[Sinopsis J-Drama Spesial] Double Face - Sennyuu Sousa-hen

8 comments
Sinopsis Double Face SP – Sennyuu Sousa-hen (Undercover Investigation)
As a cop, as a yakuza, which is real him...?

Konnichiwa. Senang rasanya bertemu dengan readers sekalian. Membangun mood menulis ternyata susah susah gampang ya. Menemani readers menjalani aktivitasnya, silahkan baca sinopsis berikut ini. Selamat membaca ^_____^ (bagi yg nunggu risou no musuko harap bersabar yaaa... *memelas)
Scene dibuka dengan hujan yang tiba-tiba turun. Jun Moriya (Nishijima Hidetoshi) berteduh di depan sebuah gedung. Tak lama datanglah Takayama Ryosuke (Kagawa Teruyuki) yang juga berteduh di samping Jun. Keduanya bertatapan. Jun menyalakan rokoknya. Tak jauh dari keduanya ada seekor anak anjing yang dibuang. Seorang anak perempuan yang kebetulan lewat ingin sekali mengambil anak anjing itu. Tapi ayahnya tidak mengizinkannya dan menyuruh cepat-cepat pulang.
“Aku pikir ia ingin kembali ke pemiliknya yang dulu,”kata anak perempuan itu.
“Ya. Tapi ia sudah dibuang. Tak ada yang bisa kita lakukan,”kata sang ayah.
Jun memandang anak anjing yang berusaha keluar dari kardus itu. Percakapan ayah-anak itu terngiang di telinganya.
Keesokan harinya ketika Jun sedang menjemur pakaiannya, Hiroshi berteriak dari dalam memanggilnya. Hiroshi sibuk mengeluhkan rasa ramen yang tidak enak. “Sudah jangan dimakan,”kata Jun. 
“Aku harus, karena aku sudah membayarnya,”jawab Hiroshi. Jun tidak habis pikir dengan sikap Hiroshi. Sudah tahu tidak enak tapi tetap saja dimakan. Tiba-tiba perhatian Hiroshi teralihkan oleh cincin yang digunakan Jun. Hiroshi mengambil cincin itu dan langsung memakainya. Jun memukul Hiroshi dan mengambil paksa cincin itu. Hiroshi kesakitan. “Okay. Okay. Aku akan mengembalikannya. Aniki... siapa yang memberi cincin itu? Mantan pacarmu?” Hiroshi mulai kepo.
“Mungkin,”jawab Jun sambil memakai jasnya.
“Kau mau pergi kemana?”tanya Hiroshi.
“Massage”.
“Lagi? Kau harus mengajakku lain waktu”.
Sebelum pergi Jun terhenyak menonton berita pagi itu. Letnan Tadokoro tewas dibunuh ketika penyamarannya sebagai anggota yakuza Hasaki-gumi ketahuan. Muka Jun mendadak pucat dan buru-buru pergi.
Di atap gedung, Jun menunggu sambil menyalakan rokok. (Ish, di film ini c om banyak ngerokok. Kesiaaan). Tak lama kemudian, Onodera muncul. “Kau pasti sudah dengar berita kematian Tadokoro,”ucap Onodera.
“Sudah cukup. Tolong izinkan aku kembali ke kesatuan polisi sekarang juga,”pinta Jun.
“Sejak konflik antara Black Dragon dan Oda-gumi dimulai, kota ini seperti hutan yang tidak punya hukum dan aturan. Aku tidak bisa membiarkan tindakan mereka yang terus seperti itu,”kata Onodera.
“Kau menjanjikan tugas ini hanya 3 tahun. Lalu bertambah 3 tahun lagi, dan tiga tahun lagi. Kapan ini akan berakhir?” Jun depresi.
“Kapan kau mendapat itu?” Onodera kaget melihat tato besar di punggung Jun. Jun berlalu pergi tapi Onodera mencegahnya. “Aku satu-satunya yang tahu kau adalah polisi yang sedang menyamar. Jika aku menghapus file-mu, kau selamanya akan jadi yakuza,”ancam Onodera.
Terpaksa Jun berbalik dan membuka amplop yang dibawa Onodera. Isinya alat penyadap baru dan jam. Jun menyangka jam itu adalah kamera, tapi jam itu adalah hadiah ulang tahun dari Onodera. Jun menanyakan soal cincin yang dipakainya yang ternyata juga alat penyadap. Onodera bilang kalau alat penyadap yang baru itu untuk jaga-jaga. “Untuk mengenyahkan Black Dragon, Oda-gumi ingin sekali menguasai bisnis narkoba di kota ini. Jika kita bisa menangkap ekor mereka, mereka akan jatuh dalam satu kali sambaran. Ini akan jadi tugas terakhirmu,”jelas Onodera.
“Akan ada transaksi dengan geng Thailand akhir pekan ini,” Jun menginformasikan.
“Jika mungkin, cari tahu tempat penyimpanan rahasia Oda-gumi sebelum itu terjadi,”perintah Onodera.
“Jika hal itu mudah, sudah dari dulu aku melaporkannya padamu,”ucap Jun lalu pergi.
“Aku mengharapkanmu,”kata Onodera.
Di jalanan Motohama, Inspektur Takayama baru saja membeli roti dan duduk di kafe pinggir jalan. Di ujung jalan sana, Takayama melihat ada pengendara motor yang mencurigakan. Ia mengedarkan pandangannya dan terlihat dari cermin ada petugas ATM yang sedang mengeluarkan uang dari dalam mobil. Takayama segera mengontak markasnya untuk mengirimkan pasukan. Benar saja dugaan Takayama. Tak berselang lama alarm pun berbunyi nyaring. Dua pengendara motor itu mengacungkan senapannya ke arah orang-orang di jalan yang spontan menjerit menunduk. Sepertinya polisi itu akan datang terlambat, mau tak mau Takayama harus bertindak. Ia mencopot salah satu parasol dan melemparkannya tepat masuk ke dalam velg motor. Motor pun terjungkal dan dua pengendara itu terlempar. Tak ingin tertangkap, salah satu dari pengendara yang membawa pistol itu berusaha menembak ke sekeliling. Namun, dengan sigap Takayama mengamankannya. Satu peluru akhirnya terlepas ke udara begitu sepasukan polisi tiba.
“Angkat tangan kalian!”perintah pimpinan pasukan itu.
Takayama ikut mengangkat tangannya lalu berbalik sambil menunjukkan ID nya pada pasukan polisi itu.
Seorang wanita duduk dan memesan Chu-toro di restoran sushi. Tiba-tiba Jun, Hiroshi dan dua yakuza lainnya masuk ke restoran itu. Hiroshi yang sudah mabuk menyediakan tempat duduk untuk aniki-aniki nya itu. Suara Hiroshi dan terutama sikapnya membuat pengunjung restoran yang lain terganggu sekaligus ketakutan. Sang pemilik restoran menyuruh wanita itu untuk pindah tempat duduk tapi wanita itu menolak dengan alasan tidak takut dengan yakuza macam itu.
