[Sinopsis K-Drama] Faith Episode 4

1 comments
 Sinopsis Faith Episode 4

Yang-sa membukakan lembaran-lembaran yang perlu ditandatangani oleh Ki-cheol sambil bercerita soal Raja yang hanya mempercayai Choi Young seorang. Ki-cheol bertanya siapa nama ayah Choi Young.
Sinopsis Faith Episode 4
“Choi Won-jik,” jawab Yang-sa.
“Choi Won-jik adalah keturunan Choi Joon-ong, kontributor terpuji selama pendirian era Goryeo. Choi Ong, kakeknya, adalah cendekiawan literatur yang mengajar Raja Chungnyeol.”
Ki-cheol heran mengapa seseorang dengan garis keturunan bagus hanya menjadi ahli pedang.
“Saat ayahnya meninggal, Choi Young yang berusia 16 tahun memutuskan belajar pedang. Rumor mengatakan bahwa dia adalah pemimpin termuda Juk Wul Dae.” Ki-cheol terhenyak.
“Juk Wul Dae adalah sekelompok pria top yang menggunakan ilmu tenaga dalam dan menyusup ke kamp musuh untuk menyerang. Karena mereka datang dan pergi saat malam hari dengan keahlian tingkat tinggi bagaikan hantu, mereka juga dijuluki Gwi Wul Dae. Hanya dengan melihat bendera Bulan Sabit Merah mereka, prajurit Jepang akan berlari mundur. Orang-orang Jepang sudah tidak memikirkan apa-apa lagi saat mereka kabur menyelamatkan diri,” jelas Yang-sa.
“Aku pernah mendengar semua hal itu dan bagaimana orang-orang di kelompok itu menemui ajal mereka,” kata Ki-cheol dengan gusar. Dia bertanya pada Yang-sa apa percobaan pembunuhan pada Putri dari Yuan digagalkan oleh Choi Young?. Yang-sa membenarkan dugaan Ki-cheol. “Aku bahkan mendengar Raja baru sangat lemah bahkan sampai-sampai tidak bisa menunggang kuda,” kata Yang-sa kemudian tertawa.

Tawa Yang-sa terhenti saat Ki-cheol mengatakan dia ingin memiliki Choi Young, pria dari grup Juk Wul Dae. Dengan mendapatkan Choi Young dia akan semakin kuat. Dia memerintahkan Yang-sa melakukan segala cara untuk membujuk Choi Young, termasuk dengan uang dan kekayaan.
Choi Young berada di suatu tempat asing. Dia melihat ke sekeliling dan melihat seorang pria tua duduk bersila. Dia mendatangi pria itu. Saat sampai di belakang pria itu, pria itu menoleh kemudian bertanya, “Apa kau masih belum menemukannya?”
Choi Young terbangun dari tidur singkatnya. Dia terengah-engah menahan sakit, keringatnya menetes.
Dol-bae memanggil Choi Young dan melapor bahwa dia sudah mengumpulkan 100 pria yang bisa dipercaya.
“Lalu bagaimana dengan sang Ratu?” tanya Choi Young.
Sinopsis Faith Episode 4
Dayang Choi memerintahkan anak buahnya menempati posisi masing-masing untuk menjaga keamanan Ratu.
“Dayang Choi berkata dia yang akan mengurus keamanan Ratu dan anda diminta fokus pada menjaga Raja,” jelas Dol-bae Choi Young mengangguk setuju dengan pengaturan ibunya, Dayang Choi.
 Sinopsis Faith Episode 4
Choi Young berjalan bersama beberapa anak buahnya, memeriksa pengamanan para tentara.
Dol-bae bertanya mungkinkah pihak musuh masih berani membahayakan Raja dan Ratu dengan keamanan seperti ini. Choi Young berkata bahwa dia juga memikirkan hal itu, namun dia membuang jauh pikiran itu setelah bertemu dengan Ki-cheol. “Apa pendapat Anda tentang dia?” tanya Dol-bae.
“Dia sangat... menakutkan,” aku Choi Young.
Dol-bae tidak menyangka Choi Young akan menjawab seperti itu. “Apa?”
“Kau sudah melihatnya sendiri. Saat pesta, ketika kau berusaha membuat dia berlutut atas perintah Kerajaaan.” Dol-bae berpendapat bahwa seandainya mereka memaksanya, dia akan mau berlutut.
Choi Young menolak teori Dol-bae. Dia berkata bahwa bila mereka terlalu mendorong Ki-cheol, dia akan mengarahkan usaha busuknya ke Raja, alih-alih ke pengawal Raja. “Bila situasi menjadi buruk dan ada usaha membunuh Raja, maka darah pertama yang mengalir adalah dari kita, Tentara Pengawal Kerajaan. Aku tidak mau mati dengan cara seperti itu.” Choi Young berjalan lagi, memeriksa keadaan. Dia menyuruh menempatkan penjaga di atap istana bagian Barat. Dol-bae masih terus bertanya soal rencana Choi Young pada Ki-cheol, namun Choi Young menyuruh Dol-bae fokus pada penjagaan istana. Dol-bae menurut dan pergi menjaga atap istana bagian Barat.

Sepeninggal Dol-bae, Choi Young meletakkan tangannya di tiang dan menyandarkan kepalanya, merasa kesakitan. Dae-man dengan khawatir bertanya keadaan Choi Young. “Menurut dokter dari Surga tadi...”
“Aku tidak apa-apa,” potong Choi Young. “Kau dengar sendiri bahwa hanya 100 orang yang bisa dipercaya. Dan apa yang akan terjadi kalau ada satu orang pingsan?”. Choi Young tidak kuat berdiri lagi dan akhirnya duduk. Dae-man akan membantu namun ditolak Choi Young. “Kalau aku pingsan sekarang, kesempatan terakhir kita akan hilang,” kata Choi Young sambil menutup matanya. Dae-man merasa khawatir, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
Sinopsis Faith Episode 4
Eun-soo diberi baju ganti oleh Jang-bin, namun karena baju itu berlapis-lapis dia hanya mengenakan baju dalam. Jang-bin menyuruhnya memakai baju luarnya, karena tidak pantas hanya mengenakan baju dalam dan bertemu orang-orang. Eun-soo terpaksa menurut. Gadis bisu yang disuruh Choi Young mendampingi Eun-soo datang dengan berbagai macam obat-obatan yang bisa menghilangkan racun dalam tubuh Choi Young.  Gadis itu ternyata ahli obat-obatan. Jang-bin menerangkan berbagai macam fungsi dan cara penggunaan obat itu, namun Eun-soo tidak mengerti sama sekali. Jang-bin yang heran bertanya bukankah Eun-soo penerus Hwa Ta?. Eun-soo mengenali nama Hwa Ta, namun dia mengira Jang-bin bertanya soal metode sumpah kedokteran Hwa Ta. Dia menjawab bahwa sekarang mereka menggunakan metode sumpah Hippocrates. Jang-bin yang masih kebingungan tidak sempat bertanya lagi karena Eun-soo dipanggil oleh dayang Raja.

