Belajar di perpustakaan bersama sudah di mulai!
Tapi ya gitu deh kalo belajar bareng devil. Bukannya ikutan baca, si devil malah mengajak mainan kotak sembilan. [itu loh, yang kayak catur-catur gitu].
Tong Jia Di nya juga gitu. Sudah tahu di perpus itu harus sunyi, gara-gara menang permainan begituan aja, Jia Di teriak-teriak dilihatin orang satu perpus. Dasar!. Parahnya sang setan pura-pura sibuk belajar hahaha.
Agak maleman, Jia Di pulang bersama devil. Di sana mereka melihat satu koin berkinclongan. Kali ini Huo Da ikutan lari dan mendapatkan koin warna emas itu.
Jia Di baru ngeh. Kalo anak ke dua dari generasi Huo itu ikutan mungut sepeser koin dari jalanan. Wah...sudah mulai menghargai uang niyeee ^_< Sambil melanjutkan perjalanan lagi...
Tong Jia Di kembali bercicit-cuit tentang balas budilah, tukar-menukar atau apalah. Yang katanya, Huo Yan sudah bantu melunasi hutang-hutang pamannya, maka sekarang Jia Di harus membantu Huo Da menyelesaikan kuliahnya. Huo Da malas gila sama pembicaraan kek begitu. Makanya Huo Da langsung nyeletuk, kalo mau balas budi, kita juga wajib balas budi sama Tuhan, gitu katanya. [sok banget yak Huo Da? -___-].
Bukan salah Tong Jia Di dongg, kalo dia ngajak Huo Da buat bersinggah sebentar ke mobil PMI, eh Palang Merah Indonesia dong itu? Kalo Taiwan apaan? PMT? Palang Merah Taiwan? Ah, gitu deh pokoknya. Di mobil itu Jia Di sok wisdom, setetes darah yang kita sumbangkan ini, bakal sangat berguna buat orang-orang di luar sana. Huo Da sih, biasa-biasa saja. Huo Da malah tanya lagi apa motif Jia Di rela-rela menyumbangkan darahnya. Eh... Nggak tahu itu lugu atau apa namanya. Masa Jia Di bilang, kalo habis menyumbangkan darah, dia bisa dapat sebotol susu sama se-saset biskuit gratis. Doengg! [kirain beneran mulia ~~"]. Pas suster mulai membuka suntik buat mengambil darahnya Jia Di. Sontak Huo Da memperbesar bola matanya. ADA SUNTIK! Oh, nggak banget...Huo Da kan phobia banget sama suntik.
Gimana mungkin dia bisa ikutan menyumbangkan darah? Dengan berbagai kalimat-kalimat ngeles, Huo Da berniat kabur dari mobil PMT itu [halah]. "Waktu ayahku kecelakaan, aku sangat berterimakasih terhadap orang-orang yang sudah mau menyumbangkan darahnya".
Gara-gara kalimat itu, Huo Da mengurungkan niat kaburnya. Mulailah dia disuntik dan langsung pingsan di tempat. Tong Jia Di ketawa merdeka deh pokoknya! [dasar].
Sambil menghirup susu dengan tangan gemetar, Huo Da terus diketawain sama Jia Di. Jia Di bilang, kalau Huo Da ketakutan gitu, dia kelihatan cute banget!. Mendadak dia narik tangan Jia Di dan wajah mereka berdekatan [lagi-lagi ~___~?] Ceritanya Huo Da nggak terima gitu kalau setan berdarah hitam seperti dia dibilang cute. Pokoknya nggak terima!. Nah, Jia Di nya masih gelagepan aja nih, wajahnya sedeket itu sama cowok. "Tutup matamu" perintah Huo Da sambil peringisan nggak jelas. Jia Di pasrah-pasrah saja disuruh nutup mata. Dia takut setengah mati bakal diapa-apain sama sang setan. Ternyata bener. Sang setan makin majuin wajahnya. Nafasnya sudah bisa dirasain sama Jia Di dekeeet banget. Tiba-tiba tangan Huo Da bergerak...dan langsung nyentil kening Jia Di, ctukk! gitu bunyinya [sebenernya nggak ada bunyinya sih...].
"Awww!" Jia Di ngelus-ngelus keningnya.
"Itu akibatnya kalo berani bilang aku cute! Awas! Kalo kamu bilang aku cute lagi...aku bakal bikin kepalamu mirip kepala babi!".
Pulangnya mereka kejar-kejaran karena Jia Di nggak berhenti mengolok-olokk Huo Da cute.
Pagi hari pun datang~
Dengan baju warna biru gelap melekat di tubuh Jia Di. Jia Di bergegas masuk ke kamar Huo Da dan teriak-teriak membangunkan Huo Da.
Huo Da masih nggak ngeh kalau disuruh bangun jam segitu. Dia malah minta waktu lima menit buat tidur lagi di atas sofa.
Jia Di nggak mau menyia-nyiakan waktu. Pokoknya Huo Da harus bangun saat itu juga! Jia Di nggak kehabisan akal, dia gelitikin Huo Da dan alhasil, Jia Di malah hampir terduduk di pangkuan Huo Da.