“Apa yang kau inginkan?”tanya wanita itu ketika Jun mendekat. Keduanya terlihat kikuk.
“Maaf tapi ini...,” Jun menunjuk ke belakang tempat duduk wanita itu. Ada gantungan jas di sana menghalangi jalan Jun. Wanita itu langsung berdiri dan meminta maaf. Wanita itu tanpa sengaja menjatuhkan gelas minumannya dan membasahi celana Jun. Terlihat keduanya sama-sama salah tingkah.
Akhir pekan akhirnya tiba. Onodera dan timnya sudah berkumpul markas besar kepolisian Kanagawa, Onodera mengumpulkan timnya. Briefing pun dimulai.
“Target operasi kita malam ini adalah yakuza Oda-gumi. Berdasarkan info yang diperoleh, dalam satu jam ke depan akan ada transaksi narkoba dengan penyelundup Thailand sebanyak 10 kg opium yang setara dengan 25 juta dollar. Penyerahan uang akan berlangsung di Rose Building. Akan tetapi pengambilan opium itu belum diketahui pasti di airport atau heliport mana,”jelas Onodera.
Salah satu timnya menanyakan darimana Onodera mendapatkan informasi yang begitu detail ini. Onodera hanya mengatakan kalau itu rahasia. Ada berbagai tim yang tergabung dalam operasi kali ini. Tim Analisis Informasi, divisi dimana Takayama berada, diminta untuk mengontrol dan menyadap komunikasi via ponsel. Tim yang lain akan mengikuti dan menangkap tersangka. “Ini bintang kita malam ini. Aku ingin Oda Hironari ditangkap!”perintah Onodera menunjuk foto Oda. Semua anggota tim menyanggupi tugas dari Onodera itu.

Sementara di lain tempat, Oda sedang dalam perjalanan menuju Rose Building. Ia mengeluarkan amplop cokelat berisi dua ponsel. Oda mengambil salah satunya dan menelepon seseorang.
Kembali ke markas besar. Ponsel Takayama bergetar. Takayama menyingkir ke pantry. “Ini nomorku yang baru,”terdengar suara Oda di ujung telepon sana. Takayama segera melihat ponselnya dan menyimpan nomor itu. Tiba-tiba Onodera masuk ke pantry mengambil segelas kopi. Takayama menahan kekagetannya dengan sangat baik.
“Maaf jika mendadak melibatkanmu dalam operasi ini. Jika rencana kita ini sampai bocor, maka operasi malam ini akan berantakan,”ucap Onodera.
“Tidak mengganggu sama sekali. Tentu saja,”jawab Takayama. “Aku tidak bisa ikut ke pesta malam ini,”kata Takayama berpura-pura. Oda mengerti maksud Takayama dan berpesan untuk menginformasikan setiap detail rencana Onodera.
Melihat Onodera belum beranjak, Takayama berbohong kalau barusan senpainya mengajaknya ke pesta karena baru saja mendapat promosi. Tanpa berpikir panjang, Onodera percaya begitu saja ucapan Takayama.
Oda sudah sampai di Rose Building. Hiroshi sibuk menyiapkan tempat parkir untuk mobil Oda.
Kondisi di depan Rose Building direkam cctv. Target datang tepat seperti yang diinfokan.
Begitu masuk ke dalam, Oda melihat tangan Jun dibebat perban dan menanyakan kondisi lengan. Khawatir terlibat perkelahian dengan Black Dragon. Tapi Jun menyangkalnya dan mengatakan kalau orang itu hanya penjahat kelas teri yang sudah dikirim ke rumah sakit.
Melihat pergerakan Oda dan anak buahnya, Onodera menyuruh untuk menyadap ponsel mereka. Diam-diam Takayama mengeluarkan ponselnya dan mengetik ‘Penyadapan alat komunikasi dimulai’. Pesan itu langsung dibaca oleh Oda. Oda pun langsung menyuruh anak buahnya mematikan dan mengumpulkan ponsel mereka.
Oda menyuruh salah satu Takeshi untuk menjemput Noi, penyelundup Thailand itu. sementara Mitsuru dan Yusaku disuruh untuk menunggu di mobil untuk mengambil opium. Oda menyerahkan ponsel baru pada mereka.
“Transaksi akan segera dimulai. Ada telepon yang digunakan?”tanya Onodera pada Takayama.
“Sejauh ini, tidak ada nomor yang terdaftar digunakan dalam ruangan itu. Aku sedang melacak semua panggilan keluar dari area ini,”ucap Takayama.
“Aku mengharapkanmu,”kata Onodera.
Takayama curiga dengan earphone yang terpasang di telinga Onodera. Okazaki yang menjadi operator komunikasi pusat dan tim yang mobile melaporkan kalau tim 1 sudah tiba di Rose Building sementara tim 2 masih dalam perjalanan.
Mitsuru dan Yusaku sudah menunggu di dalam mobil. Hiroshi yang gelisah mengetuk jendela mobil dari luar. Hiroshi tampak tak sabar dan itu membuat kesal Mitsuru dan Yusaku. “Aku dapat firasat buruk. Di belakang kalian. Bukankah mereka polisi?” Hiroshi khawatir. Tapi keduanya menyangkalnya dan mengatakan kalau itu pasangan yang memang sedang asyik bermesraan. Hiroshi bersikeras tapi Yusaku malah menutup jendela dengan paksa. Hiroshi tak bisa berbuat apa-apa. Tak jauh dari mereka, pasangan yang memang polisi itu mulai waspada karena yakuza-yakuza itu melirik ke arah mereka.
Noi tiba dan langsung disambut Oda dengan tangan terbuka. Tanpa menunggu lama Oda langsung meminta sampel dari barang yang akan dibelinya. Tentu saja Noi sudah menyiapkannya. Sebuah cerutu pun diberikan pada Jun. Jun langsung membukanya dan mengeluarkan plastik berisi bubuk putih. Setelah meratakan bubuk itu, Jun menggulung selembar uang dan langsung menghisap opium itu dari hidungnya. (KYYAAAA ga tega liat c om ngisep narkoba gt.. eh ini kan cuma film, hehe). Jun mengacungkan jempol pada Oda, tanda kalau barang itu memang bagus. Oda senang dan memeluk Noi.
Di luar gedung, Mitsuru dan Yusaku langsung pergi begitu mendengar pimpinannya sepakat dengan barang yang dibawa Noi. Keduanya pergi begitu saja karena Oda akan memberitahu tempatnya setelah mereka jalan.
Di markas kepolisian pun mulai bergerak setelah mendapat laporan dari pasangan tadi. Mereka mulai melacak plat mobil target via N-system (alat pelacak yang mampu membaca plat kendaraan yang lewat). Onodera menyuruh tim 2 untuk membuntuti mobil Mitsuru dan Yusaku, sementara tim 1 diminta untuk tetap berjaga di sekitar Rose Building.