Choi Young berjalan di dalam istana dan mendengar suara Eun-soo dipersilakan masuk ke ruang kerja Raja.
Sinopsis Faith Episode 4
Eun-soo masuk ke ruang kerja Raja. Dia melihat salah satu guci dan bertanya pada si dayang berapa harga guci, tepat saat Raja muncul di belakangnya. “Apa kau suka guci itu?” tanya Raja.
Eun-soo dengan gelagapan memberi Raja salam dengan membungkukkan badannya. Eun-soo meminta maaf karena dia tidak tahu cara memberi salam yang tepat pada Raja. Raja tersenyum. Dia berkata bahwa mereka berbicara dengan informal saja karena Raja juga tidak tahu bagaimana harus memanggil Eun-soo.
Eun-soo merasa gembira lalu dengan santai duduk di kursi. Il-shin akan menegur Eun-soo karena mendahului Raja, namun dihentikan Raja. Raja duduk lalu bertanya bagaimana fasilitas kerajaan yang diterima Eun-soo.
“Aku biasanya bukan tipe pengeluh, tapi… karena kau bertanya padaku… Makanannya terlalu hambar dan kelihatannya di sini tidak ada kimchi. Kimchi mengandung bubuk merica dan cabai. Dan juga, aku sebenarnya lebih suka air panas, tapi…”. Raja menahan senyum, Il-shin terperangah mendengar deretan keluhan Eun-soo, sementara dayang Raja mendengarkan dengan seksama.Eun-soo sadar bahwa dia terlalu banyak mengeluh dan dia menutup mulut. Raja menoleh pada dayang. “Saya akan memperhatikan hal-hal itu,” jawab dayang Raja. Eun-soo merasa senang karena keluhannya ditanggapi, sementara Il-shin melirik kesal pada Eun-soo. Il-shin menganggap Eun-soo tidak sopan dan tidak tahu berterima kasih. Raja menoleh lagi ke Eun-soo dan berkata bahwa dia ada permintaan besar. “Apakah kau mau mendengarkan permintaanku?” tanya Raja. Eun-soo menyadari bahwa apa yang akan dikatakan Raja adalah hal serius.
Sinopsis Faith Episode 4
Choi Young berjalan di samping Ratu ditemani para dayang. Ratu bertanya apa semua orang mengharapkan dia dan Raja meninggal. Choi Young menjawab bahwa tidak semua begitu.
“Kalau begitu hanya ada beberapa orang?” tanya Ratu lagi.
“Saya hanyalah seorang pejuang yang tidak tahu apa-apa tentang politik,” jawab Choi Young, diplomatis.
“Aku bertanya padamu,” kata Ratu lagi. Choi Young sadar dia tidak bisa mengelak dari pertanyaan Ratu. Namun sebelum menjawab, dia mengajukan pertanyaan pada Ratu dahulu. “Ada pertanyaan yang ingin saya ajukan pada Anda. Kapan Anda belajar bahasa Goryeo? Anda diminta menikah dengan Raja sejak 2 tahun lalu. Mempelajari bahasa Goryeo dalam jangka waktu 2 tahun dan bisa berbicara dengan lancar sepertinya sangat sukar.”
Ratu mengerti arah pertanyaan Choi Young. “Jadi, kau enggan membicarakan permasalahan Goryeo pada keturunan dinasti Yuan?”
“Sepertinya pertanyaan saya sudah melampaui batas. Saya menarik kembali pertanyaan saya,” kata Choi Young.
Ratu dan rombongan sampai di kamarnya. Ratu lalu masuk diikuti Choi Young dan Dayang Choi.
Ratu mulai bercerita. Dia melihat seseorang berasal dari Goryeo 8 tahun lalu dan dia ingin berbicara dengan orang itu, jadi dia mempelajari bahasa Goryeo. “Apakah jawabanku sudah menjawab pertanyaanmu?”
Ratu duduk dan menyuruh Choi Young duduk juga. “Sekarang giliranmu. Jawablah dengan jujur seperti aku menjawab pertanyaanmu,” kata Ratu.
“Hanya satu orang yang menginginkan kematian Raja dan Ratu Goryeo,” kata Choi Young.
“Kakak tertua Keluarga Ki,” tebak Ratu. “Apakah dia yang kau maksud?” Choi Young terkejut karena Ratu tahu. “Kekuatan Ki-cheol bagai badai. Dibandingkan dengan kekuatannya, kekuatan kita hanya seperti api kecil,” kata Ratu lagi. Wajah Dayang Choi prihatin. “Kekuatan kita sama,” jawab Choi Young singkat.
Ratu bertanya bila dia dan Raja meninggal, apakah Choi Young akan menjadi kepala Woo Dal Chi Ki-cheol? Terjaga di malam hari dan mengorbankan hidupnya di peperangan demi Ki-cheol?
Choi Young tidak berusaha menutupi kenyataan. Dia dengan jujur menjawab bahwa hal itu (menjadi kepala pengawal Ki-cheol) mungkin saja terjadi, kalau dia belum mati saat Ki-cheol menjadi Raja.
“Karena itukah kau berusaha membunuh dirimu sendiri?” tanya Ratu. Choi Young melihat ke Ratu, Dayang Choi berusaha menjaga ekspresi datarnya. “Apakah kau lelah karena harus mengorbankan nyawamu demi Raja yang sekarang maupun selanjutnya?”tanya Ratu lagi. Choi Young tidak menjawab. Ratu tiba-tiba berdiri, Choi Young juga akan berdiri, namun terduduk lagi dengan kaget saat Ratu meletakkan tangan di dahinya. Dayang Choi juga ikut kaget melihat tindakan Ratu. “Yang Mulia,” kata Choi Young.
“Badanmu panas. Aku dengar kau menolak menerima perawatan?” tanya Ratu dengan lembut.
“Tolong turunkan tangan Anda,” pinta Choi Young.
Ratu menurunkan tangannya lalu berkata, “Jangan mati. Ini perintah Ratu.” Mata Ratu menyiratkan sesuatu. (hmmmm…). Choi Young terdiam.
Sinopsis Faith Episode 4
Raja meminta Eun-soo menjadi kepala dokter, namun permintaan itu ditolak oleh Eun-soo. Dia berkata bahwa dia akan segera kembali ke asalnya. Dia akan menganggap tidak ada yang terjadi asal Raja  memberinya vas Goryeo atau lukisan. (masih aja otak uang hahaha)
“Bagaimana kau akan pulang?” sela Il-shin.
“Dari ‘pintu’ yang dulu,” jawab Eun-soo polos.
“Tidakkah kau lihat ‘pintu’ itu sudah tertutup?” tanya Il-shin lagi. Eun-soo masih mengira bahwa ‘pintu’ itu bisa dibuka tutup dengan mudah. Il-shin dengan pongah menjelaskan bahwa ‘pintu’ itu ribuan tahun lalu dilalui oleh Hwa Ta dan tidak ada seorang pun yang tahu kapan ‘pintu’ itu akan terbuka lagi. Jawaban Il-shin justru membuat marah Eun-soo. Dia menggebrak meja, mengira bahwa Il-shin sengaja mengarang-ngarang cerita. Il-shin kaget, dia menatap Raja, meminta pertolongan. “Dokter,” sela Raja. “Goryeo sudah di bawah pemerintahan Yuan selama bertahun-tahun. Rakyat Goryeo harus bekerja keras untuk memenuhi permintaan Yuan. Mereka sama saja dengan orang mati. Bukan hanya Yuan. Negara mana pun di bawah Yuan―”. Perkataan Raja disela Eun-soo. Eun-soo berkata bahwa semua politikus mengatakan hal yang sama sehingga dia pada akhirnya tidak bisa diam saja. Il-shin menjadi marah dan membentak Eun-soo karena dia menyela Raja. “Lihat! Kalau ada rakyat mengeluh sedikit saja, para pejabat akan marah,” tunjuk Eun-soo pada Il-shin. Il-shin menjadi geregetan, Eun-soo memandang Il-shin dengan tatapan melawan. Raja bukannya membela Il-shin, dia justru menyuruh Il-shin diam saja. Raja menjelaskan lagi persoalan yang dialami Goryeo. Dia bekata bahwa sejak di bawah pemerintahan Yuan, semua Raja diharuskan memakai nama Choong (berarti loyal) di depan nama mereka. “Choong?” Eun-soo berusaha mengingat-ingat sejarah.
“Terutama Raja sebelumku, Raja Choong Mok―”
“Choong Mok?” sela Eun-soo lagi. Eun-soo berusaha mengingat sambil berbicara sendiri. “Kalau begitu sekarang adalah era terakhir Goryeo…”. Il-shin menjadi penasaran. Eun-soo bertanya pada Raja siapa nama raja sebelum Choong Mok?. “Kalau sebelum Raja Choong Mok yang sekarang diasingkan, maka Raja Choong Hae, dan sebelumnya―”