Sejenak mereka bertatapan sangaaaat dekat.
"Hatchih!!" Jia Di bersin. Betapa leganya Jia Di bisa bersin sedeket itu mengotori wajah Huo Da. Hahahhaha!.
Jia Di masih semangat buat menggeret Huo Da ke kampus. Meski Huo Da sempet tidur di pundak Jia Di pas naik kereta tadi sih... tapi yang penting Huo Da kuliah!.
Eh, sudah penuh perjuangan nyeret Huo Da sampai kampus, Huo Da nya malah nggak tahu kelas dia ada dimana.
Toenggg! -____-
Sampai akhirnya dia ketemu satu cewek yang seksi banget [kata Huo Da] yang sempat sekelas sama Huo Da. Merekapun berangkat bareng ke kelas tanpa menghiraukan Tong Jia Di. Terang aja Tong Jia Di sebel [Untung nggak dipanggilin Tong Sham Cong atau Sun Go Kong gitu deh *jauh gelaa].
Pas waktunya pulang, selesai Jia Di ngobrol sama Xiao Nan, Jia Di ketemu satu cowok kutu buku yang kapan hari sempet dipajang di mading kampus kalau dia baru dapat sertifikat [pake' kanji Mandarin, makanya aku nggak tahu sertifikat apa itu].
Mati-matian Jia Di minta tolong sama itu cowok biar mau jadi mentornya Huo Da. Walau agak sulit juga sih membujuknya...Tapi akhirnya itu cowok mau juga.
Sudah lega habis membujuk sang mentor. Jia Di mendapat telepon dari General Manager. General Manager bilang kalau dia punya satu buku buat Huo Da.
Kalo Jia Di minat, Huo Yan bakal langsung ke kampus menyerahkan itu buku. Jia Di pun berminat.
Di kantin~
Huo Da lagi direbutin cewek-cewek yang ngaku sebagai penggemar berat Huo Da. Berdalih kalo d*da mereka gede, Huo Da harus milih salah satu diantara mereka. Siapa yang minat?!.
Untung aja Tong Jia Di lewat tuh kantin. Huo Da nggak kehabisan akal buat menghindar dari bidadari-bidadari surga [halah]. Dia langsung lari ke arah Jia Di, sambil ngerangkul Jia Di.
"Ini pacarku!"kata Huo Da singkat.
"Hah?!! Pacarmu?!!". para cewek nggak terima kalau yang dipilih Huo Da hanyalah cewek mungil berd*da kecil. Doengg! ~_~.
"Siapa yang mau jadi pacarnya?!". Jia Di juga nggak mau dianggap pacar oleh setan macam begitu. "Hah..mana mungkin aku mau jadi pacar setan cowok yang feminim".
"Heh! Kalo kamu bilang, awas!" Huo Da menyekik leher Jia Di.
"Setan ini takut sama jarum suntik"
Cepat-cepat Huo Da muter badan Jia Di. Tahu keadaan makin membahayakan buatnya, dia menyeret Jia Di berlalu pergi.
"Setan ini beneran takut sama jarum suntik" dilanjutin dah sama Jia Di -___-
"Jia Di! Kalo kamu berani bilang... aku nggak bakal mau nerusin kuliah lagi! Awas ya!"
"Oh..iya deh..." Jia Di masang tampang takut. Tapi tiba-tiba dia balik badan dan langsung teriak ke cewek-cewek tadi, "DIA TAKUT JARUM SUNTI~"
Cupp!
Bibir Huo Da langsung nahan bibir Jia Di biar nggak nerusin kalimatnya.
Bersamaan dengan datangnya mobil kuning Huo Yan.
Jia Di mendelik kaget. Dan Huo Da masih meneruskan ulah bibirnya [beeeeh].
Brakk!
Tong Jia Di mendorong Huo Da. Huo Da langsung ngeh apa yang baru saja dia lakukan. Mereka tatap-tatapan cukup lama.
Dengan wajah menyesalnya...Huo Da gelagapan mau bilang maaf.
Huo Yan langsung keluar dari mobilnya dan meraih tangan Jia Di. Jia Di langsung pergi pas melihat Huo Yan marah-marah ke adiknya. Dia lagi-lagi merasa terhina T,T
"Gimana?" tiba-tiba Huo Da menanyai Huo Yan dengan bertanyaan ambigu.
"Yang aku lakukan barusan, persis kayak yang sudah pernah kamu lakukan".
Jbruakk! Bogem Huo Yan nggak segan mendarat di pipi Huo Da. Setelah puas uring-uringan, Huo Yan langsung berlalu pergi dengan mobil kuningnya.
Setelah kejadian itu...Jia Di sudah benar-benar nggak mau mengurus Huo Da. Nggak mau ketemu Huo Da lagi.
Jia Di selalu menghindar tiap melihat Huo Da di kampus. Huo Da merasa bersalah banget, nggak tahu apa yang ada di otaknya, yang jelas dia berniat belajar nyanyi plus gitaran sama anak band kampus gitu.