Seluruh ponsel dinonaktifkan. Lalu bagaimana Jun membocorkan informasi deal itu pada Onodera? Jun yang sudah sangat terlatih mengetukkan jari-jarinya di atas gips. Yaps, Morse! Rangkaian titik dan garis itu yang menghubungkan keduanya. Dari sandi itulah Onodera tahu kalau mobil yang digunakan Mitsuru dan Yusaku mulai bergerak ke bandara Sagami. Dengan cepat Onodera menyuruh Okazaki mengontak tim 3 untuk bergerak cepat ke bandara Sagami. Takayama kaget dengan perintah Onodera dan langsung mengirimkan pesan pada Oda.
Setelah membaca pesan Takayama, Oda segera menghubungi kedua anak buahnya itu untuk mengacaukan mobil yang mengikuti mereka. Otomatis bandara Sagami di blacklist dari rencana sebelumnya. Tanpa mengurangi kecepatan, Yusaku banting setir dan berputar berbalik arah. Tindakan Yusaku itu membuat tim 2 yang sedari tadi membuntuti mereka jadi kewalahan. Namun Onodera memerintahkan untuk tetap membuntuti.
Oda cemas dan Noi pun membaca gelagat Oda. Namun, Oda hanya bilang tidak apa-apa. Oda mengedarkan pandangan ke anak buahnya. Mungkinkah ada penyusup? Uang sudah selesai dihitung. Lalu Oda mengajak Noi ke ruangan tertutup. Melihat itu Jun pun mulai berkomunikasi lagi dengan Onodera. Takayama memperhatikan Onodera dari belakang. Tak lama ada laporan kalau mobil yang dikendarai Mitsuru dan Yusaku sekarang menuju Fujisawa. Tapi di daerah itu tidak ada bandara. Onodera mulai curiga ada yang membocorkan informasi kepolisian dan memandang ke arah timnya itu. Tak ada yang ganjil. Sementara mobil yang dikejar terus berputar-putar hingga akhirnya tim 2 kehilangan jejak mereka. Onodera mau tak mau memerintahkan tim 2 dan 3 kembali ke tempat berjaga semula.
Takayama tersenyum kecil tapi dikagetkan Onodera yang tiba-tiba berdiri di depannya menatap curiga. Takayama dengan tenangnya membalas tatapan Onodera. “Dapat sesuatu dari N-system?”tanya Onodera. “Tidak ada petunjuk. Sepertinya mereka menghindari jalan raya,”jawab salah satu tim.
Tak berselang lama, Oda mendapat sms dari Takayama yang isinya ‘Tailing Failed’. Oda tersenyum membacanya dan mengusulkan pada Noi untuk menjalankan rencana B. Noi segera keluar dari ruangan tertutup itu. Oda pun mengontak Mitsuru dan Yusaku untuk segera pergi menuju tempat lain yang ada di rencana B.
Karena Oda masih ada di ruangan tertutup itu, belum ada informasi lain yang didapat Jun. Jun pun sengaja bergabung dengan Akio, orang terkuat di Oda-gumi. Di bekakang mereka orang-orang Thailand itu sibuk mengobrol dan tertawa-tawa dengan bahasa Thailand tentunya. Akio pun ikut tertawa. Jun menanyakan apa yang mereka tertawakan. Akio yang pernah tinggal bersama gadis Thailand tahu sedikit yang orang-orang Thailand itu katakan dan bilang kalau orang yang mengantar barang benar-benar mabuk laut dan tidak menyangka kalau ia akan bisa sampai di dermaga Honmoku Barat. Jun mencoba mencerna ucapan itu. “Lain waktu kau harus mengenalkanku dengan gadis Thailand,”ucap Jun, tersenyum lalu pergi.
Yusaku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju dermaga. Sementara Jun segera menghubungi Onodera dan memberitahukan tempat pengambilan barang. Takayama memperhatikan gerakan telunjuk Onodera dan mencoba menerjemahkannya dengan komputernya. Takayama segera mengetahui kalau Onodera sedang berbagi sandi morse dengan seseorang. Apalagi setelah Onodera menyuruh Okazaki mengontak tim 2 dan 3 meluncur ke dermaga Honmoku barat dengan mematikan sirine. Takayama terperangah. Suasana di markas besar semakin panas. Setiap tim sibuk dengan tugasnya masing-masing. Sampai-sampai Sakai bertubrukan dan kertas yang dipegangnya terhambur kemana-mana. Tahu rencana bosnya ketahuan, Takayama mencoba mengirim pesan lagi. Tapi kali ini Sakai tiba-tiba menatapnya. Berusaha sewajar mungkin bertanya ada apa. Ketahuankah aksi Takayama? Sayang sekali tidak. Sakai bilang kalau kaki Takayama menginjak kertas yang sedang dirapikannya. Sakai tidak melihat Takayama memegang ponsel.
Mitsuru dan Yusaku akhirnya tiba di dermaga Honmokku Barat. Sebuah kapal memberikan sinyal pada keduanya. Setelah mengecek kondisi aman, Mitsuru pergi mengambil satu tas berisi opium. Bodohnya ia malah berteriak kegirangan begitu melihat berbungkus-bungkus serbuk sesat itu. Yusaku menyuruhnya diam.
Tim 2 menemukan mobil yang dikendarai Mitsuru dan Yusaku berada di dermaga Honmoku Barat. Onodera menyuruh mereka untuk menunggu transaksi benar-benar selesai baru menangkap mereka. Takayama segera mengirim pesan pada Oda. ‘Traitor. Gagalkan transaksi’. Oda kaget melihat isi pesan itu. Tanpa ba-bi-bu langsung menelepon Yusaku untuk membuang barang-barang itu ke laut. Dalam hitungan beberapa detik kemudian, sirine polisi mulai terdengar. Mitsuru yang kebingungan merobek dan menghamburkan semua opium itu ke laut. Keduanya dikepung dari darat dan udara. Mitsuru dan Yusaku tak bisa berkutik.
Tim 2 melaporkan kalau tersangka sudah membuang semua barang bukti ke laut sebelum bisa diamankan. “Goddammiiiit~!!”teriak Onodera kesal. “Ada kemungkinan seseorang di sini membocorkan rencana kita. Kunci pintu!”perintah Onodera.
Setali tiga uang dengan Onodera. Oda pun akhirnya sadar ada mata-mata polisi di kelompoknya. “Ada anjing di sini. Seseorang yang jadi anjing polisi sialan itu!” Oda menatap anak buahnya satu-satu. Jun mencoba menjawab kalau dugaan Oda tidak benar. Namun Oda langsung meraih tangan Jun dan membanting tangan Jun ke atas meja. BRAAKK!! Gips di tangan Jun pecah. Oda kalap dan mencari penyadap yang mungkin tersembunyi di dalam gips itu. “Angkat tangan kalian!”teriak pimpinan tim 1 yang berhasil masuk dan mengepung Oda-gumi. Oda dan semua anak buahnya mengengkat tangan mereka. Oda tak tahu kalau alat penyadap itu terselip manis diantara jemari Jun. Ya cincin Jun.
