat datang menjemput Kishitani setelah bekerja. Bukankah itu artinya dia mencintainya?”ujar Kikuta.
“Apakah mungkin kalau dia marah karena dia mencintainya?” Reiko terus berspekulasi. “Aku penasaran kenapa mereka bisa putus,”kata Kikuta.
“Iya, aku juga. Yah, hanya mereka berdua yang tahu apa yang terjadi dengan mereka,”ucap Reiko.
“Mereka berdua, maksudmu Reiko-chan dan aku?” Ioka tiba-tiba muncul dari balik pintu. “Kenapa kau ada di sini!”teriak Reiko dan Kikuta berbarengan.
“Aku sudah bilang padamu berulang kali. Itu karena Reiko-chan dan aku dihubungkan dengan benang merah,”ucap Ioka.
“Bisakah kau berhenti memanggilku ‘-chan’?”
“Aku tidak mungkin bisa memanggilmu Ketua Himekawa. Oh, kalian memberikan tempat duduk di sebelah Reiko-chan untukku. Permisi.”
“Jangan mendekat,” Reiko mengulurkan kakinya, menghalangi tempat duduk.
“Nori, kau duduk di sebelahnya,”suruh Kikuta.
“Kau duduk di sini,” Kikuta menarik Ioka.
“Ah~. Yah, aku bisa melihat wajahnya dengan jelas dari sini,” Ioka tak habis akal.
“Oh, kau ini...,” Kikuta kesal.
“Baik, kita mulai dengan bir,”usul Ioka.
“Jangan. Belum kumpul semua,”kata Reiko.
“Ayolah, jangan jadi perusak suasana. Aku butuh minum hari ini. Pelayan, tolong empat bir. Secepat mungkin!”teriak Ioka.
“Dari yang bisa kulihat, Kusaka pasti telah menangani kasusmu dengan baik,”ucap Reiko.
“Aku bisa menerimanya kalau itu hanya soal dia menangani kasusku. Dia memukulku,” Ioka mengadu.
“Dia memukulmu?” Reiko terkejut.
“Iya. Di sini. Memar, kan?” Ioka menunjuk pipinya.
“Aku tidak lihat apa-apa.”
“Memar, tahu. Lihat, di sini. Sini mendekat. Ini, di sini,” Ioka mendekatkan wajahnya pada Reiko. Tapi tangan Kikuta malah menariknya dan mendorong hingga Ioka terjatuh. “Aduh. Apa-apaan kau, Kiku-yan!”teriak Ioka.
“Kiku ... Kau baru saja memanggilku Kiku-yan, kan!” Kikuta kalap.
“Ngomong-ngomong, Ketua Kusaka adalah seseorang yang hanya percaya pada apa yang dia lihat dan dia dengar, kan?” Ioka mengubah pembicaraan. Matanya tertuju pada tas Reiko. Perlahan ia duduk mendekat pada tas Reiko. “Aku cuma bilang kenapa polisi tidak menggunakan intuisinya sekali-kali,”lanjut Ioka.
“Kau tidak bisa menilai tanpa data. Aku ingat Kusaka pernah bilang begitu,”ujar Nori.
“Iya, itu kalimat kesukaannya. Dia menggunakan seluruh waktunya untuk penyelidikan, tapi pekerjaannya berjalan lambat sekali. Kebalikannya, dia cepat dan akurat. Aku benci mengakuinya, tapi aku mengakui kemampuannya,”kata Reiko.
“Wah~ aku kaget. Reiko-chan mengagumi Kusaka,”seru Ioka, tangannya meraba-raba tas Reiko, berusaha menalikan jimat pink di sana.
“Aku tidak mengaguminya. Sejauh Kusaka pergi, aku juga tidak bisa membawanya secara fisiologis.”
“Pastikan kau berpegang teguh pada fisiologi itu,”ucap Ioka.
Bir yang dipesan sudah datang. Ioka langsung meminumnya. Tapi, ponsel Reiko berdering. Telepon dari Tamotsu. Tamotsu melaporkan sesuatu. Setelah menutup telepon, Reiko menyuruh anak buahnya untuk kembali ke kantor sementara mereka di Nishigahara.
“Apa? Kau kembali?” Ioka kaget.
“Kau boleh minum semuanya. Minumlah dan lupakan Kusaka dari pikiranmu. Tentu saja kau yang menanggung biayanya. Sampai jumpa,’ucap Reiko.
