[Sinopsis J-Drama] TONBI Episode 2

2 comments
Sinopsis Tonbi Episode 2

Episode sebelumnya,
Akira mempresentasikan proyek hadiah bulanan majalahnya namun gagal, atas saran rekannya, ia mengingat masa kecilnya untuk mendapatkan inspirasi, alhasil ia merokemendasikan bola tiup sebagai hadiah bulanan, dan disetujui dewan direksi. Setelah menyelesaikan pekerjaannya ia segera mengunjungi TK untuk menjemput Konsuke. Setelah ia pergi Mukawa dan Miyako, menggosipkannya perihal gay.

~TONBI Episode 2~
Mukawa semakin menjadi-jadi menggosipkan Akira, ia mengatakan pada Miyako kemungkinan Akira gay karena selama ini tak pernah terlihat kencan dengan seorang wanita. Miyako mencandainya dengan mengajak Mukawa menonton film bertemakan lelaki gay yang mengadopsi anak. Mereka tak sadar sebenarnya Yumi mendengarkan setiap percakapan mereka.
Akira menjemput Konsuke dari TKnya, di perjalanan mereka bercanda sambil mengeja kata. Konsuke terdiam karena melihat seorang gadis cilik yang berbahagia dituntun kedua orangtuanya.  Akira pun ikut terdiam. Ia memandangi tangan gadis kecil tadi lalu beralih ke tangan kosong Konsuke. Dan ia pun teringat kenangan masa kecilnya.

“Ketika aku bersama anak ini, aku teringat diriku di masa kecil. Itu bukan berarti aku sangat kesepian. Tetapi tangan kananku cukup merasa kedinginan. Tidak sampai membuat aku menangis. Tapi hanya sedikit dingin. Dan selalu dingin. Hei, Ayah... bagaimana caramu menghangatkan tanganku dulu?”
 
Flashback. Saat itu sedang berlangsung acara pernikahan Kuzuhara, rekan kerja Yasu yang kerap kali kena sasaran tonjokannya dengan alasan diwajahnya tertulis kesalahan. Yasu menyanyi sambil menggoda pengantin wanita, Kuzuhara tentu saja ingin menghentikannya namun seperti biasa ia kena tonjok. Kuzuhara protes kenapa di hari pernikahannya ia tetap saja kena tonjok. Terang saja semua hadirin tertawa. Alih2 menjawab Yasu justru meraih pundak Kuzuhara dan mengajaknya bernyanyi.
Dan berakhir dengan Yasu dan Kuzuhara yang tertidur di Tanagi. Shoun, Manajer Hagimoto, CEO Bito, Taeko, dan Yuki memangku Akira, duduk memandangi mereka dengan penuh senyuman. Shoun meminta izin pada Taeko untuk mengajak Akira menginap di rumahnya. Namn Taeko beralasan Akira ada TK esok hari dan akan mengganggu kesibukan Shoun. Tapi Yukie beralasan kalau dirinya sudah bisa menyetir sehingga bisa mengantar Akira, ia khusus belajar menyetir agar bisa membawa Akira berkeliling. Taeko tersenyum mendengarnya. Tapi Yasu terbangun dan mengajak Akira pulang.
 