Setelah ditahan dan diperiksa selama 2 hari, Oda dan anak buahnya akhirnya dilepaskan. Ya karena barang bukti yang memberatkan mereka pun tidak ada. “Terima kasih telah mengizinkan kami tinggal selama 2 malam. Aku bisa beristirahat dengan baik,”ucap Oda.
“Apa yang diambil oleh orang-orangmu dari dermaga malam itu?”tanya Onodera.
“Aku tak tahu apa yang mereka lakukan. Jika salah satu dari mereka melanggar hukum, tolong hukum mereka sesuai dengan ketentuan yang berlaku,”jawab Oda dengan santai.
“Kau benar-benar punya nyali. Maaf mengganggumu saat jadwalmu sangat padat. Meskipun kau sudah mengeluarkan uang banyak, kau kembali dengan tangan kosong”.
“Kau melatih anjing polisimu dengan baik,”kata Oda.
“Sama sepertimu,”balas Onodera.
“Apa maksudmu? Aku akan mencari anjing itu bagaimanapun caranya,” Oda mendekati Onodera.
“Rabies sedang mewabah akhir-akhir ini. Pastikan kau tidak digigitnya sampai mati,” Onodera mengingatkan. Onodera melirik anak buahnya. Begitu juga dengan Oda. Sementara kamera mengarah pada Jun dan Takayama.
“Jika aku membunuh anjing itu, aku hanya dikenai sanksi atas kerusakan properti kan? Sesegera mungkin aku menemukannya, aku akan segera mengurusnya,” Oda tersenyum pergi.
Jun melirik Onodera sebelum masuk ke mobil.
Beberapa hari kemudian. Jun menghabiskan sarapannya dengan cepat, sedangkan Hiroshi masih sibuk dengan ramennya. Sambil menunggu ramennya siap dimakan, Hiroshi memutuskan untuk membuka warung ramen. Hiroshi juga menjanjikan Jun sebagai store managernya. Jun hanya mengucapkan terima kasih lalu pergi setelah sarapannya habis. Lagi-lagi Jun bilang kalau ia mau pergi ke tempat massage seperti biasa. Jun pergi terburu-buru. Ketika menuruni tangga, Jun melepas perban di tangannya. Apakah Jun akan pergi untuk menemui Onodera?
Ternyata tidak. Jun kali ini pergi ke psikiater. Nishida sensei yang bertugas keluar menemui Jun. Keduanya sama-sama kaget. Ternyata Nishida sensei adalah wanita yang bertemu dengan Jun di restoran Sushi.
“Ini kunjungan pertamamu?”tanya Nishida sensei.
“Ya, aku ingin kau menuliskan resep untukku beberapa pil tidur,”jawab Jun.
“Jadi, orang-orang sepertimu mengalami insomnia juga. Tulis informasi yang dibutuhkan di sini lalu tunggulah,” Nishida masuk ke ruangannya. Jun lalu berbaring di ruangan Nishida sensei. Nishida sensei sudah siap dengan form yang dibutuhkan. “Sensei, apa aku terlihat seperti iblis?”tanya Jun. (Kok nanyanya ke sensei sii.. ke aku aja, kau selalu terlihat baik di mataku. Wkwkwkw)
“Aku tidak tahu,”jawab Nishida sensei dingin.
“Aku tidak terlihat seperti pria baik-baik?”
“Mengapa kau tidak bertanya pada dirimu sendiri? Dengan tanganmu atau hatimu?”
“Jawab pertanyaanku dengan serius. Apakah aku terlihat seperti orang baik atau orang jahat?”
“Apa yang kau pikirkan?” Nishida sensei balik bertanya.
“Aku tidak tahu, makanya aku bertanya padamu.”
Jun mulai bertanya yang macam-macam. Nishida sensei pun mengingatkan peraturan dalam ruangannya kalau hanya dirinyalah yang berhak bertanya dan pasien hanya punya kewajiban untuk menjawab. Nishida sensei mulai bertanya asal usul Jun. Jun bercerita kalau dirinya lahir di Amerika dan melantur kalau ia adalah anak angkat Martin Luther. Nishida beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Jun.
“Jika kau tidak serius, kau boleh pergi dari sini,” Nishida sensei mengingatkan.
“Aku tidak tahu dimana aku dilahirkan. Aku tinggal di rumah penyalur, bekerja mengantarkan koran ketika SMA. Setelah lulus SMA...,” Jun bercerita.
“Lalu? Kau langsung bergabung dengan Yakuza?” Nishida sensei mencoba menerka.
“Tidak.”
“Apa yang terjadi setelah kau lulus SMA? Mengapa kau tidak bisa menjawabnya? Jika kau tidak menjawab pertanyaanku, konseling ini tidak bisa dilanjutkan. Aku akan merahasiakannya. Hubungi aku jika kau siap untuk menjawab,”kata Nishida sensei.
Jun akhirnya pulang ke kontrakannya. Ketika masuk ke dalam, tiba-tiba Oda mendorongnya dengan paksa. Lalu Hiroshi menodongkan pistol di dahi Jun. “Jangan bilang kau anjing itu. Kau telah membohongi kami selama ini?” Dengan cepat Hiroshi menarik pelatuk dan DOOORR!!!. Jun terbangun dari mimpinya. Keringat ketakutan membanjiri wajahnya. Jun mencoba mengatur napas dan menenangkan dirinya. Ia masih ada di ruangan Nishida sensei. Tak lama kemudian Jun memejamkan matanya lagi. Nishida sensei masuk ke ruangan itu dan menghampiri Jun. Jun terbangun lagi dengan tangan terkepal. Nishida sensei menyadari ada hal menakutkan yang disembunyikan Jun.
“Maaf. Sudah lama aku tidak tidur seperti tadi,”ucap Jun saat membayar biaya konsultasi hari ini.
“Mimpi macam apa yang kau alami?”
“Aku tidak pernah bermimpi. Sensei, kau punya pacar?”goda Jun.
“Di sini hanya aku yang berhak bertanya,” Nishida sensei tak menjawab.
“Akankah kau menjawab jika kita bertemu di tempat lain?”
Who knows.”
“Jika kau bersedia, kita bisa bertemu saat makan malam,” Jun menawarkan.
“Bagaimana kalau restoran sushi? Baiklah. Tapi sampai saat itu, pastikan kau membuat catatan tentang mimpi yang kau alami,”pesan Nishida sensei.
Di kepolisian, Takayama mendapat telepon dari Oda. Oda menyuruhnya untuk mencari tahu siapa mata-mata di kelompoknya. Takayama menjelaskan kalau semua file itu benar-benar rahasia. Hanya Onodera yang tahu dan berwenang akan file itu.
“Lalu, apa gunanya kau berada di sana?” Oda mengancam.
“Tolong semua anggota yang terlibat transaksi kemarin menuliskan CV mereka,”kata Takayama.
Tak berselang lama Sakai datang dan memberitahukan kalau Takayama dipanggil oleh Direktur Sugawara.