“Apa? Dingin sekali,”gerutu Ioka. Ia tambah kaget ketika tahu, jimatnya tidak terpasang di tas Reiko.
Sesampainya di kantor Nishigahara, Tamotsu segera memberitahukan informasi yang didapat mengenai wanita yang bersama dengan Kishitani. Namanya adalah Harukawa Mitsuyo, salah satu pramuria di bar Kaede.
“Rupanya, Kishitani sering minum di sana sendirian. Kami memperlihatkan fotonya Kishitani ke kepala pelayan bar dan dia mengkonfirmasi kalau itu memang dia,”lapor Tamotsu.
“Ini adalah foto Harukawa Mitsuyo yang diambil dari ponsel kepala pelayan,” Kohei menyebarkan foto wanita itu. “Apa yang dilakukan Harukawa Mitsuyo di malam kematian Kishitani?”tanya Reiko.
“Dia ada di bar. Bagaimanapun, dia di sana sampai sekitar jam 10:30. Sekitar jam segitu Mitsuyo mendapat telepon di ponselnya. Setelah itu, Mitsuyo pulang ke rumah,”jawab Tamotsu.
“Siapa yang meneleponnya?”tanya Nori.
“Kami tidak tahu,”jawab Tamotsu.
“Dari Takinogawa, dia bisa sampai rumah dalam waktu 15 menit kalau naik kereta,”ujar Reiko.
“Itu memberikannya banyak waktu untuk sampai ke rumah jam 11:00, waktu perkiraan kematiannya,”sambung Kohei.
“Apa menurutmu teleponnya dari Kishitani?”tanya Kikuta.
Reiko berjalan ke sudut ruangan sambil memandang foto Mitsuyo. Keningnya berkerut.
Reiko tidak pulang malam itu. “Kalau peneleponnya adalah Kishitani...,”pikir Reiko sepulang dari membeli makanan. Tak sengaja ia lewat ruangan tempat Kusaka menangani kasus pembunuhan Kanbe Yoshitaka. Kusaka tampak sibuk menuliskan data-data. Kusaka menoleh ke arah pintu dan melihat Reiko memandang sinis ke arahnya. “Apa kau masih berpegang teguh mencoba untuk membuat kasus itu sebagai bunuh diri?”tanya Kusaka.
“Kami melakukan penyelidikan karena masih belum tahu. Bukannya aku berpegang teguh,”jawab Reiko, meninggikan suaranya.
“Kau mau memecahkan kasus yang buruk?”
“Apa ada polisi lain di sini yang tidak ingin menyelesaikan kasusnya?”
“Apa?”
“Aku tidak akan kalah darimu. Permisi,”ucap Reiko.
“Dia pikir siapa dirinya,”gumam Kusaka.
Reiko masuk ke ruangannya. “Kunci, potongan kayu, badan dengan temperatur yang berbeda di satu sisi. Harukawa Mitsuyo ... kemana dia?”pikir Reiko.
Orang yang sedang dicari oleh tim Himekawa, Harukawa Mitsuyo, sedang duduk di dalam bis. Ia memandang kaca di sampingnya. Teringat kejadian beberapa waktu yang lalu. Di kamar Kishitani, Mitsuyo dicekik seseorang. Saking kuatnya cengkeraman orang itu, Mitsuyo tak bisa melawan. Ia pura-pura lemas. Benar saja. orang itu melepaskan tangannya dan malah membelai wajah Mitsuyo. Tanpa orang itu sadari, tangan Mitsuyo naik dan meraih pisau di atasnya. Mitsuyo berusaha menebaskan pisau itu, tapi orang itu menahan tangannya dan menampar wajah Mitsuyo. Mitsuyo teriak, namun langsung dibekap oleh orang itu. Apakah orang itu Kishitani?
Kembali ke masa sekarang. Mitsuyo membuka tasnya untuk mengambil air minum. Tanpa sengaja, handuk di dalam tasnya tersingkap. Tampak sepucuk senjata di balik handuk tersebut. Mitsuyo buru-buru menutupnya kembali. Wajahnya terlihat tegang.
Di sebuah dermaga, seorang nelayan sedang mengangkut box ke dalam kapalnya. Tak lama setelah ia naik ke atas kapalnya, dari dalam air muncul mayat lelaki. Di dadanya ada bekas tembakan. Siapa yang membunuhnya? Kishitani? Mitsuyo? Atau orang lain?