Keesokan harinya Yasu bangun kesiangan, ia pun belingsatan menyiapkan makanan instan lalu mengantarkan Akira ke TK. Akira kecil dengan sigap menyesuaikan irama kecepatan sang ayah, tanpa banyak komentar (Akira kecil ini pengertian banget dengan ayahnya dan sopan).
Sesampai di gudang tempatnya bekerja, Yasu langsung berdoa di lokasi tempat kematian Misako, ia berdoa semoga tak ada kecelakaan hari ini. Manajer Hagimoto mencandainya apakah Yasu mengantarkan Akira ontime. Tentu saja Yasu meladeninya, ia menceritakan kalau Akira anak yang mandiri, ia juga mengibaratkan dirinya dan Akira seperti sepasang elang dan rajawali. Hagimoto tersenyum mendengarnya. Yasu memulai pekerjaannya dengan semangat dan menyemangati pekerja lainnya (dia ceria banget, seolah ga ada penderitaan dalam dirinya).
Taeko menjemput Akira di TK, saat bersamaan seorang ibu menjemput anaknya dengan disambut ceria si anak. Akira memandang sendu kemesraan ibu dan anak itu. Hal itu membuat Taeko terenyuh. Tapi Akira kembali menghadirkan keceriaannya, ia menyapa Taeko lalu meminta izin pulang dengan wali kelasnya dengan sopan.
Sesampainya di Tanagi, Taeko menanyai kemurungan Akira, tapi Akira kecil menjawabnya dengan senyuman. Beberapa saat kemudian Yasu datang dan segera duduk di samping Akira. Akira menyapanya dan ingin mengucapkan sesuatu, tapi Yasu menyuruhnya makan, ia langsung mengambil makanan Akira dan memakannya. Akira tersenyum melihat ulah sang ayah, ia pun menasehati ayahnya kalau tindakan itu tidak sopan (eeeerrr... kebalik ini siapa yang menasehati). Taeko tertawa melihatnya.
Selesai makan Yasu membawa Akira ke onsen, di sana ibu pemilik Onsen berusaha memberi rekomendasi seorang janda kepada Yasu. Tentu saja Yasu menolak dengan alasan ia sudah hidup cukup baik dengan Akira. Si ibu tak mau kalah ia mulai berceloteh.
“Baka, aku berbuat seperti ini karena aku peduli. Kamu mungkin baik2 saja sekarang, tapi bagimana mungkin orang sebodoh dirimu bisa membesarkan anak sendirian. Seperti hari itu aku mendengar Ak-kun terluka.”
Sambil mandi Akira menceritakan kalau dirinya dapat tugas mengggambar keluarga. Tentu saja ia bisa menggambar Yasu dan dirinya, namun ia kesulitan menggambar wajah ibunya sehingga ia meminta izin untuk membawa foto ibu ke sekolah. Mendengar itu Yasu terdiam. Ia menyuruh Akira hanya menggambar dirinya sendiri atau menggambar lainnya. Tapi Akira tersenyum dan mengatakan kalau Ibunya selalu ada di dalam hatinya karena itu ia ingin mengambar wajah sang ibu. Mereka berdua pun tersenyum lalu mandi dengan ceria.
Sepulang dari onsen, Yasu dan Akira berjalan sambil bernyanyi ceria, Akira termangu melihat kemesraan keluarga kecil di depannya. Ia memandangi tangan kanannya yang kosong lalu memasukkannya ke dalam saku jaket. Sesampainya di rumah, ia segera membongkar album foto, sebelum tidur ia tersenyum memandangi foto sang ibu sambil mengatakan kalau dirinya berjanji akan menggambar wajah ibunya.
 
Keesokan harinya Yasu kembali menyapa rekan kerjanya dengan semangat, tetiba Kuzuhara datang dan menanyakan apakah Yasu mau menikah lagi. Tentu saja Yasu terkejut. Hagimoto segera menghampirinya dan menunjukkan foto wanita yang kemarin ditunjukkan ibu pemilik onsen. Yasu mengomel sendirian. Kuzuhara tak terima, ia tak setuju Yasu menikah karena menurutnya Misako baru saja meninggal 2 tahun lalu, kenapa tega Yasu mengkhianatinya (hahahaha... melow banget si Kuzuhara...). Berbeda dengan rekan kerja satunya, ia berpendapat Misako mungkin akan bahagia bila ada yang mengurus Yasu. Namun Yasu malah memarahi orang itu. Dengan berhati-hati Hagimoto menimpali Yasu.
“Bukankah Akira juga kesepian? Sebenarnya ayahku menikah lagi saat aku berusia 17 tahun. Ibu tiriku orang yang sangat baik, tetapi pada saat itu aku belum bisa sepenuhnya membuka hatiku untuknya. Terkadang aku berfikir, mungkin akan berbeda ceritanya saat aku masih kecil.”
“Sebenarnya Akira sering mengompol, aku berfikir ia merasa kesepian, tetapi sekarang aku menemukan cara untuk mengatasinya.”
 