Perkataan Il-shin disela tepukan tangan Eun-soo. “Choong Hae! Choong Mok!” kata Eun-soo dengan gembira. Dia bercerita bahwa dia buruk dalam sejarah, namun dia punya ingatan cukup bagus. Dia lalu mulai menyanyi sambil menyebutkan urutan nama raja menurut sejarah. “Tae-hye-jeong-gwang-gyeong-seong-mok-hyeon-deok-jeong-moon-soon-seon-heon..” Raja menoleh pada dayang yang terkesima dengan nyanyian Eun-soo. Il-shin menatap Eun-soo seakan-akan Eun-soo jadi gila. “Sook-ye-ee-umm-umm-siapa ya? Chung--chung-yeol-seon-suk-hye-mok-jeong-guk. Oke! Choong Mok, Choong Jeong? Gong…” Eun-soo menutup mulutnya dengan tidak percaya. “Apa kau Gongmin yang itu?”
“Dokter dari Surga, memanggilku Raja Gongmin?” tanya Raja dengan takjub.
“Dua orang setelah Choong Mok adalah Gongmin! Itu kata sejarah!” kata Eun-soo dengan gembira.
Il-shin menjadi senang karena berarti tidak ada lagi nama Choong di era pemerintahan Raja Gongmin.
Raja masih belum yakin dengan perkataan Eun-soo. “Kalau begitu… kalau dia adalah putri dari Yuan jadi… Putri Nogoog?” Eun-soo menjadi bersemangat. “Raja Gongmin dan Putri Nogoog, benar-benar mengesankan! Kalian berdua sangat terkenal!”. Il-shin menjadi sangat senang, Raja sedikit tersipu.
“Kau bisa menggambar kan?” tanya Eun-soo memastikan.
Il-shin mengangguk-angguk dengan semangat. “Sedikit…,” jawab Raja, merendah.
“Aku melihat lukisan yang kau lukis sendiri! Kalau kau pergi ke Mapo Gu (salah satu daerah di Seoul) ada tempat suci untuk mengenang Raja Gongmin. Ada lukisan di sana! Tepat di sampingnya ada tempat suci untuk Choi Young, juga.”
“Choi Young? Maksudmu Jenderal Woo Dal-chi? Kenapa orang dari surga tahu tentang Choi Young juga?”ejek Il-shin. “Jendral? Maksudmu, orang yang menculikku, yang aku tusuk…” Eun-soo terperangah.
Dayang Raja menyampaikan perkataan Eun-soo pada teman-temannya. Salah seorang dayang pergi menjauh. Pengawal Ratu berbisik-bisik pada dayang Ratu yang lain dan mereka kemudian berpencar.

Salah satu dayang Raja berbicara pada seorang pengawal dan pengawal itu langsung lari menuju kediaman Ki-cheol.
Sinopsis Faith Episode 4
Choi Young menemui Jang-bin di kediaman pengawal. Choi Young menunjukkan kertas yang ada bercak darah pada Jang-bin. Choi Young bertanya apa Jang-bin bisa membedakan itu darah orang yang diracun atau tidak?. Choi Young menoleh pada gerombolan pengawal yang sedang berbisik-bisik. Dia merasa curiga.
Jang-bin berkata bahwa bercak darah itu agak aneh. Sebelumnya, mereka harus memastikan apakah itu darah manusia atau bukan. Jang-bin berkata dia akan membawa kertas itu untuk di-cek.
Choi Young mengantarkan sampai ke pintu. Choong-sik mengawal Jang-bin sampai ke istana. Coi Young lalu menanyai Joo-seol soal apa yang mereka bicarakan tadi. Joo-seok berkata bahwa ada yang tidak percaya bahwa Choi Young sendiri yang membawa Eun-soo dari Surga. Choi Young menjadi marah dan menendang perut pengawal itu.
“Siapa yang mulai membicarakan soal kedatangan dokter itu?” tanya Choi Young, menahan marah.
“Bukan kami. Gosip itu muncul dari kediaman Raja,” kata Joo-seok sambil kesakitan.
Deok-man dan Dol-bae membenarkan jawaban Joo-seok. Dayang Raja menyebarkan berita itu dan berita sudah menyebar luas. Bahkan orang-orang di pasar membicarakan Eun-soo yang datang dari surga dan bahwa Eun-soo menyelamatkan Ratu dan bisa meramal masa depan. Joo-seok berkata bahwa mereka ditanyai oleh orang-orang dan mereka membenarkan berita itu. Choi Young menjadi tegang lalu pergi keluar.
 
Eun-soo sedang diajak berkeliling oleh Dayang Choi. Di tangan Eun-soo ada vas yang tadi dikaguminya. Dayang Choi berkata bahwa Raja memerintahkan agar Eun-soo diberi kamar sesuai keinginan Eun-soo.
“Jadi masih ada kamar berukuran lebih besar dari ini? Ayo kita lihat! Aku sangat suka melihat-lihat kamar,” kata Eun-soo dengan semangat. Eun-soo baru saja akan berjalan saat dia bertabrakan dengan Choi Young. Choi Young langsung menyeret Eun-soo pergi. “Heeii! Young-a!” teriak Dayang Choi namun tidak digubris Choi Young.
 