Setiap hari Huo Da latihan nyanyi.
Beberapa hari setelahnya, Jia Di menelepon Huo Yan untuk ketemuan di mall keluarga Huo. Jia Di bilang, ini semua sudah nggak bisa diteruskan. Jia Di nggak mau ketemuan sama Huo Da.
Jia Di tanya, apa yang bisa dia lakukan untuk mengganti rasa bersalahnya itu?
Huo Yan mengusulkan Jia Di buat ikut dia keliling mall milih-milih baju.
Huo Yan bilang kalo dia mau memberi baju buat cewek yang ukuran badannya sama seperti Jia Di. Tapi Huo Yan nggak mengerti selera cewek itu kek gimana.
Sementara Jia Di keliling-keliling mall, Huo Yan memperhatikan gerak-gerik Jia Di dari jauh. Jia Di menemukan juga baju bagus dengan harga murah [tabiat menghemat uang Jia Di belum ilang lhoooo -__-]. Jia Di pun menelepon Huo Yan untuk memberitahukannya,sampai akhirnya pertemuan itu selesai.
"General Manager, ini baju buat temanmu itu. Aku harap temanmu senang dengan pilihanku".
"Oh, Jia Di! Sebenernya kado ini..."
"Jangan bilang buat mengungkapkan rasa terimakasih General Manager, General Manager mau memberiku sesuatu!"
Huo Yan gelapan. Maksudnya kan baju tadi memang buat Jia Di, behhh.
Di antara mereka... ada senyum yang terpampang sebagai pertanda perpisahan mereka di mall itu.
Tong Jia Di dan Huo Yan memang sudah nggak berjajar lagi. Tapi nggak tahu kenapa Jia Di tiba-tiba berhenti di dekat pintu keluar kayak ingat sesuatu [maaf ya? Aku lupa apa yang lagi dia ingat ^^V].
Di seberang sana Huo Yan juga teringat sama little bear Jia Di di atas meja kerjanya. Juga little bear lain yang sudah Huo Yan beli untuk menemani bearnya Jia Di.
Merasa Jia Di belum terlalu jauh dari mall, Huo Yan segera menelepon Jia Di biar mereka ketemuan lagi.
Sayangnya, Jia Di juga lagi melakukan hal yang sama. Akhirnya telepon mereka masing-masing sibuk.
Jia Di heran, kenapa telepon sang General Manager nggak bisa dihubungi, begitu juga Huo Yan. Tapi Huo Yan nggak pikir panjang.
Dia langsung berniat menyusul Jia Di cepat-cepat yang pastinya belum terlalu jauh pergi.
Naas, karena terlalu semangat, tangan Huo Yan yang lagi megangin ponsel menatap daun pintu. Ponselpun terpisah dari baterainya.
Padahal pas itu Tong Jia Di lagi menghubungi ponsel Huo Yan kedua kalinya.
"Ma'af, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.." sahut customer service nomor Huo Yan.
Setelah merapikan lagi ponselnya yang terpisah dari baterai...Huo Yan kembali lari menyusul Jia Di.
Lagi-lagi begitu juga Jia Di [jodoh kali yak? :)]. Jia Di langsung menuju ke bagian informasi. Minta tolong sama mbak-mbaknya buat dipanggilkan cowok dengan sebutan Guy No. 10 untuk segera menemui nona Tong Jia Di di lantai kedua.
Pengumuman terlaksana.
Mereka berdua bertemu di lantai dua. Huo Yan yang sejak dengar pengumuman tadi senyum-senyum, masih melajutkan senyumnya.
Huo Yan bilang, kalau dia seneng banget masih bisa jadi Guy No. 10 nya Jia Di. Mendengar pernyataan riang dari Huo Yan barusan, Jia Di malah meluruskan bibir lengkungnya.
Singkat cerita, mereka ngobrol di sana. Dan Huo Yan langsung memberikan little bear yang kapan hari pernah nyangkut di jok depan mobil Huo Yan.
Jia Di senang banget little bear pemberian ayahnya ketemu. Nggak lupa, Huo Yan juga menyerahkan little bear's doctor yang Huo Yan beli khusus buat menemani little bearnya Jia Di.
Jia Di sangat berterimakasih.
Setelah sampai' kampus dan selesai mengikuti segala kegiatan di kampus, Tong Jia di ke kantin bareng Xiao Nan.
Di sana Xiao Nan nyerocos tentang kesalahan yang sudah dilakukan sang setan.
Xiao Nan makin ngomel saat tahu ternyata sang setan belum juga minta ma'af sampai detik itu!.
Eh, tiba-tiba yang diomongin datang.
Karena merasa nggak ada gunanya buat tetap di situ, Xiao Nan langsung narik tangan Jia Di buat buruan cabut.
Tapi tangan sang setan lebih cepat buat nahan tangan Tong Jia Di. Tapi Tong Jia Di hampir saja milih ikutan pergi bareng Xiao Nan.