Akira menggambar wajah ibunya dengan hati2, lalu datang seorang anak menanyakan perihal foto yang ia jadikan objek. Akira memamerkan pada temannya kalo itu ibunya. Hal itu membuat anak2 yang lain penasaran dan ikutan memegangi foto tersebut. Akira mulai tak nyaman dengan kondisi itu, ia pun merebut foto tersebut dan akhirnya robek.
 
Yasu datang menjemput Akira namun ia mendapati kelas kosong. Wali kelas mengajak Yasu berbicara. Ia menceritakan perihal robeknya foto ibunya. Saat itu setelah foto ibunya robek, ia menangis. Si teman menyarankan agar menselotif foto tersebut. Namun Akira terlanjur marah, ia pun memukul temannya itu. Mendengar itu Yasu bangga, karena menurutnya amarah Akira menunjukkan kalau ia benar2 anaknya (hahahaha....). Wali kelasnya menjelaskan lagi, setelah insiden pemukulan, ibu anak itu datang, ia sepakat kalau itu merupakan kesalahan anaknya sehingga tidak akan mempermasalahkan Yasu. Tetapi masalahnya adalah saat Akira mulai melukis lagi, ia melihat si ibu temannya datang mengelus kepala si teman lalu menyuruhnya meminta maaf pada Akira. Akira cemburu melihat kemesraan itu, ia pun segera merobek kembali foto ibunya. Wali kelas yang berusaha menghentikannya justru digigit. Mendengar hal itu Yasu segera meminta maaf. Ibu Wali kelas pun meminta Yasu lebih memberi perhatian pada Akira karena menurutnya Akira sedang merasa kesepian. Tidak hanya wali kelas, Taeko pun sepakat kalau Akira kesepian dan mendambakan seorang ibu. Ia pun berpesan agar Yasu lebih sabar lagi menghadapi Akira dan memperingati kemungkinan Akira akan mengompol.
Dugaan Taeko ternyata benar, Akira mengompol dan itu berlanjut pada hari-hari berikutnya. Dengan sabar Yasu mencuci sprei tengah malam. Melihat itu Akira tak berhenti meminta maaf sambil ingin menangis. Dampaknya Yasu menyupir truk sambil mengantuk, untungnya ia pergi bersama Kuzuhara yang memperingatinya. Sepulang kerja Yasu menghela nafas melihat piring2 kotor dan rumah yang berantakan karena dirinya tidak sempat merapihkan sebelum kerja (wanita benar2 berperan penting ya). Yasu merasa ia tak mampu melakukannya sendirian. Ia memandangi foto yang diberikan ibu pemilik onsen.
Keesokan harinya Yasu mengunjungi makan Misako, Kaiun menyapanya, namun Yasu terburu-buru sehingga Kaiun hanya bisa memandanginya dengan penuh tanya. Kuzuhara pun ikutan stress mengetahui Yasu akan menerima tawaran menikah.
 
Pertemuan Yasu dan wanita itu berlangsung dengan dimediasi oleh ibu pemilik onsen tentunya dan Akira ikut serta.. Setelah ibu pemilik onsen pergi akhirnya Yasu dan wanita itu mengobrol, lalu datanglah Shoun dan Kuzuhara yang sedang menyamar sebagai deb collector, dengan sengaja mereka menjelek2kan Yasu sebagai orang yang tak pernah bayar utang, Akira dan Yasu sontak melongo. Tidak hanya itu Kuzuhara menyebut-nyebut nama Misako dengan lantang. Yasu merasa terganggu, ia pun mengajak wanita itu dan Akira keluar. Di luar ternyata mereka di ganggu oleh CEO Bito yang juga ikut2an menyebut nama Misako. Yasu kesal, akhirnya ia mengejar CEO Bito (hahahaha koplak nih orang2...). Wanita tersebut tersenyum kemudian mengajak Akira bermain. Yasu terpana melihat cara wanita itu mengasuh Akira, ia terharu melihat Akira bahagia. Di belakangnya, Shoun, Kuzuhara, dan CEO Bito ikutan mengamati.
Dampak dari kebahagiaan itu, Akira berhenti mengompol, Yasu senang bukan main. Ia dan Akira pun menari2 di tempat tidur, tetiba foto Misako terjatuh dari tempat pemujaan. Yasu terperanjat melihatnya.
 