Choi Young mendorong-dorong Eun-soo agar terus berjalan.
Eun-soo yang tidak menyadari situasi bertanya apa dia yang namanya Choi Young?
Choi Young tidak menggubris pertanyaan Eun-soo. Dia justru berkata bahwa karena dia tidak bisa bergerak bebas, dia akan menempatkan beberapa penjaga terpercaya di samping Eun-soo. Eun-soo tidak begitu saja menerima perintah Choi Young. Dia terus bertanya mengapa harus ada penjaga di sampingnya.
Choi Young meminta Eun-soo mendengarkan saja dan melakukan perintahnya. Eun-soo berhenti berjalan dan berkata dengan sombong bahwa dia diminta menjadi dokter kerajaan oleh Raja, maka Choi Young seharusnya menjawab permintaannya.
“Kau di sana,” panggil Choi Young. Tidak ada yang muncul. “Kau di sana!” panggil Choi Young lagi dengan keras. Gadis bisu yang bernama Deo-gi muncul. Eun-soo kaget. “Apa kau punya karung?”
Deo-gi dengan senang hati mengeluarkan karung. Choi Young memerintahkan agar Eun-soo dimasukkan karung dan mulutnya ditutup karena dia sangat berisik. Deo-gi sudah akan maju saat dihentikan Jang-bin. Jang-bin menegaskan bahwa Eun-soo di bawah perintah Raja, maka Choi Young tidak bisa membawa Eun-soo pergi seenaknya. Choi Young langsung paham bahwa itu adalah trik Il-shin. Eun-soo berdiri dengan pongah di samping Jang-bin sambil menunjukkan vas pemberian Raja. Choi Young oleng dan pandangannya mengabur. Setelah terhuyung-huyung beberapa kali, Choi Young jatuh pingsan. Eun-soo yang kaget menjatuhkan vas yang dipegangnya.
Yang-sa membicarakan soal rumor seorang dokter yang datang dari surga bisa membangkitkan orang mati dan melihat ke masa depan. Ki-cheol sedang tiduran sambil mukanya ditutup kain.
Tidak berapa lama Soo-in tiba dan bertanya pada Yang-sa apa yang sedang dilakukan Ki-cheol. Yang-sa menjelaskan bahwa Ki-cheol sedang dirawat dengan obat terbaru dan dia akan menyalakan api untuk memaksimalkan kerja obat. Soo-in berkata bahwa dia yang akan menyalakan api. Yang-sa meminta agar api tidak terlalu besar. Soo-in melepas sarung tangan dan mengarahkan tangannya ke tanaman, api mulai menyala. “Apa segitu cukup?” tanya Soo-in.
Setelah mendapat persetujuan Yang-sa, Soo-in mendekati Ki-cheol dan mulai menyalakan api di wajah Ki-cheol. Tidak berapa lama, dia menghentikan api. Kain di wajah Ki-cheol dibuka, dan tidak ada sedikit pun luka bakar di wajah Ki-cheol. Ki-cheol menanyakan soal surat yang dikirim oleh Soo-in melalui burung rajawali. Apakah dokter itu yang dimaksudkan oleh Soo-in? Dokter yang menyelamatkan nyawa Putri Nogoog? Dan apakah Soo-in melihat sendiri dokter itu?
Soo-in dengan manja menjawab bahwa bila dia melihat dokter itu, maka dia akan membawa dokter itu dan tidak pernah melepaskannya. Yang-sa berusaha mendebat dengan mengatakan bahwa itu hanyalah rumor, tidak mungkin ada dokter dari surga. Bantahan Yang-sa diabaikan Ki-cheol karena kalau rakyat percaya ada dokter dari surga, maka segalanya bisa kacau. Soo-in dengan dingin menyarankan agar dia membawa Eun-soo ke Ki-cheol atau dia bisa langsung membakar Eun-soo. Ki-cheol berpikir sejenak lalu menyuruh Yang-sa menyampaikan pada para pejabat bahwa dia besok akan bertemu dengan Raja.
“Namun sebelum itu…,” Ki-cheol menoleh ke Soo-in. Mereka berpandangan dan tersenyum saling mengerti.
Sinopsis Faith Episode 4
Choi Young dibawa ke ruang kesehatan. Saat Choi Young terbangun dari pingsannya. Jang-bin segera membantu Choi Young bangun. Jang-bin berkata bahwa Choi Young pingsan selama satu jam. “Aku tidak pingsan,” bantah Choi Young.
“Baiklah, kau tidur seperti orang pingsan. Tidak ada yang tahu soal itu selain aku, Deoki, dan wanita itu,” kata Jang-bi. Choi Young menoleh dan melihat Eun-soo duduk di pojok. Eun-soo bertanya pada Jang-bi apakah tanaman itu bisa sebagai anti biotik. Jang-bin lalu keluar untuk mengambil obat. Eun-soo berdiri dan mengambilkan baju-baju Choi Young sambil memuji-muji badan bagus Choi Young.
Eun-soo lalu bertanya lagi apa dia benar-benar Choi Young? Choi Young terkesima dengan kemampuan meramal Eun-soo. Eun-soo lalu berkata bahwa dia merasa bersalah karena melukai orang sehebat Choi Young. Tiba-tiba Choi Young melihat bola dan mendorong tiarap Eun-soo. Bola itu meledak di belakang mereka. Choi Young mengintip dan melihat Soo-in yang tersenyum licik. Choi Young menoleh ke belakang dan melihat pedangnya, masih agak jauh dari jangkauannya.
Jang-bin masuk sambil membawa obat. Soo-in melempar bola granat ke Jang-bin, namun Jang-bin berhasil menghindar dengan membuka kipasnya. Kesempatan itu dimanfaatkan Choi Young untuk mengambil pedangnya dan mengejar Soo-in, sebelumnya dia berpesan agar Eun-soo tidak berdiri.
 Sinopsis Faith Episode 4
Jang-bin melihat Eun-soo jongkok di bawah dan mendekati Eun-soo dengan panik, mengira ada luka di tubuh Eun-soo. “X-men..,”kata Eun-soo sambil ketakutan. “Wanita itu, X-men… Kekuatannya…,” Eun-soo lalu memeluk Jang-bin. Di saat bersamaan Deo-gi masuk sambil membawa pedang. Mukanya menjadi sedih saat melihat Eun-soo dan Jang-bin berpelukan.
 