Takayama segera menghadap Sugawara. Sugawara membawa kabar baik bagi Takayama dan kabar buruk bagi Jun. Apa itu? Takayama ditransfer ke Departemen Internal Affair. Itu semua karena Takayama punya trackrecord yang baik selama jadi polisi. Sugawara malah memuji Takayama. Semua itu dilakukan agar Takayama mencari tahu siapa mata-mata Oda-gumi di kepolisian. Ironis bukan?
Di kediaman Oda, ada pesta ulang tahun Reiko, istri Oda. Semua anggota Oda-gumi hadir beserta wanita-wanita penghibur. Reiko termasuk istri yang pencemburu apalagi memiliki suami seperti Oda, yang pasti punya banyak wanita simpanan. Jun mengamati semua dari pintu. Tak lama Jun pun masuk ke dalam. Beberapa rekannya sibuk menuliskan sesuatu. Hiroshi meminta bantuan Jun untuk menuliskan kanji untuk ‘Bodyguard’.
“Apa ini?”tanya Jun.
“Boss ingin kita semua menuliskan riwayat hidup,”jawab Hiroshi.
“Dia sedang mencari anjing mata-mata itu. Tapi sungguh tidak bisa dipercaya ada mata-mata di sini. Ini bukan sebuah film asing,”jawab Yusaku. Pesta dimulai ketika kue sudah disajikan. Semuanya bersulang untuk Reiko. Hiroshi dan Jun berdiri di depan pintu. Hiroshi iri dengan bossnya yang kaya yang bisa berbuat apa saja. Hiroshi mengubah keinginannya untuk membuka kedai ramen dan tetap jadi yakuza hingga bisa kaya seperti bossnya itu. Jun merokok lagi. Tepat setelah pergi, Jun menggunakan korek apinya untuk memotret kegiatan Oda. Tentu saja sambil berpura-pura sedang menyalakan rokok.
Di kontrakannya Jun menyiapkan foto-foto yang diperolehnya selama sepekan ini. Namun, Hiroshi tiba-tiba datang. Jun buru-buru menutup laptopnya. Kali ini Hiroshi datang dengan cup ramen instan dengan rasa terbaru. Jun pergi meninggalkan Hiroshi untuk menemui Onodera.
Seperti biasa di atap gedung, Jun dan Onodera bertemu. Jun menyerahkan foto-foto itu pada Onodera. Mereka lalu membicarakan kemungkinan ada mata-mata Oda di kepolisian. Untuk itu, Onodera memerintahkan Jun untuk lebih memperhatikan siapa saja yang berhubungan dengan Oda.
Di salah satu studio film, Takayama duduk menonton film asing. Oda yang baru datang duduk di belakang Takayama. Takayama mengabarkan kalau dirinya sudah ditransfer ke departemen Internal Affair. Tak hanya itu, Takayama juga memberitahukan kalau pihak polisi sedang mencari mata-mata itu dan juga bersikeras untuk melenyapkan Oda-gumi. Takayama meminta Oda untuk menghentikan konfliknya dengan Black Dragon soal perdagangan narkoba. Namun, Oda menolak. Karena sekarang adalah saat yang penting dan crucial. Oda ingin sekali menguasai seluruh kota. Oleh karena itu, dia harus menguasai pasar sehingga Black Dragon tidak ada lagi. “Tapi jika kau melakukan tindakan yang sembrono...,” Takayama mencoba mengingatkan tapi Oda menyela.
“Inspektur, itu sebabnya kami punya orang sepertimu. Aku selalu menganggap kau sebagai anak kandungku,”ucap Oda. Oda pun menyerahkan amplop berisi riwayat hidup anggotanya. Takayama menghitung jumlahnya. “Hanya segini?” Takayama menyangsikan kalau tidak semua anggota menulis cv itu. Lalu ia menyuruh Oda untuk menyuruh semua anak buahnya menulis cv tanpa terkecuali.
Beberapa kursi di atas mereka, Jun duduk dan memperhatikan pertemuan Oda dan mata-matanya itu. Pertemuan Oda-Takayama berakhir. Oda pergi melewati Jun yang menutupi muka sewajarnya sedangkan Takayama pergi lewat pintu di samping layar. Jun pun ikut pergi dan membuntuti Takayama.
Takayama berjalan sambil memukul-mukulkan amplop ke pangkal pahanya. Takayama mendapat feeling tak enak. Ia pun berhenti karena merasa ada yang membuntuti. Jun bersembunyi ketika Takayama menoleh. Jun mengikuti lagi tapi Takayama menghilang di hadapannya. Sepertinya berbelok di tikungan depan. Jun berhati-hati melangkah sedangkan Takayama yang memang bersembunyi di tikungan bersiaga dengan mengambil sebatang besi dengan hati-hati. Jarak Jun dan Takayama tidak ada 10 langkah. Ketika Jun semakin dekat dan Takayama sudah menggenggam erat besi itu, tiba-tiba saja pintu di depan Jun terbuka. Muncul dua orang yang bertengkar dalam bahasa China. Setelah dua orang itu pergi, Jun melanjutkan langkahnya. Dan ketika sampai di tikungan, Takayama sudah pergi. Hampir saja ia bisa menemukan siapa mata-mata Oda itu.
Takayama segera pulang ke rumahnya dan langsung mengecek setiap data yang diserahkan Oda di bioskop tadi. Tak ada satu pun yang cocok dengan database kepolisian. Akhirnya Takayama menghubungi Oda dan memastikan jumlah data itu. Tak ada data Jun di sana.
Jun pulang dan terkagetkan oleh Oda yang duduk diam di dalam rumah Jun.
“Jun. Mengapa kau tidak menuliskan cvmu? Jangan salah sangka. Aku tidak mencurigaimu. Aku selalu menganggapmu sebagai anak kandungku. Tapi kau harus memberikan contoh pada yang lain, kau mengerti?”kata Oda.
“Aku akan menuliskannya sekarang juga,”jawab Jun.
“Jun, sebenarnya aku tidak ingin terlibat dalam bisnis narkoba ini. Aku tidak ingin mengambil uang atas kesengsaraan orang lain. Tapi aku harus menjaga dan merawat anak-anak muda itu. Aku tidak punya pilihan lain.”
“Ya Tuan. Aku pasti akan mengungkap siapa anjing polisi itu,”janji Jun.
“Coba katakan lagi,”pinta Oda. Jun mengulang janjinya itu. Oda merekam ucapan Jun barusan. Jun semakin tegang berada di dekat Oda. Oda menyuruh Jun untuk mengantarnya ke suatu tempat.
Oda bertemu dengan Akemi, hostes di salah satu pub. Sesampainya di pub itu Oda berpesan agar Jun tidak memberitahukannya pada Reiko. Jun segera mengambil beberapa gambar Oda bersama Akemi. Tak lama Hiroshi meneleponnya dan menyuruhnya cepat menjemputnya.