Malam hariya ketika mandi di Onsen, ibu pemilik mengatakan kalau sang wanita bersedia menikah dengan Yasu, ia pun memebri selamat pada Akira yang akhirnya akan punya ibu. Akira kebingungan. Yasu menjelaskan pada Akira kalau tante yang tempo hari ditemuinya akan menjadi ibunya. Akira terdiam mendengar itu, ia hanyut dalam fikirannya sendiri.
 
Sesampai di rumah, Yasu berbicara dengan foto istrinya sambil mengenang semua memori kebersamaannya dengan sang istri, “Kau tidak marahkan Misako? Kamu selalu merespon setiap rencananku dengan antusias dengan mngucapkan ‘ide yang bagus’ meskipun ideku memalukan. Kamu selalu menemukan kalimat yang bagus untuk mengatakannya. Sungguh menyenangkan saat itu.”
Akira bangun dalam keadaan ngompol dan mendatangi Yasu untuk meminta maaf. Yasu menghela nafas melihatnya. Akira berdiri manyun melihat ayahnya merapihkan sprei.
“Bukankah kau menginginkan ibu? aku berharap kau mengatakan yang sesungguhnya. Kau akan segera SD. KAU HARUS MENGUCAPKAN APA YANG ADA DALAM FIKIRANMU”
Dengan hati-hati Akira menjawab pertanyaan Yasu, “Aku ingin ibu, tapi IBU YANG AKU INGINKAN ADALAH OKAA-SAN!”. Akira membelakangi Yasu dan memandang foto ibunya, ia terisak dan sambil memegang dada kirinya ia mengatakan semua isi hatinya, Yasu memandanginya tak percaya sekaligus terenyuh.
“Itu bohong bahwa ia ada di sini bersamaku. Okaa-san tidak mengatakan apapun, meskipun ketika aku berantem atau menangis, okaa-sanku tidak mengatakan apapun padaku. KENAPA HANYA AKU YANG TIDAK PUNYA IBU?”. Mau tidak mau Yasu meneteskan air mata mendengarnya, ia beringsut meraih pundak Akira, “tidak ada alasan untuk itu, itu hanya sebuah kecelakaan”.
Keesokan malamnya, Yasu dan Akira makan malam kepiting di rumah Shoun. Kaiun menyinggung masalah pernikahannya. Yasu tersedak mendengarnya. Yukie terkejut mendengarnya, ia pun segera menanyakan Akira apakah ia ingin punya ibu. Akira menjawab tidak yakin dengan wajah cemberutnya. Kaiun mengamati mimik wajah Akira. Ia pun segera mengajak Akira ke pantai dengan disupiri Shoun. Yasu terkejut dengan ajakan yang tiba-tiba apalagi malam itu cuaca sedang bersalju.
Di pantai mereka semua kedinginan. Kaiun menyuruh Akira membuka jaketnya, Yasu tak setuju, tapi Kaiun mendesak sehingga Yasu membukakan jaket Akira sambil ngomel. Kaiun menanyakan apakah Akira kedinginan dan Akira mengangguk, Ia pun menyuruh Yasu menggendongnya agar tidak kedinginan. Walau masih belum mengerti apa mau Kaiun, Yasu manut saja.
“Apa yang kau rasakan Akira?”
“Dingin”
“Kau baik- baik saja, itu bagus Akira. Itulah kehangatan yang berasal dari ayahmu. Jika ayahmu menggendongmu, maka bagian depan tubuhmu akan terasa hangat. Tapi punggungmu masih dingin, iya kan? Jika ibumu ada, maka ia bisa menghangatkan punggungmu. Anak yang memiliki ayah dan ibu bisa merasakan kehangatan seperti itu. Tapi karena Akira tidak punya ibu, maka punggungmu selalu dingin. Tidak peduli seberapa keras ayahmu berusaha, ia tidak akan bisa menghangatkan punggungmu. Untuk menghilangan kedinginan adalah tugas dalam kehidupanmu, Akira. Hidup dengan punggung yang kedinginan sangat menyedihkan, iya kan? sangat kesepian, iyakan? itu membuatmu sedih, marah, dan frustasi, iya kan?”
Akira kecil mengangguk dan mulai menangis di pundak ayahnya. Yasu yang mendengarnya ikutan menangis. Kaiun meletakkan tangannya di punggung Akira sambil tersenyum, ia juga menyuruh Shoun melakukannya. Yasu yang melihatnya juga ikutan meletakkan tangannya di pundak Akira.
“Akira, apakah kau hangat sekarang? dan Jika kamu masih kedinginan, masih ada tante Yuki dan Tante Taeko, Ketika kau mengalami kedinginan, maka kami akan menghangatkanmu seperti ini. Selamanya kami akan melakukannya. Jadi, jangan berfikir bahwa dirimu menyedihkan. Sejak kamu sudah tak kedinginan lagi, maka kamu tidak kesepian, sebagai ganti ibumu, kamu memiliki banyak orang yang akan menghangatkanmu. Kamu bukan anak yang kesepian!”
Shoun terisak, semuanya terisak sebenarnya, tapi Kaiun mengeplak kepala Shoun sambil mengatakan kalau pria yang tumbuh dewasa tidak boleh menangis sambil tertawa pada Akira yang masih sesenggukan.
 