Choi Young mengejar Soo-in. Soo-in berkali-kali melemparkan bola granat yang telah dia nyalakan dengan kemampuan apinya, namun Choi Young berhasil menghindar.
Saat Soo-in mengira Choi Young tidak berhasil mengejarnya, Soo-in berlari lagi. Namun tiba-tiba di depannya muncul Choi Young. “Woo Dal-chi, Choi Young. Kau sehat?” tanya Soo-in. Choi Young mengeluarkan pedangnya dan berkali-kali mengarahkannya ke Soo-in. “Tidakkah kita saling menyapa nanti saja?” kata Choi Young. Soo-in meledakkan bola granat lagi, dan sekali lagi berhasil dihindari Choi Young. Soo-in berusaha membujuk Choi Young dengan mengatakan bahwa ada pesan yang harus disampaikannya pada Choi Young secara rahasia.Choi Young tidak peduli dan mengarahkan pedang ke leher Soo-in. “Aku tidak mau mendengar apaun darimu.”
Choi Young menyerang lagi, namun Soo-in berhasil meloloskan diri dengan melompat ke bawah. “Sampai jumpa lagi, segera,” kata Soo-in sambil tersenyum penuh kemenangan lalu pergi.
Raja dikawal menuju ruang kesehatan, tempat kejadian Soo-in melemparkan granat. Raja menyuruh yang lain menunggu di luar, sementara dia masuk ke dalam dan melihat-lihat keadaan. Choi Young muncul dan memberi hormat pada Raja. Raja bertanya apa serangan itu dimaksudkan untuk menyerang Eun-soo?
“Saya dengar anak buah Ki-cheol ada yang menyerang dengan api dan ada yang dengan musik. Sepertinya wanita itu salah satu sekutu Ki-cheol,” jawab Choi Young. Raja menanyakan kondisi Eun-soo, yang dijawab oleh Choi Young, “Eun-soo baik-baik saja, terima kasih pada Anda.” Raja tersenyum kecil dan berkata bahwa seharusnya Choi Young-lah yang menerima rasa terima kasih karena dialah yang melindungi Eun-soo. Choi Young hanya memandang Raja. Choi Young dan Raja duduk berhadapan. Choi Young menyerahkan kertas yang ada bercak darah dan menurut hasil penelitian Jang Bin, darah itu bukanlah darah manusia. Raja merasa heran. Choi Young berdiri dan mengambil selembar kertas putih. Dia mengambil kotak berisi empat ekor centipedes dan menuangkannya ke atas kertas. Dia lalu mengambil pisau dan menyayatkannya ke tangan kemudian meneteskan darah ke kertas putih yang ada centipedes. Tidak ada reaksi dari centipedes-centipedes itu. “Centipedes biasanya tidak bereaksi terhadap darah manusia. Tapi,ada jenis darah lainnya yang disukai centipedes,” terang Choi Young. Choi Young mengambil kertas yang ada bercak darah kemudian meletakknya di samping bercak darahnya. Centipedes-centipedes itu bergerak mendekati kertas itu. Raja terkesima dan berdiri mendekat. “Ini darah ayam,” kata Choi Young. Raja terkejut karena itu berarti kertas dengan bercak darah itu sengaja diletakkan agar orang-orang salah mengira itu sebagai barang bukti. Raja penasaran dengan orang yang sengaja meletakkan bukti salah itu, namun Choi Young menyuruh Raja menunggu karena cepat atau lambat orang itu akan muncul.
“Lalu, apa aku harus mengungkapkan kebohongan ini?” tanya Raja.
“Anda bisa mengungkapkan kebohongan ini atau berpura-pura tidak tahu, ini keputusan Anda,” jawab Choi Young. “Kalau aku mengungkapkan kebohongan ini, berarti aku berperang dengan musuh. Kalau aku berpura-pura tidak tahu, musuh akan melakukan apa yang mereka inginkan. Kau ingin aku menentukan seorang diri?”
“Ya,” jawab Choi Young dengan mantap, namun tidak melihat ke Raja.
“Jadi, pihak musuh akan muncul di hadapanku. Tindakan yang kuambil bergantung pada keputusanku dan karena kau sudah menyelesaikan tugasmu, kau akan meninggalkan istana?”. Choi Young menatap Raja lalu maju mendekat. Dia mengatakan bahwa dia diijinkan untuk meninggalkan istana. Choi Young lalu menundukkan kepala. “Kau akan pergi sekalipun aku tidak mengijinkannya?” tanya Raja tidak percaya. Choi Young tetap menundukkan kepala.

Eun-soo lewat di depan ruangan kesehatan dan mendengar suara Raja dan Choi Young. Raja bertanya pada Choi Young apa Choi Young kecewa karena Raja menyuruh Choi Young mengingkari janjinya pada Dokter dari Surga?. Eun-soo yang penasaran mengintip ke dalam. Choi Young menjawab bahwa alasan dia menginginkan dokter dari Surga pergi adalah alasan yang sudah sejak lama dia pendam. “Ceritakan padaku,” kata Raja. Choi Young menolak mengatakan alasannya.
“Kalau kau menolak menceritakan alasanmu padaku sebagai Raja, beritahukan kepadaku seakan aku adalah satu-satunya temanmu. Sekalipun aku meminta, kau masih akan menolak?”. Choi Young terdiam sejenak dan memulai ceritanya. “Aku dulu adalah anggota Geng Bulan Merah. Tidak peduli mereka dari mana, tidak peduli apa yang mereka punyai, selama mereka dilatih menggunakan tenaga dalam dan melindungi negaraku, mereka adalah satu kesatuan.”
=Flashback=
Sekelompok orang berlatih berlari cepat, menggunakan pedang, mengikatkan tali ke pohon, dan lain-lain. Saat sekelompok orang itu berkumpul, salah satu dari mereka memegang tongkat dengan bendera Bulan Merah. Bagi Choi Young yang telah kehilangan ayahnya, Geng Bulan Merah adalah keluarganya. Kapten Bulan Merah adalah ayah kedua sekaligus gurunya. Teman-temannya adalah saudara laki-laki dan perempuannya. Geng Bulan Merah biasanya membakar kapal musuh mereka atau menyerang kapten musuh mereka dengan masuk melalui pintu belakang. Saat para penjaga sudah dilumpuhkan, Choi Young maju dan bertarung dengan sang kapten pihak musuh.

Setelah membunuh kapten, Geng Bulan Merah berlari pergi. Namun, saat berlari, pihak musuh menembakkan panah dan mengenai salah seorang Geng Bulan Merah.
Beberapa orang lain juga terkena panah. Dengan susah payah, Geng Bulan Merah berjalan di tengah hujan lebat. Mereka harus menyokong diri mereka sendiri karena mereka hanyalah pejuang bayangan. Saat salah satu anggota meninggal karena terluka, mereka akan menguburkannya  lalu meletakkan kain berlambang Bulan Merah di atasnya.

Geng Bulan Merah terbagi menjadi tiga grup. Masing-masing grup berisi 24 orang. Namun, sedikit-demi sedikit mereka meninggal dan hanya tersisa separuh. Mereka hidup hari demi hari dengan tujuan memenuhi misi. Ada sumber orang dalam yang pada awalnya mereka percayai, namun lama kelamaan banyak jebakan.
Dalam salah satu penyerangan, mereka ternyata dijebak. Prajurit-prajurit pihak musuh sudah menunggu mereka. Geng Bulan Merah berlari menyelamatkan diri, namun salah satu anggota jatuh tersandung. Saat anggota itu sudah dikepung, kepala Geng Bulan Merah menyerang prajurit dengan ledakan yang dihasilkan pedangnya. Kepala Geng Bulan Merah kemudian menggendong anggota yang jatuh itu sambil terus melawan musuh.