Huo Da berseru, "Masa' permintaan maaf tiga kali belum setara dengan kesalahan yang dilakukan sekali?!".
Jia Di tertahan. Dia akhirnya toleran juga. Oke! Jia Di pun menuruti permintaan Huo Da.
Tangan Huo Da tiba-tiba menjauhkan tangan Xiao Nan dari tangan Jia Di. Nggak tahu apa maunya, tapi tiba-tiba Huo Da memberi selembar foto yang dia bilang itu sebagai permintaan maafnya yang nggak boleh dikasih tahu siapapun termasuk Xiao Nan.
Pas Jia Di balik itu foto, ternyata di sana ada Huo Da yang lagi nyengir ketakutan gara-gara jarum suntik PMT. Hhaahahah! Jia Di nahan tawa sambil terus jaga kerahasiaan foto dari Xiao Nan yang penasaran setengah mati.
Terus Huo Da memberi permintaan maaf yang lainnya. Ada di dalam kotak pinky kecil yang langsung Huo Da berikan ke Jia Di.
Sekali lagi Huo Da memperingatkan kalau kado itu juga nggak ada yang boleh tahu kecuali Jia Di!.
Maka Jia Di harus membuka kado itu kalau sudah sampai rumah. Lagi-lagi Jia Di meng-iya-kan.
Huo Da bisa berlalu lega..
Malam-malam di rumah Jia Di.
Jia Di masih kepikiran sama Huo Da. Tapi kadang dia senyum kalau melihat foto konyol yang terpampang di atas mejanya sekarang.
Karena teringat sama kado permintaan maaf Huo Da, Jia Di langsung membukanya dan ternyata di dalamnya ada semacam MP3 recorder gitu [tau' ah apaan].
Jia Di langsung mempersiapkan earphone dan mulai mendengarkan celotehan-celotehan Huo Da di dalamnya.
Ada sederet kalimat dari sekian banyak cerosan Huo Da yang bikin aku klik banget.
Yaitu, "Aku minta maaf... Karena aku sudah menciummu tanpa cinta. Jadi, sebenarnya aku nggak bermaksud begitu ke kamu. Aku minta ma'af... Aku sangat jahat...sangat jahat...sangat jahat. Aku sudah mengatakannya tiga kali. Yah, walaupun... Aku suka menindasmu...suka melihatmu sengsara...dan suka mempermalukanmu... Tapi, aku sungguh nggak pernah benar-benar ingin menyakitimu... Kamu boleh, memilih untuk nggak memaafkanku. Karena...bahkan aku, bahkan diriku, tidak rela untuk memaafkan orang seburuk diriku.. Tapi kamu, nggak harus nggak bahagia.."
Gimana? So suit banget, kan?! Huwaaaah terharu banget aku dengernya! Huwaaah!.
Ah, nggak nggak nggak! Tapi ke-sosuit-an itu lenyap seketika Huo da mempersembahkan lagu dengan suara nggak jelasnya -____-.
Jia Di senyam-senyum dengar itu. Dan ternyata Jia Di juga bilang kalau suara Huo Da nggak banget! [jadi yang nggak banget sebenernya suara siapa? Huo Da apa Mike He? Hahaha!]
Pagi-pagi...
Jia Di sudah meluncur ke rumah Huo Da. Tapi di depan bengkel dia dicegat sama nona cantik Yan Shu! [huwek!].
Nggak disangka, kedatangan Jia Di dengan niat baik, lagi-lagi harus ditindas dengan comel-comelan Yan Shu yang nggak ada baik-baiknya.
Tanpa cincong tambahan... Jia Di pergi.
Huo Da keluar dari kandangnya dan heran melihat Jia Di tiba-tiba pergi nggak mampir dulu ke rumahnya. [asal kamu tahu ya, Huo Da! Itu semua gara-gara cewek idamanmu, tahu!!]
Sepulang kuliah~
Jia Di minta' bantuan Xiao Nan buat menghubungi Bo Zi. Yah, walaupun Xiao Nan males-malesan, tapi akhirnya mau juga.
Apapun yang diminta Xiao Nan, Bo Zi pasti melakukannya!.
Nggak aneh-aneh. Yang diminta Xiao Nan waktu itu persis kayak apa yang diminta Jia Di.
Xiao Nan cuma minta tolong Bo Zi buat cepetan bukain kunci pintu rumah Huo Da sebelum Huo Da keburu balik.
Soalnya Jia Di punya kejutan unik buat Huo Da! \[^_^]/.
Bo Zi pun setuju, dan Jia Di sudah mempersiapkan segala kejutannya sampai selesai.
Tiba-tiba Tong Jia Di bertatap muka dengan Yan Shu pas keluar rumah Huo Da.
=========================================================================
Episode tujuh yang sangat complicated inipun selesai.
[mataku mulai teler, nih! ~__~]
Tapi ya gitu deh kalo belajar bareng devil. Bukannya ikutan baca, si devil malah mengajak mainan kotak sembilan. [itu loh, yang kayak catur-catur gitu].