Ternyata Reiko mabuk berat. Tanpa diberitahu pun Reiko tahu kalau Oda punya simpanan. Dalam keadaan tidak sadar, Reiko mengutuk Oda dan berjanji akan menceraikannya. Hiroshi dan Jun membantu memapah Reiko ke sofa. Lalu Jun pergi ke dapur untuk mengambil air. Anjing peliharaan Oda mengikuti Jun ke arah dapur. Jun menuangkan air ke dalam gelas, tapi diganggu oleh anjing itu hingga tumpah dan membasahi karpet di bawahnya. Awalnya Jun mau melap air yang tumpah. Namun, lantai di bawahnya sedikit berbeda. Ketika diketuk bunyinya nyaring. Jun mengangkat karpet dan menemukan pintu bawah tanah. Jun membukanya dan berusaha melihat apa yang ada di dalamnya. Sayang, anjing peliharaan Oda yang sudah terlatih mulai menggonggong. Seolah tahu itu tempat rahasia majikannya.
"Hey, Jun-chan... Apa yang kau lakukan?”teriak Reiko dari ruang tengah.
“Aku akan membawanya keluar sekarang,”jawab Jun.
Akhirnya Jun tahu di mana gudang rahasia Oda.
Takayama memindahkan barang-barangnya ke kantornya yang baru. Semua orang di departemen barunya itu memandang curiga pada Takayama, terutama Okazaki. Onodera masuk dan mengobrol dengan Takayama. “Jangan khawatir soal itu. Tidaklah mudah menyambut anggota baru yang sebelumnya dicurigai. Direktur Sugawara mendukungmu. Begitu juga dengan aku,”kata Onodera.
“Terima kasih banyak,”balas Takayama.
“Aku baru berhubungan dengan informan rahasiaku. Dia hampir saja mengetahui siapa mata-mata Oda ketika mereka bertemu di dalam bioskop. Sayangnya, dia lolos begitu saja. aku yakin Oda akan bertemu dengan mata-mata itu lagi. Jika kau terus mengawasi Oda, kau bisa mengeluarkannya,”papar Onodera.
“Baik Pak,”jawab Oda.
(Ya ampun, Onodera percaya banget lagi sama Takayama)
Jun pergi ke psikiater lagi. Kali ini Jun mulai bercerita. Namun ia mengumpamakannya seolah-olah itu bukan ceritanya.
“Ini cerita tentang temanku. Dia ingin menjadi orang baik, makanya ia menjadi seorang polisi. Suatu hari, dia dipaksa menjalankan tugas menjadi agen rahasia. Sampai sekarang ia hidup sebagai seorang yakuza. Sejak dia menjalani kehidpan gandanya untuk waktu yang lama, dirinya sebagai polisi dan dirinya sebagai yakuza. Dia tidak yakin yang mana dirinya yang sebenarnya,”tutur Jun. Tampak sekali Jun sudah depresi berat.
“Kapan dia bisa kembali menjadi seorang polisi? Temanmu itu,”tanya Nishida sensei. “Kapan?”
Jun terdiam sejenak lalu sambil tersenyum minta izin untuk mencuci mukanya.
Nishida sensei berdiri di belakang Jun yang masih terdiam di depan wastafel.
“There is only one true self. If you don't make a move yourself... you won't be able to find your true self,”kata Nishida sensei.
Oda menyimpan sesuatu di dalam lemari. Tak lama Takayama datang mengambil amplop cokelat yang disimpan Oda. Mereka berpapasan tapi berpura-pura tidak mengenal satu sama lain. Tentu saja begitu, mereka bertemu di luar ruangan.
Jun membuat rencana. Ia mengajak Hiroshi pergi ke rumah Oda. Jun menyuruh Hiroshi melepas antingnya, tapi Hiroshi menyangkal kalau itu hanya ear cuff. Jun bersikeras padahal Hiroshi ingin cincin Jun sebagai gantinya.
“Hiroshi, kau dan aku saudara kan?” Jun memastikan sambil merangkul Hiroshi.
“Tentu saja,”jawab Hiroshi.
“Kau harus membawa Reiko-neesan keluar dari rumah. Hanya 30 menit. Itu sudah cukup,”pinta Jun.
“Hah?! Mengapa tiba-tiba... baiklah,” Hiroshi menyanggupi.
Hiroshi dan Jun disambut oleh Reiko yang kebingungan karena pada saat itu ia tidak ingat apapun. Jun mengatakan kalau anting itu pemberian pacar Hiroshi dan Hiroshi bisa bermasalah jika anting itu hilang. Jun melangkah ke dapur dan kaget ketika Oda muncul dari sana.
“Ada apa?”tanya Oda.
“Ketika kami membawa pulang Nee-san kemarin, aku menjatuhkan antingku,”jawab Hiroshi.
“Anting?”tanya Oda lagi.
“Kami akan kembali lain waktu saja,” Jun merasa tidak enak.
“Silahkan. Aku juga akan pergi. Gunakan saja waktumu dan cari dengan baik,”kata Oda.
Oda pun pergi. Hiroshi dan Reiko mengantar Oda sampai ke mobil. Jun mengambil kesempatan untuk segera pergi ke ruang bawah tanah itu. Sialnya anjing peliharaan Oda mengikuti Jun dan mulai menggonggong.
Gonggongan anjing itu terdengar sampai keluar. Oda nampaknya tidak mudah percaya begitu saja dan memastikan seperti apa anting itu. Oda seperti sudah tahu mengapa anjingnya menggonggong seperti itu. Hiroshi mengatakan kalau itu sebenarnya hanya ear cuff berwarna perak. Mendengar jawaban Hiroshi Oda pun pergi.
Takayama kembali ke kantornya dan mulai mencari database kepolisian. Pada data Jun, Ia tidak hanya memasukkan nama Jun ke dalam database tapi seluruhnya. Mulai dari tanggal lahir, sidik jari sampai anatomi bentuk wajah.
Jun berpacu dengan waktu untuk masuk ke ruang bawah tanah dan membuka pintu gudang itu. Ia menggunakan kalungnya untuk membuka kunci pintu itu. Sementara di luar Reiko sedang menuju ke dalam rumah. Kepalang janji dengan Jun, Hiroshi sengaja mengalihkan perhatian Reiko. Hiroshi pura-pura takjub dengan air mancur di depan rumah yang seperti ikan paus. Reiko hanya tertawa melihat tingkah Hiroshi yang menurutnya mengkhawatirkan. Di dalam Jun berhasil membuka pintu itu dan terkejut melihat tumpukan senjata dan bungkusan-bungkusan opium. Dengan korek apinya, Jun memotret sebagai barang bukti. Apakah Jun akan ketahuan?
Hiroshi tidak bisa mencegah Reiko berada di luar lebih lama. Reiko keburu masuk dan melihat Jun sudah duduk manis seolah menunggu Reiko masuk. Jun berhasil menemukan anting itu di pojok dapur. Setelah itu Jun dan Hiroshi pun pamit. Reiko menyuruh anjingnya diam.