Saat melawan musuh, tangan Kepala Geng Bulan Merah terkena sabetan pedang. Namun, Kepala Geng Bulan Merah terus berlari dan melawan dengan bantuan anggota lainnya.
 
Sampai pada suatu hari di musim semi, Geng Bulan Merah dipanggil Raja saat itu sebagai penghargaan kepada Geng Bulan Merah. Itu terasa bagai mimpi bagi mereka. Choi Young merasa sangat senang dan dia melompat-lompat. Dia dan satu teman wanitanya  bernama Dan-baek tertawa-tawa gembira.
Choi Young sudah mulai memikirkan keuntungan-keuntungan yang akan diterima oleh teman-teman satu gengnya, seperti pekerjaan dan akomodasi. Choi Young mendatangi guru sekaligus kapten Geng Bulan Merah, Moon Chi-hoo (Choi Min-soo) dengan ide agar satu orang mendapat satu ekor kuda.
Ide-ide Choi Young dipotong oleh si Kapten. “Dengarkan baik-baik dan ingatlah. Kita hari ini akan menemui pemerintah Negara ini. Dia adalah Raja yang kita lindungi dengan pertaruhan hidup kita. Dia mungkin berbeda dengan yang kita kira. Saat itu tiba, kalian harus ingat teman-teman kalian yang menunggu di luar istana. Kita akan menjadi contoh, satu demi satu. Hingga saat akhir, jangan bertindak bodoh,” kata Kapten Chi-hoo sambil memandangi anak-anak buahnya yang ia ajak masuk ke dalam istana.
 Sinopsis Faith Episode 4
Dayang Raja memberi tahu bahwa Raja memanggil mereka.
Geng Bulan Merah berjalan menuju ruang pertemuan. Choi Young dan Dan-baek berjalan dengan senyum sumringah dan penuh harapan. Sementara Kapten Chi-hoo berjalan dengan muka serius.
Ternyata yang menyambut mereka adalah gadis-gadis penari berpakaian minim. Kapten Chi-hoo, Choi Young, Dan-baek, dan anggota Geng Bulan Merah lainnya terperangah. Mereka berdiri diam. Melihat respon yang tidak biasa itu, gadis-gadis penari menghentikan tarian mereka dan mempersilakan Geng Bulan Merah masuk.

Di ruang pertemuan, para pejabat istana berpesta. Tiap pejabat istana didampingi minimal satu wanita.  Di tempat kehormatan, Raja Choong Mok minum-minum dengan didampingi  dua wanita.
Choi Young melirik sekitar dengan tidak nyaman, sedangkan Dan-baek merasa risih. Kenyataan tidak seindah bayangan mereka. Kapten Chi-hoo terus maju tanpa gentar.
Geng Bulan Merah sampai di depan Raja. Tanpa rasa malu, Raja minum melalui mulut salah satu wanita. Choi Young menundukkan kepalanya, merasa malu. Saat Raja melihat ke mereka. Kapten Chi-hoo memimpin memberi hormat.
 
Raja yang sudah mabuk bertanya siapa mereka. Kapten Chi-hoo memperkenalkan dirinya dan anggota tim-nya. “Ah! Geng Bulan Merah!” Raja dengan tersandung-sandung dan tertawa menuruni tangga dan mendekati Geng Bulan Merah. Tanpa rasa menyesal, dia meminta maaf karena lupa bahwa dengan kedatangan Geng Bulan Merah.

Setelah memastikan bahwa mereka adalah Geng Bulan Merah, Raja menyuruh mereka berdiri. Dia melihat pedang di pinggang Kapten Chi-hoo dan mengambilnya lalu memain-mainkannya. Kapten Chi-hoo tidak bergeming, sementara Choi Young yang merasa syok hanya bisa berdiri diam dan sedikit melirik Raja. Saat memain-mainkan pedang, ayunan pedang hampir mengenai Kapten Chi-hoo. Tanpa melawan, Kapten Chi-hoo mundur satu langkah dan tampaklah Dan-baek.
 Sinopsis Faith Episode 4
Pandangan Raja jatuh ke satu-satunya wanita di Geng Bulan Merah itu. Raja yang mabuk merasa tertarik dengan “pejuang wanita”. Dengan pandangan tidak pantas, Raja mengamati Dan-baek dari atas sampai bawah. Dan-baek merasa risih, namun dia berusaha tetap diam. Kapten Chi-hoo memperkenalkan Dan-baek sebagai asisten jendral ketiga. Dia ahli dalam seni belah diri dan terutama ahli dalam menghadang.
Raja yang tertarik berjalan mengelilingi Dan-baek dan senyumnya penuh nafsu. Kapten Chi-hoo sepertinya tidak terima, namun dia menahan diri. Raja berdiri di depan Dan-baek, mengarahkan pedang ke Dan-baek, dan memerintahkan untuk Dan-baek melepaskan bajunya tanpa sisa.

Dan-baek merasa syok. Kapten Chi-hoo dan Choi Young merasa kaget dengan perintah Raja. Anggota Geng Bulan Merah lainnya menutup mata, merasa miris.
Ketika Dan-baek tidak bergerak sedikit pun, Raja menjadi marah. “Bukankah aku menyuruhmu melepaskan baju? Ini perintah! Perintah!”. Dan-baek yang ketakutan dengan perlahan melepaskan bajunya. Anggota Geng Bulan Merah yang lain mengalihkan pandangan, termasuk Choi Young yang sebenarnya merasa sangat marah. Dan-baek berhenti membuka baju saat sampai di bagian baju dalamnya, dia tidak sanggup meneruskan. Dan-baek ingin menangis, namun dia menahan tangisnya. Raja yang melihat Dan-baek berhenti semakin marah. Ketika Dan-baek masih tidak bergerak juga, Raja mengancam akan membuka sendiri baju Dan-baek. Pedang Kapten Chi-hoo yang dipegang Raja mulai mengarah ke tali di leher Dan-baek.

