Tahun Baru tiba, kelompok Pangeran ke-8 saling berkumpul di kediamannya dan
saling memberikan penghormatan dan tertawa riang. Keadaan cepat berubah ketika
salah satu putra Pangeran ke-8 menyalakan petasan yang dimana beliau langsung
melarangnya.
Jelas hal ini membuat Pangeran ke-9 geram. Pangeran ke-14 mencoba
menenangkan dengan memberi tahu mereka tindakan Ibunda Kaisar Yongzheng yang
tidak mau menerima gelar Ibu Suri, begitu mendengarnya sontak Pangeran ke-9 dan
10 tertawa girang kecuali Pangeran ke-8.
Pangeran ke-8 meminta mereka untuk tidak terlalu gegap gempita menerima
kabar tersebut dan harus selalu berhati-hati karena Yongzheng bukan orang
bodoh, setiap langkahnya sudah direncanakan dan juga mengawasi gerak-gerik
grup Pangeran ke-8.
"Dia jauh lebih berfikir dan penuh dengan rencana, dan juga tidak membiarkan satu jejakpun tertinggal begitu menjalankannya. Mungkin, dia sedang merencanakan sesuatu."
Lantas kenapa Yongzheng tidak serta merta menghukum mereka begitu mengetahui
merekalah dalang dibalik tragedi Pangeran ke-8? Pangeran ke-9 memperkirakan
bahwa mereka (grup P. 8) masih mempunyai kekuasaan sehingga Yongzheng tidak mau
terang-terangan menghancurkan mereka.
P. ke-9 : "Kakak ke-8, kenapa dirimu begitu mudah menyerah?"
P. ke-8 : "Seperti yang sudah dia (Ruoxi) prediksi, Pangeran ke-4 adalah musuhku yang sesungguhnya."
Pangeran ke-8 secara tiba-tiba menjemput Ruoxi, dia diberitahu Jie'Jie-nya
sakit keras. Setibanya di kediaman Ruolan, air matanya pun tumpah. Pelayan
Ruolan langsung bersimpuh di depan Ruoxi, bisa ditebak keadaan Jie'jie-nya
sangat parah. Ruoxi menahan isak tangisnya, dan berbalik menghadap Pangeran
ke-8, seakan mengatakan pergilah..dan Pangeran ke-8 mengerti, memandang
sejenak dengan tatapan sedih kediaman Ruolan dan berbalik pergi.
Ruolan bangun ketika menyadari kehadiran Ruoxi. Kakak beradik yang lama
tidak bertemu pun melepas rindu sambil berbaring dan author terpaksa meng-cut
adegan ini. Intinya tentang masa-masa ketika mereka hidup di gurun Gobi.
Ketika menyadari Jie'jie-nya tidak lama lagi bertahan, Ruoxi kembali
terisak. Ruolan hanya merasa bahagia karena merasa sebentar lagi bertemu dengan
kekasihnya yang terlebih dahulu meninggal.
Di luar, Ruoxi menanti Jie'jie-nya yang sedang tidur. Dirinya pun tidak
terlalu nafsu makan. Pangeran ke-10 datang untuk mengucapkan salam perpisahan
ditemani Pangeran ke-14. Ruoxi bertanya kenapa Pangeran ke-10 harus pergi ke
Mongolia, namun dia langsung sadar. Semuanya titah Kaisar. Pangeran ke-10
menghela nafas.
Pangeran ke-14 menyinggung keberadaan Rouxi di sisi Kaisar? Tentu saja belum
diberinya gelar/status apapun. Pelayan bukan karena para kasim bahkan kepala
kasim memberi hormat, selir juga bukan karena belum ada status sah. Pangeran
ke-14 jelas kesal.
Ruoxi hanya tertunduk diam seribu bahasa lalu memakan makanan yang
disodorkan Pangeran ke-10.
Pangeran ke-14 jelas tahu giliran dirinya dikirim ke tempat jauh akan segera
tiba. Diapun bersikeras agar Ruoxi untuk keluar dari Istana.
P. ke-10 : "Kakak ke-14, ini bukanlah hal yang mudah untuk Ruoxi putuskan. Bukan hanya dia, namun juga kita tidak bisa bebas melakukan apapun sekehendak hati."Ruoxi : "Aku tidak tahu. Ada masanya aku ingin pergi, namun terkadang aku tidak ingin."P. ke-14 : "Aku rasa karena kau tidak sanggup meninggalkan dia!" (alias Yongzheng)
Ruoxi segera bangkit ketika diberitahu jie'jie-nya telah bangun. Namun Pangeran
ke-14 menahannya, mengingatkan akan pembicaraan mereka dulu saat Ruoxi di
bagian laundry. Ruoxi binggung, Pangeran ke-14 pun membiarkan ia
pergi.
Ruoxi mendapati Jie'jie-nya sedang bersolek, ia ingin sebisa mungkin tampil
cantik ketika bertemu dengan 'kekasihnya'. Dia akhirnya terjatuh karena lemah.
Ruolan menceritakan kisahnya bersama orang yang dicintainya. Namun dirinya
takut karena masih menyadang gelas ce'fujin Pangeran ke-8.
Dan Ruoxi tahu apa yang harus dilakukannya. Meminta Pangeran ke-8
menceraikan Ruolan. Begitu mendengar permintaan Ruoxi dan dia berlutut, Pangeran
ke-8 hanya tersenyum pahit dan bertanya apa ini kemauan Ruolan? Ruoxi
mengiyakan.