Shoun membawa Akira ke dalam mobil, tinggallah Kaiun dan Yasu. Kaiun menanyakan keseriusan Yasu untuk menikah. Yasu menjawab kalau dirinya akan melakukan itu demi Akira. Kaiun kembali bertanya kemungkinan Yasu jatuh cinta dengan wanita itu. Dengan serampangan Yasu menjawab bagaimana mungkin cinta pada pernikahan yang kedua. Terang saja Kaiun mengeplak kepalanya.
“BODOH, MENIKAHI WANITA ADALAH SAAT KAU MENCINTAINYA! KAMU MELAKUKANNYA KARENA KAMU TIDAK BISA HIDUP TANPA DIA. ITULAH PERNIKAHAN. Tapi bila sebaliknya yang kau rasakan, kau hanya akan menyakiti hatinya.”
“Apa yang harus aku lakukan, Akira merobek foto ibunya, ia juga masih terus mengompol.....”
“JANGAN JADIKAN AKIRA SEBAGAI ALASAN KESEPIANMU. Apakah kamu menggunakan Akira sebagai kambing hitam untuk menghilangkan rasa kesepianmu? Yasu, berduka, bangkit, jika kalian berdua terjebak dalam duka maka bangkitlah. Maka kau adalah lautan.”
“Lautan?”
“Salju adalah duka, Jika kamu adalah tanah, maka salju akan menumpuk di sana, meskipun akan mencair namun butuh waktu lama. Tapi jika kamu adalah lautan, tidak peduli seberapa keras salju itu, tidak akan menumpuk. Ketika Akira sedang sedih, kamu tidak boleh ikutan sedih. Jika Akira menangis, maka kamu harus tertawa. Tersenyum dan hapus kesedihannya. ”
Yasu menangis meresapi kalimat Kaiun. Kaiun memandangnya dan menyuruhnya tersenyum, namun Yasu semakin terisak sehingga Kaiun mengeplak kembali kepalanya, “BODOH, Tidak ada artinya tersenyum jika kamu menangis!”.
Yasu mengelap air matanya, “Diamlah... dan..tung...gu” ucapnya terisak. Kaiun tersenyum, ia bergeser ke belakang Yasu, “aku akan menunggu..” ucapnya sambil mengelus pundak Yasu. Yasu semakin sesenggukan.
Keesokan harinya Yasu menemui wanita yang dijodohkan padanya, ia menyampaikan maafnya karena secara sepihak membatalkan proses. Wanita itu juga meminta maaf, sejujurnya ia juga merasa tak enak pada almarhum suaminya. Akira pun kembali ceria, ia mulai melukis wajah ibunya. Si teman datang menghampirinya dan memasangkan penyangga pada foto tersebut untuk memudahkan Akira melihatnya. Akira berterimakasih pada temannya itu.
Acara wisuda TK berlangsung, anak2 bernyanyi bahagia. Yasu menghadiri acara tersebut dengan ditemani Shoun, Kaiuan, Taeko, Kuzuhara, Hagimoto, Yukie, CEO Bito, dll. Yukie mengangkat tinggi2 foto Misako. Yasu merasa tak enak, ia pun menyuruh Yuki menurunkannya. Namun Yukie bersikeras menolak sehingga mereka tarik2an, Shoun yang berada di tengah menarik tangan Yasu sambil terus tersenyum menikmati paduan suara anak2.
Selepas acara wisuda, Akira menghampiri mereka sambil menunjukkan lukisannya pada Yasu, “meskipun aku tidak bisa mengingat wajah ibu, Aku ingin menggambarnya dengan baik. Jadi semua orang bisa melihat”. Yasu memandangi lukisan itu, ia pun memeluk Akira sambil menangis. CEO Bito segera memasang kamera dan mengajak mereka foto bersama. Flashback End.
  