Tong Jia Di nya juga gitu. Sudah tahu di perpus itu harus sunyi, gara-gara menang permainan begituan aja, Jia Di teriak-teriak dilihatin orang satu perpus. Dasar!. Parahnya sang setan pura-pura sibuk belajar hahaha.
Agak maleman, Jia Di pulang bersama devil. Di sana mereka melihat satu koin berkinclongan. Kali ini Huo Da ikutan lari dan mendapatkan koin warna emas itu.
Jia Di baru ngeh. Kalo anak ke dua dari generasi Huo itu ikutan mungut sepeser koin dari jalanan. Wah...sudah mulai menghargai uang niyeee ^_< Sambil melanjutkan perjalanan lagi...
Tong Jia Di kembali bercicit-cuit tentang balas budilah, tukar-menukar atau apalah. Yang katanya, Huo Yan sudah bantu melunasi hutang-hutang pamannya, maka sekarang Jia Di harus membantu Huo Da menyelesaikan kuliahnya. Huo Da malas gila sama pembicaraan kek begitu. Makanya Huo Da langsung nyeletuk, kalo mau balas budi, kita juga wajib balas budi sama Tuhan, gitu katanya. [sok banget yak Huo Da? -___-].
Bukan salah Tong Jia Di dongg, kalo dia ngajak Huo Da buat bersinggah sebentar ke mobil PMI, eh Palang Merah Indonesia dong itu? Kalo Taiwan apaan? PMT? Palang Merah Taiwan? Ah, gitu deh pokoknya. Di mobil itu Jia Di sok wisdom, setetes darah yang kita sumbangkan ini, bakal sangat berguna buat orang-orang di luar sana. Huo Da sih, biasa-biasa saja. Huo Da malah tanya lagi apa motif Jia Di rela-rela menyumbangkan darahnya. Eh... Nggak tahu itu lugu atau apa namanya. Masa Jia Di bilang, kalo habis menyumbangkan darah, dia bisa dapat sebotol susu sama se-saset biskuit gratis. Doengg! [kirain beneran mulia ~~"]. Pas suster mulai membuka suntik buat mengambil darahnya Jia Di. Sontak Huo Da memperbesar bola matanya. ADA SUNTIK! Oh, nggak banget...Huo Da kan phobia banget sama suntik.
Gimana mungkin dia bisa ikutan menyumbangkan darah? Dengan berbagai kalimat-kalimat ngeles, Huo Da berniat kabur dari mobil PMT itu [halah]. "Waktu ayahku kecelakaan, aku sangat berterimakasih terhadap orang-orang yang sudah mau menyumbangkan darahnya".
Gara-gara kalimat itu, Huo Da mengurungkan niat kaburnya. Mulailah dia disuntik dan langsung pingsan di tempat. Tong Jia Di ketawa merdeka deh pokoknya! [dasar].
Sambil menghirup susu dengan tangan gemetar, Huo Da terus diketawain sama Jia Di. Jia Di bilang, kalau Huo Da ketakutan gitu, dia kelihatan cute banget!. Mendadak dia narik tangan Jia Di dan wajah mereka berdekatan [lagi-lagi ~___~?] Ceritanya Huo Da nggak terima gitu kalau setan berdarah hitam seperti dia dibilang cute. Pokoknya nggak terima!. Nah, Jia Di nya masih gelagepan aja nih, wajahnya sedeket itu sama cowok. "Tutup matamu" perintah Huo Da sambil peringisan nggak jelas. Jia Di pasrah-pasrah saja disuruh nutup mata. Dia takut setengah mati bakal diapa-apain sama sang setan. Ternyata bener. Sang setan makin majuin wajahnya. Nafasnya sudah bisa dirasain sama Jia Di dekeeet banget. Tiba-tiba tangan Huo Da bergerak...dan langsung nyentil kening Jia Di, ctukk! gitu bunyinya [sebenernya nggak ada bunyinya sih...].
"Awww!" Jia Di ngelus-ngelus keningnya.
"Itu akibatnya kalo berani bilang aku cute! Awas! Kalo kamu bilang aku cute lagi...aku bakal bikin kepalamu mirip kepala babi!".
Pulangnya mereka kejar-kejaran karena Jia Di nggak berhenti mengolok-olokk Huo Da cute.
Pagi hari pun datang~
Dengan baju warna biru gelap melekat di tubuh Jia Di. Jia Di bergegas masuk ke kamar Huo Da dan teriak-teriak membangunkan Huo Da.
Huo Da masih nggak ngeh kalau disuruh bangun jam segitu. Dia malah minta waktu lima menit buat tidur lagi di atas sofa.
Jia Di nggak mau menyia-nyiakan waktu. Pokoknya Huo Da harus bangun saat itu juga! Jia Di nggak kehabisan akal, dia gelitikin Huo Da dan alhasil, Jia Di malah hampir terduduk di pangkuan Huo Da.
Sejenak mereka bertatapan sangaaaat dekat.
"Hatchih!!" Jia Di bersin. Betapa leganya Jia Di bisa bersin sedeket itu mengotori wajah Huo Da. Hahahhaha!.