"Yang Mulia tahu pasti bahwa hati kakak hamba tidak pernah untuk anda, aku harap Anda mau melepaskannya agar ia bebas mencari kekasihnya."
Ming Yue datang dan mengatakan Pangeran ke-8 tidak akan dihukum walau
menceraikan Ruolan, karena bagaimanapun Yongzheng tetap akan mencari kesalahan
apapun yang diperbuat Pangeran ke-8. Ming Yue meminta Pangeran ke-8 untuk
menyetujui keinginan Ruolan.
Tinta disiapkan oleh Ming Yue, Pangeran ke-8 bangkit dan menulis surat cerai
dengan terpaksa dan mimik sedih. Tanpa banyak ucap, dirinya menstempel dan
pergi begitu saja. Semuanya tahu, Pangeran ke-8 sedang remuk hatinya (Pangeran
ke-8 jatuh cinta pada pandangan pertama, pasti sulit untuknya).
Ruoxi segera kembali menemui Ruolan dan memperlihatkan surat cerainya.
Betapa bahagianya Ruolan, kini dia bisa lega, dengan menggenggam erat surat
tersebut dia kini bebas. Ruoxi menangis sedu sedan, Ruolan kini telah pergi
untuk selamanya.
Malamnya, Pangeran ke-8 berdiri mematung di depan kediaman Ruolan, memandang
hampa. Ming Yue menghampirinya..
"Hatimu sakit. Dan hatiku pun ikut sakit, aku tahu keberadaanku di hatimu tidak sama seperti Ruolan. Tapi untuk Pangeranku, aku selalu ada untukmu, tidak pernah mengabaikanmu. Jika kau ingin menangis, aku akan menangis bersamamu. Jika kau merasakan penderitaan, aku juga akan menderita bersamamu. Kau tidak pernah sendirian."
Pangeran ke-8 pun menangis di bahu istrinya, Ming Yue.
Di istana, Yongzheng mencoba menjelaskan kepada Ruoxi ia sudah melakukan semampunya, menyetujui perceriannya, menguburkannya dengan kekasihnya dulu secara diam-diam. Memang dia tidak mengijinkan Ruoxi kembali ke rumahnya untuk mengantar Ruolan. Ini yang membuat Ruoxi marah.
"Aku tahu ketika kau pergi, kau tidak ingin kembali lagi..Aku tahu begitu kau menginjakan kan rumah yang kau rindukan, hatimu tidak mau kembali ke sini."
Ruoxi menatap nanar ke arah Yongzheng. Tiba-tiba Cheng Huan datang, dan senyum Ruoxi kembali. Terbesit sesuatu di benak Yongzheng.
HIHIHIHIHI..Malamnya, Ruoxi yang berniat istirahat tidak terkejut Yongzheng datang, namun yang mengejutkan perkataan Yongzheng selanjutnya, "Aku menginginkanmu." Ruoxi sadar, Yongzheng datang bukan sekedar istirahat bersamanya. Ruoxi menunduk, merasa bingung.
"Aku akan menunggu sampai hatimu menghendakinya juga."
Kemudian, mereka duduk berbicara. Yongzheng ingin Ruoxi memiliki anaknya, karena begitu melihat Ruoxi bersama Cheng Huan, Yongzheng merasa dengan kehadiran anak mereka akan lengkap. Namun Yongzheng bingung melihat Ruoxi yang keukeuh.
"Aku bertahan karena aku tahu pasti nasib dari setiap orang."
Ruoxi pun meminta Yongzheng menjadikannya Permaisuri, namun ditolaknya. Ruoxi minta Yongzheng tidak menemui Selir Nian, ditolaknya. Dia pun bertanya kenapa Ruoxi seakan mempersulitnya. Ruoxi bertanya, lantas apa yang bisa dijanjikan untuknya?
"Sekarang, aku memiliki seluruh dunia, namun tidak ada artinya tanpamu. Yang bisa aku berikan hanyalah hatiku saat ini."
Yongzheng pun menjelaskan kenapa dirinya belum juga memberikan gelar kepada Ruoxi (selir), karena dia bisa bebas menemuinya tanpa ada aturan apapun (yang nantinya malah menjadi bumerang bagi Yongzheng dan kesempatan Ruoxi untuk lepas darinya dengan cara menyakitkan bagi Yongzheng-spoiler).
Dengan bahasa tubuh, Ruoxi menggerai rambutnya.
Keesokan harinya, Yongzheng, Pangeran ke-13 dan Ruoxi melihat para pengeran saling berkejaran bersama Cheng Huan, tampak ceria. Pangeran ke-13 meminta Ruoxi untuk tidak merisaukan kepergiaan Pangeran ke-14 atas perintah Yongzheng, ia pun menjelaskan bahwa Yongzheng tidak ingin Ruoxi mencemaskan permasalahan antara para pangeran, mengingat kondisi kesehatan Ruoxi.
"Ruoxi, ada beberapa hal yang berada di luar kendalimu. Maka biarkanlah.."
Sementara itu, di balairung istana, orang Yongzheng memberi tahu bahwa mereka tidak bisa membiarkan Ibunya untuk tidak menerima gelar Ibu Suri. Hal ini jika berlangsung terus, maka akan menggoyahkan kekuasaannya.
*Bersambung*
