Pagi harinya, Kikuta kembali ke kantor Nishigahara. Begitu ia masuk, ia menemukan Shuninnya masih tertidur. Kikuta mengambil kain dan menyelimuti Reiko. (aaaa,, envyyyyy..errr) Dengan perlahan, Kikuta membereskan sampah yang berserakan di atas meja. Tak berapa lama, Reiko tiba-tiba terbangun dan kaget melihat Kikuta.
“Apa kau di sini semalaman?”tanya Kikuta.
“Iya, aku berpikir banyak hal,”jawab Reiko.
“Tidak biasanya kau menghabiskan malam di kantor.”
“Terima kasih,”ucap Reiko.
“Hah?”
“Untuk ini,”Reiko menunjukkan selimut. “Kikuta, tidak biasanya kau melakukan hal seperti itu.”
“Maaf.”
“Aku tidak tahu kenapa kau minta maaf,” Reiko tersenyum. “Kita periksa kunci dan potongan kayu ini hari ini,”perintah Reiko.
“Baiklah. Oh, dan kelihatannya ada pergerakan dari satuan tugasnya Ketua Kusaka,” Kikuta melaporkan.
Ioka berlari menghampiri Kusaka sambil memberikan makanan untuk sarapan.
“Sepertinya mayat yang ditemukan di Daerah Kiba adalah Takami Yukihiko dari Takami-gumi. Bukankah harusnya kita menghadiri rapat pagi?”tanya Ioka.
“Tidak perlu,”jawab Kusaka.
“Apa maksudmu tidak perlu. Kanbe-gumi, yang bos nya dibunuh oleh Takami-gumi, kali ini membalas dendam dengan membunuh bos Takami-gumi. Ini membuktikan ada persaingan di antara dua yakuza itu,”ujar Ioka.
“Itu hanya prasangka. Jangan bicara soal spekulasi”.
“Apa maksudmu spekulasi. Tanya saja yang lainnya, ini kenyataan,”gumam Ioka.
Reiko pergi menemui Oyama di laboratorium forensik. Oyama langsung mencium bau dari potongan kayu itu. “Apa ini pohon Aomori Hiba?” Oyama mengira-ngira.
“Kau bisa menganalisanya?”tanya Reiko.
“Baik. Aku akan membawanya,”jawab Oyama.
“Terima kasih.”
Reiko segera keluar dan mengangkat ponselnya.
Sementara Ioka juga mendapat telepon dari atasannya yang menyuruhnya segera ke kepolisian Nishigahara karena akan ada gabungan satuan tugas dengan kantor polisi Kiba. “Orang-orang dari daerah kita mulai mencari markas besar Kanbe-gumi. Haruskah kita ke sana juga? Bagaimanapun, penilaian polisi diukur dari pemecahan kasus,”ujar Ioka.
“Saat Kanbe dibunuh, kita mencari markas besar Takami-gumi, kan?”tanya Kusaka.
“Iya.”
“Kau menemukan sesuatu?”
“Sepertinya tidak ada.”
“Saat ini juga tidak ada,”ucap Kusaka lalu pergi.
“Tapi itu juga cuma prasangka,”gerutu Ioka.
Reiko bertemu dengan Kikuta. “Ini adalah kunci kotak surat,”ucap Reiko.
“Ya. Ini adalah kotak pos untuk kepentingan pribadi yang dioperasikan oleh sektor swasta. Sepertinya Kishitani datang ke sini beberapa kali seminggu. Kita sudah memperlihatkan fotonya dan mereka mengkonfirmasi kalau itu memang dia,”papar Kikuta setelah berhasil memeriksa kunci yang ditemukan di apartemen Kishitani.
“Kenapa kotak surat?”tanya Reiko.
“Mungkin secara berkala Kishitani mendapat surat yang tidak ingin dikirim ke apartemen,” Kikuta mengira-ngira.
“Sesuatu yang dia tidak ingin Harukawa Mitsuyo ketahui,”ujar Reiko.
“Iya. Makanya dia menerimanya di sini diam-diam,” Kikuta mencari ke sekeliling dan berhasil menemukan loker nomor 1173, “Ini dia”.
“Tidak seperti surat,”ujar Kikuta ketika menemukan sebuah kotak kaleng di dalamnya.
Di bawah kaleng itu ada amplop. Reiko membukanya dan ada foto Mitsuyo di dalamnya. Reiko semakin penasaran dengan kotak kaleng itu. Kikuta pun membukanya dengan susah payah. Begitu terbuka, isi kotak itu berhamburan. Isinya hanyalah foto-foto.