Jia Di masih semangat buat menggeret Huo Da ke kampus. Meski Huo Da sempet tidur di pundak Jia Di pas naik kereta tadi sih... tapi yang penting Huo Da kuliah!.
Eh, sudah penuh perjuangan nyeret Huo Da sampai kampus, Huo Da nya malah nggak tahu kelas dia ada dimana.
Toenggg! -____-
Sampai akhirnya dia ketemu satu cewek yang seksi banget [kata Huo Da] yang sempat sekelas sama Huo Da. Merekapun berangkat bareng ke kelas tanpa menghiraukan Tong Jia Di. Terang aja Tong Jia Di sebel [Untung nggak dipanggilin Tong Sham Cong atau Sun Go Kong gitu deh *jauh gelaa].
Pas waktunya pulang, selesai Jia Di ngobrol sama Xiao Nan, Jia Di ketemu satu cowok kutu buku yang kapan hari sempet dipajang di mading kampus kalau dia baru dapat sertifikat [pake' kanji Mandarin, makanya aku nggak tahu sertifikat apa itu].
Mati-matian Jia Di minta tolong sama itu cowok biar mau jadi mentornya Huo Da. Walau agak sulit juga sih membujuknya...Tapi akhirnya itu cowok mau juga.
Sudah lega habis membujuk sang mentor. Jia Di mendapat telepon dari General Manager. General Manager bilang kalau dia punya satu buku buat Huo Da.
Kalo Jia Di minat, Huo Yan bakal langsung ke kampus menyerahkan itu buku. Jia Di pun berminat.
Di kantin~
Huo Da lagi direbutin cewek-cewek yang ngaku sebagai penggemar berat Huo Da. Berdalih kalo d*da mereka gede, Huo Da harus milih salah satu diantara mereka. Siapa yang minat?!.
Untung aja Tong Jia Di lewat tuh kantin. Huo Da nggak kehabisan akal buat menghindar dari bidadari-bidadari surga [halah]. Dia langsung lari ke arah Jia Di, sambil ngerangkul Jia Di.
"Ini pacarku!"kata Huo Da singkat.
"Hah?!! Pacarmu?!!". para cewek nggak terima kalau yang dipilih Huo Da hanyalah cewek mungil berd*da kecil. Doengg! ~_~.
"Siapa yang mau jadi pacarnya?!". Jia Di juga nggak mau dianggap pacar oleh setan macam begitu. "Hah..mana mungkin aku mau jadi pacar setan cowok yang feminim".
"Heh! Kalo kamu bilang, awas!" Huo Da menyekik leher Jia Di.
"Setan ini takut sama jarum suntik"
Cepat-cepat Huo Da muter badan Jia Di. Tahu keadaan makin membahayakan buatnya, dia menyeret Jia Di berlalu pergi.
"Setan ini beneran takut sama jarum suntik" dilanjutin dah sama Jia Di -___-
"Jia Di! Kalo kamu berani bilang... aku nggak bakal mau nerusin kuliah lagi! Awas ya!"
"Oh..iya deh..." Jia Di masang tampang takut. Tapi tiba-tiba dia balik badan dan langsung teriak ke cewek-cewek tadi, "DIA TAKUT JARUM SUNTI~"
Cupp!
Bibir Huo Da langsung nahan bibir Jia Di biar nggak nerusin kalimatnya.
Bersamaan dengan datangnya mobil kuning Huo Yan.
Jia Di mendelik kaget. Dan Huo Da masih meneruskan ulah bibirnya [beeeeh].
Brakk!
Tong Jia Di mendorong Huo Da. Huo Da langsung ngeh apa yang baru saja dia lakukan. Mereka tatap-tatapan cukup lama.
Dengan wajah menyesalnya...Huo Da gelagapan mau bilang maaf.
Huo Yan langsung keluar dari mobilnya dan meraih tangan Jia Di. Jia Di langsung pergi pas melihat Huo Yan marah-marah ke adiknya. Dia lagi-lagi merasa terhina T,T
"Gimana?" tiba-tiba Huo Da menanyai Huo Yan dengan bertanyaan ambigu.
"Yang aku lakukan barusan, persis kayak yang sudah pernah kamu lakukan".
Jbruakk! Bogem Huo Yan nggak segan mendarat di pipi Huo Da. Setelah puas uring-uringan, Huo Yan langsung berlalu pergi dengan mobil kuningnya.
Setelah kejadian itu...Jia Di sudah benar-benar nggak mau mengurus Huo Da. Nggak mau ketemu Huo Da lagi.
Jia Di selalu menghindar tiap melihat Huo Da di kampus. Huo Da merasa bersalah banget, nggak tahu apa yang ada di otaknya, yang jelas dia berniat belajar nyanyi plus gitaran sama anak band kampus gitu.
Setiap hari Huo Da latihan nyanyi.
Beberapa hari setelahnya, Jia Di menelepon Huo Yan untuk ketemuan di mall keluarga Huo. Jia Di bilang, ini semua sudah nggak bisa diteruskan. Jia Di nggak mau ketemuan sama Huo Da.