Di mobil Jun mengembalikan ear cuff Hiroshi dan berterima kasih padanya. Hiroshi memaksa Jun mengatakan apa yang sebenarnya dilakukan Jun di dalam sana. Jun mengaku kalau dia pernah berbuat sesuatu dengan Reiko. Untungnya saat itu Reiko tidak ingat apapun karena memang Reiko sangat mabuk. Tapi Jun lupa kalau ia meninggalkan sapu tangan pemberian Oda. Bisa gawat jika Oda sampai menemukan sapu tangan itu. Makanya ia meminta Hiroshi melakukan hal tadi. Hiroshi tak percaya Jun bisa melakukan hal itu, dengan Reiko pula. Jun menunjukkan sapu tangannya sebagai bukti. “Jangan bilang siapapun. Ini rahasia di antara kita berdua,”pinta Jun. Hiroshi mengerti karena ia sudah menganggap Jun seperti saudaranya.
Takayama tidak menemukan apa-apa dari berkas susulan yang diberikan Oda. Ia terlihat putus asa. Sementara Jun mengumpulkan data-data beserta foto yang baru saja didapat dari rumah Oda.
Oda ada di rumah sekarang. Keran air di watsafel menyiram pisau dan perkakas lain. Oda berdiri di samping Dingo, nama anjing peliharaannya itu. Di dalam dapur terdengar suara pukulan. Ternyata Hiroshi duduk terikat dan dipukuli hingga babak belur oleh Akio. Muka Hiroshi sudah penuh dengan luka dan darah. Oda menyuruh Akio berhenti. Oda membuka laci, mengeluarkan kantung kain dan melemparkan pada Akio. Lalu Oda mengambil alat pemukul daging dari watafel. Akio menutup kepala Hiroshi dengan kantung kain itu.
“Jangan...,” Hiroshi memelas.
“Apa yang kau sembunyikan? Apa yang sebenarnya kau cari di sini?”tanya Oda.
E-ear... cuff..,”jawab Hiroshi dengan suara lemah.
Oda mengayunkan alat pemukul itu. Hiroshi menjerit sekuat-kuatnya. Hingga ia sadar kalau sebenarnya Oda tidak memukulnya. Yang Oda pukul justru daging untuk makanan Dingo. Oda menyuruh Akio melepaskan Hiroshi.
“Senang kau bisa menemukannya,”kata Oda memegang telinga Hiroshi.
Jun hendak pergi ketika Hiroshi pulang tanpa bisa membuka pintu. Jun kaget melihat kondisi Hiroshi. Bertanya-tanya apakah Black Dragon yang melakukannya.
“Aku tidak bilang... rahasia tentang sapu tangan itu... aku menjaga janjiku... kau satu-satunya yang aku percaya... aku tidak percaya pada Boss,”ucap Hiroshi.
Jun tak percaya sikap Hiroshi. Jun pun memapah Hiroshi ke rumah sakit. Hiroshi memastikan kalau mereka itu saudara.

Sepulang dari rumah sakit, Jun mengajak Hiroshi ke sebuah bar. Hiroshi bertanya-tanya mengapa Jun mengajaknya ke tempat seperti ini. Di sepanjang gang sempit banyak gembel, orang gila dan pelacur-pelacur murahan. Salah satu dari orang gila itu menghadang Hiroshi dan meminta rokok. Hiroshi merasa terganggu dan marah-marah, tapi justru ia sendiri yang kesakitan karena luka di wajahnya. Setelah Jun memberikan rokok, orang gila itu lalu pergi.
Di bar, Jun menceritakan kalau sebenarnya orang itu adalah guru SMP nya dulu. Guru itu membawa siswa yang sudah berhenti sekolah. Dia membujuk siswa itu untuk pergi ke sekolah bersamanya. Tapi ketika sampai di gerbang sekolah, siswa itu kabur. Guru itu pun mengejarnya. Karena menerobos lampu merah, siswa itu tertabrak truk dan meninggal seketika. Orang tua siswa itu menyalahkan guru itu karena membawa paksa anak mereka. Orang tua itu pun menuntut guru itu dan pihak sekolah. Setelah itu pemeriksaan pengadilan selesai, guru itu mengalami gangguan mental dan syaraf seperti yang Hiroshi dan Jun saksikan tadi. “Benar-benar cerita yang menyedihkan,”tanggap Hiroshi.
“Kehidupan glamor Boss kita dan juga kita, diperoleh dari uang-uang orang-orang seperti itu. Berjalanlah di jalur yang benar, Hiroshi. Meskipun kau tidak bisa membuka kedai ramenmu sendiri,”pesan Jun.
“Mengapa kau tiba-tiba berkata seperti itu?” Hiroshi bingung.
“Kau tidak cocok menjadi yakuza. Kau terlalu lembut,”jawab Jun.
Aniki, kau juga akan begitu juga kan?”
“Bukankah kau menjanjikanku sebagai store manager, benar?”
Setelah itu, Jun pergi menemui Nishida sensei membawa sebotol anggur. Jun memberitahu kalau temannya yang ia ceritakan dulu (padahal dirinya sendiri) akan mengubah hidupnya dan akan kembali menjadi polisi lagi. Nishida sensei menyuruh Jun untuk menyampaikan ucapan selamat darinya.
“Jika dia benar-benar berhasil kembali, kita akan bersulang dengan anggur ini,”janji Jun.
“Bisakah kau mengatakan satu hal padaku? Benarkah kau tidak melihat mimpimu?”tanya Nishida sensei.
“Aku melihat sesuatu yang terus menerus muncul,”jawab Jun.
“Apa itu?”
“Seorang wanita cantik. Wanita cantik berjas putih,”jawab Jun.
Pagi-pagi, Jun bersiap-siap pergi dengan membawa tas besar. Hiroshi terbangun ketika Jun hendak keluar. Melihat Jun pergi dengan tas besar, Hiroshi bertanya pada Jun. Jun hanya bilang kalau ia akan pergi sebentar. Sebelum pergi Jun menyerahkan cincinnya pada Hiroshi. Hiroshi semakin bingung dengan tingkah anikinya itu. Tiba-tiba Hiroshi membuat pengakuan tentang kedai ramen yang sebelumnya diimpikannya itu. Hiroshi tidak akan bisa membuka kedai sendiri karena sebelumnya ia pernah kabur saat magang, dan bergabung dengan yakuza. Jun mencoba mendengarkan dan setelah Hiroshi selesai berbicara Jun berpesan agar Hiroshi diam di rumah dan menjauh dari rumah Oda. Jun hanya bilang kalau ia punya firasat buruk yang akan terjadi.
Sementara di kepolisian, Onodera menemui Takayama pagi ini. Onodera menceritakan kalau hari ini ia akan mengetahui gudang rahasia Oda-gumi. Takayama lah orang pertama yang diberitahu oleh Onodera.
“Aku telah menempatkan SAP (Special Armed Police) untuk berjaga-jaga. Kita bisa memusnahkan Oda-gumi sekarang. Tapi sebelum itu, pasti mata-mata Oda akan mencoba mengganggu dan menghancurkan barang bukti. Aku yakin dia akan melakukan sesuatu. Tolong awasi Oda setiap saat,”kata Onodera.
“Aku mengerti,”jawab Takayama.
Begitu Onodera keluar ruangan, Takayama memanggil Sakai. Sakai ditugaskan oleh Takayama untuk mengawasi setiap gerak gerik Onodera, 24/7. Sakai mematuhi perintah Takayama.