“Hari itu aku hanya aku sendiri yang tidak memiliki ibu di sana. Tetapi aku juga satu-satunya yang memiliki banyak audience. Dikelilingi oleh kehangatan orang dewasa. Aku tidak kedinginan lagi. Aku tidak kesepian lagi. Jadi begitukah ayah?”

Akira tersenyum mengingat kenangannya, ia memandang tangan kanan Konsuke, ia pun duduk di hadapan Konsuke, “Konsuke? apakah kamu ingin melakukan hal yang menyenangkan?” ucapnya sambil meraih tangan kanan Konsuke, “apakah kamu kedinginan?”. Ia pun mengajak Konsuke berlari, Konsuke menjerit bahagia, “Kita akan jatuh Akira!”. Dan benar saja mereka jatuh terguling di aspal.
“Kau tahu ayah, mereka masih hidup. Kebersamaanku denganmu ada  di dalam diriku sekarang”


Di kantor, Yumi memandangi figura foto Yasu yang terpajang di meja Akira. Ia pun bergumam sendiri, “Pecinta anak-anak? Gay?”.

Bersambung................

Ah Episode yang mengharukan... nasihat Kaiun benar2 menohok hati... semoga readers bisa mengambil hikmah dari episode kali ini ya...

TONBI Episode 2 mengajarkan untuk:
1. JANGAN mengkambinghitamkan orang lain atas kepentingan pribadi...
Terkadang kita melakukan sesuatu mengatasnamakan demi kebaikan orang lain padahal sebenarnya untuk memenuhi kepentingan pribadi...
2. Daripada menangisi sesuatu yang tak kita miliki lebih baik mensyukuri apa yang kita punya.
Akira kecil harus menerima kenyataan kalau dia tak punya ibu, dan tak boleh menangis karenanya, sebaliknya ia diharuskan berterimakasih pada orang2 yang berada di sekelilingnya. Dan Akira kecil pun harus belajar tentang itu di tengah dinginnya malam... sehingga akhirnya ia mampu mengatakan: "semua kesepian itu tak sampai membuatku sedih, tapi hanya membuat tanganku dingin".

 Thanks for your reading, don't forget to leave comment and keep support us :)


written by Saa [Blog]
Images by Ari [G+ | Twitter]
Only Posted on pelangidrama.net
DON'T REPOST TO OTHER SITE/Fanpage FB!!
 Please be patient!!! don't ask next episode! OK!

2 Responses so far.

  1. Waduuhhh.. Menetes juga air mataku. Bagaimana bisa anak sekecil itu berkompromi dengan keadaan? Syukurlah banyak yang mendukung. Bagaimana dengan anak2 yang kurang beruntung? Tuhan sajalah menjadi pegangan.

  2. Sama uni amel ari juga menitikkan air mata huhuhu sedih banget apalagi kata2 Kaiun menohok banget :) bahagia banget ya akira dan Yasu dikelilingi orang2 yang care sama mereka :)

Leave a Reply

RULES BERKOMENTAR:
*Jangan lupa Like dan ReTweet Postingan di atas.
*Gunakan bahasa sopan.
*Sertai nama dalam berkomentar.
*Sebelum tanya episode selanjutnya, lihat dulu INDEX Sinopsis, bila belum ada, harap bertanya baik-baik.
*Kami akan sangat menghargai komentar berupa support dan kritik yang membangun demi perbaikan kualitas Pelangi Drama

 
Pelangi Drama © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger . Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here