Kapten Chi-hoo akhirnya tidak tahan lagi. Dengan tangan kanannya, dia melindungi Dan-baek dari pedang. Dan-baek mundur. Raja melihat tindakan Kapten Chi-hoo yang dianggapnya melawan perintahnya dan kemarahannya semakin meningkat. Dia bertanya pada para pejabat di sekelilingnya tentang sifat arogan Kapten Chi-hoo. Sepertinya kemarahan Raja didasari rasa cemburu karena rakyat lebih percaya pada Geng Bulan Merah dibandingkan padanya, Raja mereka sendiri. Raja mengarahkan pedang ke leher Kapten Chi-hoo. “Apakah betul yang dipercayai rakyat melebihi aku, Raja mereka adalah laksamana Geng Bulan Merah?”
“Ya, Yang Mulia,” jawab Kapten Chi-hoo tanpa memandang Raja dan tetap mempertahankan rasa tenangnya.
“Jadi kau yang melindungi rakyatku melebihi aku?”
“Bukan begitu, Yang Mulia,” Kapten Chi-hoo berusaha menenangkan Raja.
“Kalau begitu, apakah kau merasa pantas melanggar perintahku?!” bentak Raja.
“Tidak pernah sekalipun saya melanggar perintah Yang Mulia,” jawab Kapten Chi-hoo.
Raja mengangkat pedangnya dari leher Kapten Chi-hoo dan sekali lagi mengarahkan pedang ke Dan-baek. “Maju mendekat,” perintah Raja dengan wajah mesum. Dan-baek maju dua langkah, sejajar dengan Kapten Chi-hoo.
“Aku, sang Raja, punya perintah untukmu. Kau… lepaskan bajumu.”
Mata Choi Young berkaca-kaca campuran rasa sedih dan marah. Dan-baek memejamkan mata, tidak sanggup. Raja yang kemarahannya memuncak berkata, “Yang melawan perintah Raja, akan dibinasakan seluruh keluarga dan teman-temannya!” Raja maju dan akan menusuk perut Dan-baek, namun dihadang oleh Kapten Chi-hoo. Geng Bulan Merah, Raja, dan orang-orang di ruang pertemuan terperanjat.
Choi Young dan Dan-baek meneteskan air mata, namun mereka tidak bisa bergerak sedikit pun. Kapten Chi-hoo berusaha tenang meskipun pedang menembus perutnya.