Jia Di tanya, apa yang bisa dia lakukan untuk mengganti rasa bersalahnya itu?
Huo Yan mengusulkan Jia Di buat ikut dia keliling mall milih-milih baju.
Huo Yan bilang kalo dia mau memberi baju buat cewek yang ukuran badannya sama seperti Jia Di. Tapi Huo Yan nggak mengerti selera cewek itu kek gimana.
Sementara Jia Di keliling-keliling mall, Huo Yan memperhatikan gerak-gerik Jia Di dari jauh. Jia Di menemukan juga baju bagus dengan harga murah [tabiat menghemat uang Jia Di belum ilang lhoooo -__-]. Jia Di pun menelepon Huo Yan untuk memberitahukannya,sampai akhirnya pertemuan itu selesai.
"General Manager, ini baju buat temanmu itu. Aku harap temanmu senang dengan pilihanku".
"Oh, Jia Di! Sebenernya kado ini..."
"Jangan bilang buat mengungkapkan rasa terimakasih General Manager, General Manager mau memberiku sesuatu!"
Huo Yan gelapan. Maksudnya kan baju tadi memang buat Jia Di, behhh.
Di antara mereka... ada senyum yang terpampang sebagai pertanda perpisahan mereka di mall itu.
Tong Jia Di dan Huo Yan memang sudah nggak berjajar lagi. Tapi nggak tahu kenapa Jia Di tiba-tiba berhenti di dekat pintu keluar kayak ingat sesuatu [maaf ya? Aku lupa apa yang lagi dia ingat ^^V].
Di seberang sana Huo Yan juga teringat sama little bear Jia Di di atas meja kerjanya. Juga little bear lain yang sudah Huo Yan beli untuk menemani bearnya Jia Di.
Merasa Jia Di belum terlalu jauh dari mall, Huo Yan segera menelepon Jia Di biar mereka ketemuan lagi.
Sayangnya, Jia Di juga lagi melakukan hal yang sama. Akhirnya telepon mereka masing-masing sibuk.
Jia Di heran, kenapa telepon sang General Manager nggak bisa dihubungi, begitu juga Huo Yan. Tapi Huo Yan nggak pikir panjang.
Dia langsung berniat menyusul Jia Di cepat-cepat yang pastinya belum terlalu jauh pergi.
Naas, karena terlalu semangat, tangan Huo Yan yang lagi megangin ponsel menatap daun pintu. Ponselpun terpisah dari baterainya.
Padahal pas itu Tong Jia Di lagi menghubungi ponsel Huo Yan kedua kalinya.
"Ma'af, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.." sahut customer service nomor Huo Yan.
Setelah merapikan lagi ponselnya yang terpisah dari baterai...Huo Yan kembali lari menyusul Jia Di.
Lagi-lagi begitu juga Jia Di [jodoh kali yak? :)]. Jia Di langsung menuju ke bagian informasi. Minta tolong sama mbak-mbaknya buat dipanggilkan cowok dengan sebutan Guy No. 10 untuk segera menemui nona Tong Jia Di di lantai kedua.
Pengumuman terlaksana.
Mereka berdua bertemu di lantai dua. Huo Yan yang sejak dengar pengumuman tadi senyum-senyum, masih melajutkan senyumnya.
Huo Yan bilang, kalau dia seneng banget masih bisa jadi Guy No. 10 nya Jia Di. Mendengar pernyataan riang dari Huo Yan barusan, Jia Di malah meluruskan bibir lengkungnya.
Singkat cerita, mereka ngobrol di sana. Dan Huo Yan langsung memberikan little bear yang kapan hari pernah nyangkut di jok depan mobil Huo Yan.
Jia Di senang banget little bear pemberian ayahnya ketemu. Nggak lupa, Huo Yan juga menyerahkan little bear's doctor yang Huo Yan beli khusus buat menemani little bearnya Jia Di.
Jia Di sangat berterimakasih.
Setelah sampai' kampus dan selesai mengikuti segala kegiatan di kampus, Tong Jia di ke kantin bareng Xiao Nan.
Di sana Xiao Nan nyerocos tentang kesalahan yang sudah dilakukan sang setan.
Xiao Nan makin ngomel saat tahu ternyata sang setan belum juga minta ma'af sampai detik itu!.
Eh, tiba-tiba yang diomongin datang.
Karena merasa nggak ada gunanya buat tetap di situ, Xiao Nan langsung narik tangan Jia Di buat buruan cabut.
Tapi tangan sang setan lebih cepat buat nahan tangan Tong Jia Di. Tapi Tong Jia Di hampir saja milih ikutan pergi bareng Xiao Nan.
Huo Da berseru, "Masa' permintaan maaf tiga kali belum setara dengan kesalahan yang dilakukan sekali?!".
Jia Di tertahan. Dia akhirnya toleran juga. Oke! Jia Di pun menuruti permintaan Huo Da.