“Siapa mereka?”tanya Reiko.
Di sebuah dermaga, entah sama dengan dermaga sebelumnya atau tidak. Dua orang anak sedang berlari mengejar bola. Tanpa sengaja salah satu dari mereka menabrak seorang wanita.
“Maafkan aku,”ucap anak itu. namun, wanita itu malah ketakutan dan pergi begitu saja.
Di kepolisian Nishigahara, rapat investigasi gabungan dimulai. Imaizumi memulai laporannya. Korban yang ditemukan tewas tertembak di dermaga di daerah Kiba adalah Takami Yukihiko. Waktu perkiraan kematiannya adalah 3 hari yang lalu antara jam 7 sampai jam 8. Selain itu, dari fakta bahwa air laut terdeteksi di dalam perutnya, dipercaya bahwa Takami ditembak, dan langsung jatuh ke laut dan mati. Ditemukan dua buah peluru. Satu di paru-paru kanan bawah, yang lainnya menyerempet jantung. Pistol diidentifikasi merupakan Glock 17, dilihat dari tanda di pelurunya. Ini adalah senjata yang sama yang digunakan untuk membunuh Kanbe Yoshitaka pada tanggal 11. Mendengar hal itu seluruh peserta rapat berbisik-bisik.
“Itu berarti Kanbe dan Takami dibunuh oleh orang yang sama,”ujar Hashizume.
“Iya. Saat ini, kemungkinan itu sangat tinggi,” Imaizumi membenarkan.
Kusaka mengacungkan tangannya. “Pak Kepala. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan. Aku menemukan fakta bahwa bosnya Kanbe-gumi, Kanbe Yoshitaka, yang terbunuh pada tanggal 11, dan korban dalam kasus ini, bosnya Takami-gumi, Takami Yukihiko, sering mengadakan pertemuan rahasia di Mutsumi, sebuah klub eksekutif di Ginza, lokasinya di 4-18 Ginza, Chuo-ku,”tutur Kusaka, membuat suasana ruang rapat menjadi semakin ribut.
“Kau mau bilang kalau bos antar yakuza yang bersaing minum-minum bersama?”tanya Hashizume.
“Iya. Lebih dari itu, kelihatannya mereka sangat dekat,”jawab Kusaka.
“Kusaka. Apa kesimpulanmu dari itu?”tanya Imaizumi.
“Aku belum tahu.”
“Belum tahu lagi?”ledek Hashizume.
“Namun... Terpaksa kukatakan bahwa berbahaya untuk melanjutkan penyelidikan lebih lanjut berdasarkan masalah persaingan antar yakuza. Itu saja,”ucap Kusaka.
Reiko dan Kikuta mengelompokkan semua foto di dalam kaleng itu. Total foto ada 33 buah diambil dari sebelas orang, termasuk dua wanita yang menjadi subyek foto. Ditambah dengan satu foto Mitsuyo yang ditaruh di dalam amplop. Semua foto diambil diam-diam, kecuali foto Mitsuyo.
“Bukankah ini Kanbe Yoshitaka, pria yang ditembak beberapa hari lalu?” Nori memastikan.
“Iya,”jawab Reiko.
“Dan ini adalah Takami Yukihiko, yang mayatnya ditemukan pagi ini,”sambung Kikuta.
“Siapa sembilan orang lainnya?”tanya Nori.
“Aku tidak tahu,”jawab Reiko.
“Tapi kenapa Kishitani punya foto dari dua orang yang dibunuh?” Kohei bertanya-tanya. Reiko memandang foto Mitsuyo.
“Mungkin aku telah salah selama ini,”ucap Reiko. Semua anak buahnya memandangnya.
Siapakah Mr. X yang telah membunuh Kanbe? Apakah kasus yang ditangani Reiko berhubungan dengan kasus Kusaka? Benarkah Mitsuyo yang membunuh Kishitani? Kalau kedua kasus itu berhubungan, bisa jadi mengungkap siapa sebenarnya Mr. X itu. Apakah Mr. X itu Mitsuyo, Kishitani atau orang ketiga? Tim Himekawa menaruh curiga pada Mitsuyo. Berhasilkah mereka menemukan keberadaan Mitsuyo? Simak kelanjutannya di episode selanjutnya.

=== To Be Continue ===

Written and Image by Ima [FB | Twitter]
Only Posted On PelangiDrama
DON'T REPOST TO OTHER SITE/FP!!!!!!!!
Read more...
 
Pelangi Drama © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger . Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here