Jun dan Onodera berjanji untuk bertemu. Sakai benar-benar membuntuti Onodera. Begitu tahu Onodera masuk ke salah satu gedung, Sakai langsung mengontak Takayama dan memberitahukan kalau Onodera sedang menuju atap gedung. Takayama menyuruh Sakai untuk berjaga di luar gedung dan tetap mengawasi. Kemudian, Takayama menghubungi Oda. Sakai kembali keluar gedung dan menunggu bersama rekan yang lain.
Jun dan Onodera sudah berada di atap. Setelah memberikan berkas pada Onodera, Jun memastikan apakah Onodera akan benar-benar mengembalikannya jadi polisi. Onodera akan menempatkan Jun di bagian administrasi supaya Jun bisa ikut rehabilitasi dulu. Onodera memberitahukan kalau ia sudah menempatkan polisi untuk berjaga.
“Sekali kita menuju rumah Oda dan menemukan barang-barang itu, itulah akhir dari kehidupan Oda-gumi. Apa yang akan kau lakukan setelah kembali ke jalan yang benar?”tanya Onodera.
“Aku ingin berkeluarga,”jawab Jun, tersenyum.
“Benarkah? Ada wanita yang kau sukai?”
Ketika Jun dan Onodera sedang asyik membicarakan pernikahan Jun nanti, tiba-tiba Hiroshi menelepon Jun.
Aniki, dimana kau sekarang? Boss baru saja menelepon kalau kepala Inspektur (Onodera) sedang bertemu dengan anjing polisinya itu. Semua orang sedang menuju tempat itu,”papar Hiroshi.
“Aku akan segera ke sana,”jawab Jun.
Di bawah gedung, orang-orang Oda-gumi bergerombol masuk ke dalam gedung. Sakai yang melihatnya langsung menghubungi Takayama. Takayama pun bergegas pergi membawa 2 tim bersamanya.
Di dalam gedung, Akio membagi tugas untuk berpencar. Ada yang naik lift ada yang lewat tangga.
Jun dan Onodera berlari menuruni tangga dan berhenti di depan lift. “Apa kau memberitahu seseorang kalau kau akan bertemu denganku hari ini?”tanya Jun dalam keadaan panik. Semua lift sedang menuju lantai 25, tempat mereka berdiri sekarang. Onodera menyuruh Jun melarikan diri lewat scaffolding yang digunakan saat membersihkan kaca, sementara dirinya sendiri tetap akan menggunakan lift.
Jun dengan cepat berlari ke tangga darurat. Terdengar suara langkah kaki di bawahnya mendekat dengan cepat. Jun berhasil menuju atap dan turun lewat scaffolding. Sementara Onodera menunggu di balik tembok.
Orang-orang Oda-gumi mulai terlihat tidak sabar dan sangat ganas. Begitu juga dengan Hiroshi. Lift terbuka, anak buah Oda-gumi segera keluar dan segera menuju atap. Onodera mengambil kesempatan ini untuk cepat-cepat masuk ke dalam lift. Pintu lift sedikit lagi menutup. Tapi tangan Akio tiba-tiba muncul dan membuka kembali lift itu. Onodera shock. “Benar-benar kebetulan. Apa yang seorang polisi lakukan di tempat seperti ini?” Akio tersenyum melihat Onodera.
Jun berhasil turun lewat pintu belakang dan mencegat taksi yang lewat dan menyuruh supir taksi memutar ke pintu depan gedung itu. Jun berusaha menenangkan diri. Begitu di depan gedung, Jun segera berlari masuk dan melap keringatnya. BRAAK!! Sesuatu jatuh menimpa taksi yang tadi dikendarai Jun. Jun menoleh. Mata Jun terbelalak melihat tubuh Onodera teronggok begitu saja di atas taksi. Onodera tewas seketika dengan tubuh Onodera penuh luka pukul. Sakai dan rekan lain keluar melihat apa yang jatuh.
Tak lama setelah Onodera dijatuhkan, gerombolan Oda-gumi berlarian keluar gedung. Sakai dan rekannya berusaha menghadang gerombolan Oda-gumi. Baku tembak antara keduanya tak bisa dihindari. Jun masih terpaku di depan mayat Onodera. Hiroshi menariknya pergi dan kabur dengan mobil. Sakai melaporkan kematian Onodera pada Takayama.
Takayama memandang mobil di mana Onodera jatuh. Walaupun begitu Onodera tetap atasannya. Sepertinya tidak perlu sampai membunuh Onodera. Media dengan cepat memberitakan kejadian tersebut dan melaporkan kalau ada 3 orang yang meninggal dari kejadian itu. 2 yakuza dan Onodera. Anak buah Onodera di kepolisian menangisi kepergian atasannya itu.
Tampak Nishida sensei berjalan dengan penuh senyum. Hari ini ia akan merayakan kembalinya Jun ke kehidupannya semula.
Hiroshi melarikan mobil dengan kecepatan tinggi supaya mereka tidak tertangkap polisi. Jun masih tidak menyangka atasannya tewas dengan cara mengenaskan seperti itu. Satu-satunya orang yang akan mengembalikannya ke jalur yang benar.
“Shit. Orang itu, sekalipun disiksa selama 10 menit, dia tidak memberitahukan siapa polisi itu. Bayangkan 10 menit, 10 menit. Dia benar-benar bertahan. Boss bilang jika ada yang tidak datang hari ini berarti orang itulah polisi itu,”kata Hiroshi.
Tiba-tiba mobil yang dikendarai Hiroshi menabrak tumpukan kayu. Wajah Hiroshi sudah pucat. Jun memeriksa badan Hiroshi dan menemukan luka tembak di perut Hiroshi.
“Oi, Hiroshi. Kau baik-baik saja? Oi! Oi, Hiroshi!”teriak Jun.
Aniki, mengapa kau tidak mengatakannya padaku? Mengapa kau merahasiakannya? Tempat massage yang selalu kau kunjungi. Aku ingin sekali pergi denganmu sekali saja. larilah Aniki. Berhati-hatilah. Jika seseorang memandangmu biasanya orang itu adalah polisi,”Hiroshi terbata-bata. Hiroshi meregang nyawa. Jun terpaksa keluar mobil meninggalkan mayat Hiroshi. Mobil pun meledak ketika Jun pergi menjauh.
Di kantornya Nishida sensei sudah menyiapkan meja dan mendinginkan anggurnya. Namun Jun tak datang. Karena Jun tak kembali menjadi dirinya semula.
Bagaimana nasib Jun? Bisakah ia kembali normal atau ia harus menerima nasibnya sebagai pelayan Oda selamanya? Lalu sikap Takayama? Walaupun begitu Onodera masih atasannya. Apakah ia akan selamanya mematuhi perintah Oda? Simak lanjutannya di sekuel selanjutnya.

Written and Image by Ima [Twitter]
Only Posted on PelangiDrama
DON’T REPOST TO OTHER SITE!!!!
Read more...
 
Pelangi Drama © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger . Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here