Tangan Huo Da tiba-tiba menjauhkan tangan Xiao Nan dari tangan Jia Di. Nggak tahu apa maunya, tapi tiba-tiba Huo Da memberi selembar foto yang dia bilang itu sebagai permintaan maafnya yang nggak boleh dikasih tahu siapapun termasuk Xiao Nan.
Pas Jia Di balik itu foto, ternyata di sana ada Huo Da yang lagi nyengir ketakutan gara-gara jarum suntik PMT. Hhaahahah! Jia Di nahan tawa sambil terus jaga kerahasiaan foto dari Xiao Nan yang penasaran setengah mati.
Terus Huo Da memberi permintaan maaf yang lainnya. Ada di dalam kotak pinky kecil yang langsung Huo Da berikan ke Jia Di.
Sekali lagi Huo Da memperingatkan kalau kado itu juga nggak ada yang boleh tahu kecuali Jia Di!.
Maka Jia Di harus membuka kado itu kalau sudah sampai rumah. Lagi-lagi Jia Di meng-iya-kan.
Huo Da bisa berlalu lega..
Malam-malam di rumah Jia Di.
Jia Di masih kepikiran sama Huo Da. Tapi kadang dia senyum kalau melihat foto konyol yang terpampang di atas mejanya sekarang.
Karena teringat sama kado permintaan maaf Huo Da, Jia Di langsung membukanya dan ternyata di dalamnya ada semacam MP3 recorder gitu [tau' ah apaan].
Jia Di langsung mempersiapkan earphone dan mulai mendengarkan celotehan-celotehan Huo Da di dalamnya.
Ada sederet kalimat dari sekian banyak cerosan Huo Da yang bikin aku klik banget.
Yaitu, "Aku minta maaf... Karena aku sudah menciummu tanpa cinta. Jadi, sebenarnya aku nggak bermaksud begitu ke kamu. Aku minta ma'af... Aku sangat jahat...sangat jahat...sangat jahat. Aku sudah mengatakannya tiga kali. Yah, walaupun... Aku suka menindasmu...suka melihatmu sengsara...dan suka mempermalukanmu... Tapi, aku sungguh nggak pernah benar-benar ingin menyakitimu... Kamu boleh, memilih untuk nggak memaafkanku. Karena...bahkan aku, bahkan diriku, tidak rela untuk memaafkan orang seburuk diriku.. Tapi kamu, nggak harus nggak bahagia.."
Gimana? So suit banget, kan?! Huwaaaah terharu banget aku dengernya! Huwaaah!.
Ah, nggak nggak nggak! Tapi ke-sosuit-an itu lenyap seketika Huo da mempersembahkan lagu dengan suara nggak jelasnya -____-.
Jia Di senyam-senyum dengar itu. Dan ternyata Jia Di juga bilang kalau suara Huo Da nggak banget! [jadi yang nggak banget sebenernya suara siapa? Huo Da apa Mike He? Hahaha!]
Pagi-pagi...
Jia Di sudah meluncur ke rumah Huo Da. Tapi di depan bengkel dia dicegat sama nona cantik Yan Shu! [huwek!].
Nggak disangka, kedatangan Jia Di dengan niat baik, lagi-lagi harus ditindas dengan comel-comelan Yan Shu yang nggak ada baik-baiknya.
Tanpa cincong tambahan... Jia Di pergi.
Huo Da keluar dari kandangnya dan heran melihat Jia Di tiba-tiba pergi nggak mampir dulu ke rumahnya. [asal kamu tahu ya, Huo Da! Itu semua gara-gara cewek idamanmu, tahu!!]
Sepulang kuliah~
Jia Di minta' bantuan Xiao Nan buat menghubungi Bo Zi. Yah, walaupun Xiao Nan males-malesan, tapi akhirnya mau juga.
Apapun yang diminta Xiao Nan, Bo Zi pasti melakukannya!.
Nggak aneh-aneh. Yang diminta Xiao Nan waktu itu persis kayak apa yang diminta Jia Di.
Xiao Nan cuma minta tolong Bo Zi buat cepetan bukain kunci pintu rumah Huo Da sebelum Huo Da keburu balik.
Soalnya Jia Di punya kejutan unik buat Huo Da! \[^_^]/.
Bo Zi pun setuju, dan Jia Di sudah mempersiapkan segala kejutannya sampai selesai.
Tiba-tiba Tong Jia Di bertatap muka dengan Yan Shu pas keluar rumah Huo Da.
=========================================================================
Episode tujuh yang sangat complicated inipun selesai.
[mataku mulai teler, nih! ~__~]
==Bersambung==
Posted only on PelangiDrama
DO NOT REPOST TO OTHER SITE/FP !!!










































Why Why Love.. My fave T-Drama xD
suka sama drama ini sama Devil Beside You. Pemainnya juga sama xD tapi ini kan drama udah lama.
Mike He, Kingone Wang
Bahasa sinopsisnya nyantai bikin mesem2 sndiri bacanya..^^