Raja yang mabuk tidak sedikit pun merasa bersalah. Dia malah mengoceh soal pedang Kapten Chi-hoo yang ternyata tajam sampai menembus perut. Kapten Chi-hoo mengumpulkan kekuatan kemudian menarik sendiri pedang dari perutnya. Raja mundur terhuyung-huyung beberapa langkah. Choi Young tidak sanggup lagi dan akan maju menyerang Raja, namun Kapten Chi-hoo mengarahkan pedang ke Choi Young ― melarang Choi Young mengambil tindakan sedikit pun. “Mundur,” kata Kapten Chi-hoo dengan suara lemah, namun tetap berusaha berdiri. Saat Choi Young tidak menurut, Kapten Chi-hoo menegaskan bahwa itu perintah. Air mata bercampur darah mengalir dari mata Kapten Chi-hoo. Choi Young menatap Raja Choong Mok dengan penuh kebencian. “Dia adalah Raja, berjanjilah. Mulai saat ini, kau akan menjadi bayangan Raja, kau akan menjadi malaikat penjaga keluarga kerajaan Goryeo.” Choi Young menggertakkan gigi dengan rasa marah.
“Berjanjilah!” tegas Kapten Chi-hoo. Kapten Chi-hoo terhuyung, namun dia mampu menahan diri tidak sampai terjatuh. Dengan suara semakin lemah, Kapten Chi-hoo berkata, “Itulah cara… Geng Bulan Merah, anak-anak kita, bisa hidup.” Air mata Choi Young dan Dan-baek menetes mendengar permintaan Kapten Chi-hoo.
“Young-ah, lihat aku,” pinta Kapten. Choi Young menguatkan diri dan memandang Kapten Chi-hoo. Kapten Chi-hoo balas memandang Choi Young. “Kau harus melindungi para anggota Geng Bulan Merah. Jawab aku.”
“Ya,” jawab Choi Young sedikit terisak. Kapten Chi-hoo memasukkan pedang lalu dengan terhuyung menghadap Raja lagi. “Ketidakpatuhan tadi, tolong maafkan kami,” kata Kapten Chi-hoo kemudian dia berlutut. “Aku membawa anak-anak ini kepada Anda, Yang Mulia. Ijinkan mereka selalu di samping Anda, Yang Mulia. Kelompok pejuang ini… akan selalu melindungi Anda.” Suara Kapten Chi-hoo semakin melemah dan kepalanya menunduk  hingga hampir menyentuh lantai.
Choi Young dengan terisak mengikuti Kapten-nya dan berlutut, begitu juga angota Geng Bulan Merah lainnya. Dan-baek berlutut setelah mengenakan jubah menutupi tubuhnya.
Raja tertawa-tawa dengan pongah. =Flashback End=
Raja Gongmin dan Eun-soo terperangah mendengar cerita Choi Young.
“Jadi, begitu ceritanya kau bisa menjadi pengawal kerajaan. Sudah berapa lama?”tanya Raja Gongmin setelah dia bisa menguasai kekagetannya.
“Tujuh tahun,” jawab Choi Young.
“Dan berapa yang tersisa?”
“Beberapa keluar istana. Beberapa meninggal. Sekarang hanya ada aku.”
“Jadi, tidak ada lagi yang perlu kau lindungi sekarang dan karena itu kau ingin keluar dari istana?”
“Ya,” jawab Choi Young dengan mantap. Raja Gongmin merasa syok karena Raja Choong Mok yang membunuh Kapten Chi-hoo tidak lain adalah kakaknya sendiri. “Kau pasti membenciku dari awal karena aku adalah adik Raja Choong Mok.” Choi Young tidak menjawab. Raja Gongmin lalu bertanya apa yang akan dilakukan Choi Young setelah dia meninggalkan istana?
“Pertama, saya akan mengantarkan dokter itu ke Chunan karena saya sudah terikat janji. Sementara menunggu pintu Surga terbuka, saya akan menjadi nelayan. Saya cukup ahli dalam menangkap ikan,” kata Choi Young sambil tersenyum, berusaha menimbulkan humor.
“Setelah kau membayar hutangmu… apa yang akan kau lakukan?”
“Saya masih memikirkannya. Saya terikat hutang untuk bertahan hidup.”
Raja berdiri diikuti Choi Young.
“Bagaimanapun, kau belum menyelesaikan misi yang kuberikan kepadamu. Ingat itu.” Choi Young akan membantah, namun dipotong Raja dengan berkata bahwa Choi Young tidak perlu mengantarkan dia keluar karena dia sudah tidak punya kehormatan untuk menghadapi Choi Young.
Raja lalu keluar ruangan. Eun-soo yang masih mengintip melihat Choi Young yang oleng dan jatuh terduduk. “Psiko!” teriaknya.
Raja melewati Jang-bin dan pengawal lain. Jang-bin akan mengikuti Raja namun mendengar teriakan Eun-soo. Jang-bin, Dol-bae, dan Dae-man segera berlari menuju Eun-soo.
Eun-soo menggoncang tubuh Choi Young, namun ternyata Choi Young pingsan dan ambruk ke lantai. Jang-bin, Dol-bae, dan Dae-man segera menolong Choi Young.
“Dia menunjukkan tanda-tanda syok,” kata Eun-soo berusaha tidak panik.  Dia menyuruh Dol-bae meletakkan kaki Choi Young di tempat lebih tinggi dari kepalanya. Kemudian dia memerintahkan menyiapkan air garam dan selimut. Jang-bin dan Deo-gi yang ikut mendengar suara Eun-soo segera mengambil air garam dan selimut. Dae-man yang panik bertanya pada Eun-soo apa yang terjadi pada Choi Young. “Dia mendapatkan serangan,” jelas Eun-soo. Dengan putus asa, Eun-soo menyadari bahwa oksigen dan alat pengukur tekanan darah yang dibutuhkannya sama sekali tidak ada. Jang-bin kembali dengan membawa air garam. Dol-bae akan meminumkannya pada Choi Young, namun dihentikan Eun-soo karena bila salah cara minum, Choi Young bisa mengalami pneumonia. Jang-bin mengukur detak jantung Choi Young dan mengatakan bahwa detak jantung Choi Young cepat namun lemah. Choi Young sedikit bergerak. Eun-soo mengangkat kepala Choi Young dan meminumkan air garam sedikit demi sedikit. “Aku butuh infus. Aku bisa gila, yang aku butuhkan tidak ada satu pun.” Eun-soo semakin merasa putus asa.
 Sinopsis Faith Episode 4
Choi Young bermimpi duduk di samping pria tua yang ternyata adalah ayahnya. Di depan mereka ada lubang kecil dan mereka memancing melalui lubang itu.
“Ayah, tidak bisakah aku tetap di sini bersamamu?” tanya Choi Young dengan memelas. Ayah Choi Young memejamkan mata.
Choi Young dibaringkan di ruang perawatan. Jang-bin di sampingnya dan melakukan akupuntur. Asisten Jang-bin menyiapkan cairan untuk menghilangkan racun.
Jang-bin menyadari bahwa dia hampir tidak bisa merasakan detak jantung Choi Young. “Apa orang ini… punya keinginan untuk mati?”
Dayang Choi membawakan baju untuk Eun-soo, namun saat Eun-soo bertanya untuk apa baju itu, Dayang Choi hanya menjawab bahwa itu perintah Raja.
Sinopsis Faith Episode 4
Rombongan Raja bertemu dengan rombongan Ratu di koridor. Mereka kemudian berhenti.
Tanpa menoleh, Raja berkata pada Ratu bahwa dia belum mengambil keputusan apapun. Dia memperingatkan Ratu bahwa imej-nya akan buruk, apapun keputusan yang diambilnya.
Ratu juga bertanya tanpa menoleh, imej apa maksud Raja?
Raja berkata bahwa hari ini dia bisa saja berdiri dengan gagah atau bisa saja tahtanya diambil. Kalau tahtanya diambil, kehidupan Ratu akan menjadi bahaya. “Tapi, kalau aku menundukkan kepala, maka tahtaku akan bertahan. Mana yang kau pilih, Ratu?”. Ratu terdiam sejenak kemudian menjawab dengan berani bahwa tidak ada yang lebih baik baginya. Il-shin kaget dengan jawaban berani Ratu, namun Raja tidak kaget sedikit pun. “Sudah aku duga,” kata Raja. Ratu bertanya di mana Jendral Wool Da-chi?
Raja hanya menjawab bahwa Jendral sedang sakit, tanpa menjelaskan sakit apa. Raja kemudian menegaskan bahwa tanpa Woo Dal-chi, mereka akan tetap menjalankan Rencana C.
Ratu dengan meremehkan berkata bahwa Rencana C adalah rencana yang pasti dibuat oleh penasihatnya. Raja menoleh ke Ratu dan berkata bahwa saat ini hanya Penasihat Il-shin-lah yang patuh padanya. Il-shin memberi hormat dengan rasa bangga. Ratu memandang Raja dan bertanya mengapa Raja mau repot-repot mengungkapkan rencananya?. “Entah aku akan mengalami penghinaan atau kematian, kau adalah orang yang akan terkena imbasnya,” jawab Raja. Rombongan Raja dan Ratu melanjutkan menuju ruang pertemuan.
Penjaga pintu mengumumkan kedatangan Raja dan Ratu. Para pejabat berdiri. Setelah diperintahkan duduk, barulah mereka duduk. Salah seorang pejabat berkata bahwa mereka sangat senang melihat Raja dan Ratu sehat walafiat berkat perlindungan Surga. “Tentu saja. Aku sangat berterima kasih pada Surga,” kata Raja dengan sinis. Raja lalu berkata bahwa perjalan dari Yuan sangat berbahaya, bahkan Ratu hampir kehilangan nyawa. Semua pejabat menampakkan wajah kaget. Raja tersenyum sinis dan bertanya mengapa mereka kaget seakan-akan itu berita baru?
“Pintu Surga terbuka dan dikirimlah seorang Dokter. Dokter itulah yang menyelamatkan nyawa Ratu.”
Raja menoleh ke kanannya. Tirai terbuka dan tampaklah Eun-soo yang duduk sambil didampingi Dayang Choi di belakangnya. Semua orang memandang Eun-soo. Eun-soo yang merasa tidak nyaman akan berdiri dan pergi, namun tentu saja dihalangi Dayang Choi.
Raja mengatakan bahwa dia berpikir ratusan kali mengapa Surga mengirimkan penyelamat ke Raja yang canggung seperti dirinya. Bahkan Dokter itu juga mengatakan bahwa namanya tertulis di Surga. “Kalian para pejabat…, juga mau mendengar ramalannya tentang masa depan?”. Para pejabat menjadi gelisah.
Tiba-tiba Ki-cheol datang dan maju mendekati Raja. Dengan pongah dia mengatakan bahwa dia datang untuk menjadi pendengar Raja, namun ternyata Raja justru mengoceh hal tidak jelas.
Dol-bae bersiap memegang pedangnya saat Ki-cheol maju mendekati Raja.
“Gerbang Surga, Dokter Ilahi, kepala dokter?” tanya Ki-cheol meremehkan.
Raja tetap memandang lurus meskipun Ki-cheol sudah sampai di sampingnya. Ki-cheol berkata bahwa meskipun Raja masih muda, meninggalkan Goryeo dan dibesarkan di Yuan, dan melihat dan mendengar hal tidak masuk akal, dia adalah Raja Goryeo. “Mana orang kurang ajar yang memberitahu Raja soal hal tidak masuk akal ini?!”tanya Ki-cheol dengan nada tinggi. Semua penjabat menundukkan kepala.
Ratu merasa marah, namun tetap memandang lurus dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Begitu juga Raja.
Sinopsis Faith Episode 4
Ki-cheol menunjuk Eun-soo dan memandang tajam Eun-soo. Eun-soo merasa takut. “Apa orang licik di sana? Apa kau yang memberi tahu hal tidak masuk akal?”
Saat Eun-soo tidak segera menjawab, Ki-cheol membentak lagi. “Hei, kau wanita licik! Jawab aku!”

To be continued…

Thanks to Dramacrazy
Written and image by lui@PelangiDrama
Only posted at PelangiDrama
DO NOT REPOST TO OTHER SITE!!!

One Response so far.

Leave a Reply

RULES BERKOMENTAR:
*Jangan lupa Like dan ReTweet Postingan di atas.
*Gunakan bahasa sopan.
*Sertai nama dalam berkomentar.
*Sebelum tanya episode selanjutnya, lihat dulu INDEX Sinopsis, bila belum ada, harap bertanya baik-baik.
*Kami akan sangat menghargai komentar berupa support dan kritik yang membangun demi perbaikan kualitas Pelangi Drama

 
Pelangi Drama © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger . Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here