[Sinopsis Thai-Movie] My True Friend Part 1

2 comments
=My True Friend=

Fajar mulai menyingsing di kota Bangkok, Thailand. Warga kota mulai menjalankan aktivitasnya. Jalanan mulai ramai dengan kendaraan yang melintas. Di sepanjang jalan itu, tampak bangunan2 tua yang masih berdiri kokoh. Seorang pemuda berdiri di pinggir trotoar, menunggu lampu lalu lintas berubah hijau untuk pejalan kaki. Lampu lalu lintas akhirnya berubah hijau, pemuda itu lalu menyebrang jalan.  Pemuda itu adalah Song yang sedang menuju kampus barunya.
 
Dua pemuda yang berseragam sama dengan Song berlari dari arah sebuah lorong. mereka terus berlari dari kejaran sekawanan pemuda lainnya. Pemuda itu adalah Gun dan Kla. Gun melirik ke belakang, melihat apakah mereka masih dikejar. Mereka terus berlari menyebrangi jalan raya dan melompati sebuah taman kecil. Aksi kejar2an terus berlanjut hingga ke depan gerbang kampus. Sementara itu, Song juga berjalan menuju gerbang kampus. Gun berlari di belakang Gun. Tiba2 Gun menghajar salah satu pemuda yang mengejarnya. Song berbalik karena mendengar keributan di belakangnya. Gun hendak berlari menyusul Kla, namun ia di terkepung oleh pemuda2 yang sedari tadi mengejarnya.
 
1 vs banyak, jelas bukan lawan yang seimbang. Namun itu bukan masalah buat Gun. Ia bisa melumpuhkan mereka semua. Gun menghajar mereka satu persatu. Kla yang tadinya berlari, segera membantu Gun menghajar mereka. Perkelahian itu tak dapat terelakkan. Gun dan Kla terus menghajar mereka hingga lawan2 mereka jatuh satu persatu. Sementara itu, Song melihat tawuran itu  dengan pandangan takjub sekaligus terkejut.
Tiba2 seorang gadis menarik lengan Song dan mengajaknya menyingkir dari tempat itu. “Kau tidak takut kena pukul?” tanya gadis itu cemas. Song tampak bingung karena ia merasa tidak mengenal gadis itu. Gadis itu adalah Nem, salah seorang mahasiswi di kampus Song. Nem terus memegang lengan Song dan menatap dengan tatapan benci ke arah tawuran itu.

Gun dan Kla itu terus menghajar lawan mereka. Tiba2 sebuah motor melintas di belakang Song dan gadis itu, mereka berdua terkejut karenanya. Pengendara motor itu adalah Nick, teman Gun dan Kla. Nick berteriak memanggil Kla dan Gun. Melihat kehadiran Nick yang menjemput mereka, mereka berdua bergegas berlari menghampiri Champ. Kla naik ke motor, tiba2 ia berseru, “Gun, di belakangmu!” Gun berbalik sembari melayangkan sikutnya ke wajah salah seorang lawan yang  menghajarnya. Melihat mereka bertiga, Nem tampak kesal dan segera menarik Song pergi meninggalkan tempat itu. Begitu pula Gun, Kla dan Nick yang bergegas meninggalkan tempat itu.
Nem dan Song berjalan memasuki kampus sambil mengobrol. Song mengenalkan dirinya sebagai mahasiswa baru pindahan dari Chiang Mai. “Kau baru pindah dari Chiang Mai ya? Pantas kau tampak canggung begitu,” ujar Nem. Song nyengir mendengarnya. “Serius, kau tak pernah melihat perkelahian jalanan?” tanya Nem. Song menggeleng, yang ia lihat hanya perkelahian sekolah. Nem menyarankan agar Song berhati2.
“Banyak Gengster di sini, seperti yang kau lihat tadi. Gun, adalah ketua geng ‘Sperm’. Dia sudah sering dikeluarkan dari sekolah. Sekarang dia sudah tahun ke-2 di sini,” terang Nem. Song hanya terdiam mendengar penjelasan Nem. Nem lalu bertanya pada Song siapa namanya?
“Namaku Song,” jawab Song. Nem lalu bertanya Song jurusan apa? Song menjawab jurusan Seni, tahun pertama. Nem tampak terkejut, ia juga satu jurusan dengan Song. “Benarkah? Siapa namamu?” tanya Song. “Namaku Nem,” jawab Nem sambil tersenyum manis.
Sebuah skuter melewati mereka dan berhenti di depan mereka. Nem mengenali gadis pengendara skuter itu, ia pun berseru memanggilnya seraya melambaikan tangan “Dew! Dew!” Gadis yang dipanggil Dew itu membuka helmnya lalu berbalik ke arah Nem seraya tersenyum manis. Song tampak terpesona melihat kecantikan Nem, ia sampai termangu karenanya. Nem menyenggol Song, menyadarkannya. Nem lalu mengenalkan Song pada Dew. Nem menjelaskan kalau Dew adalah mahasiswi jurusan perdagangan tahun kedua. Dia adalah senior Nem waktu SMA. Nem juga mengenalkan Song pada Dew. Dew menyapa Song dengan riang, Song tersenyum membalas sapaan Dew.
Dari jauh, tampak Gun yang berbonceng tiga dengan Kla berhenti di parkiran kampus. Gun lalu turun dari motor dan berjalan meninggalkan mereka berdua. Kla berseru pada Gun dan mengingatkan Gun agar bertemu sore nanti. Gun memalingkan wajahnya sembari mengacungkan jempolnya, mengiyakan. Champ dan Kla lalu berbalik pergi, sementara Gun berjalan ke masuk kampus.
 
Melihat Gun yang berjalan ke arah mereka, Nem tampak kesal. “Itu dia. Si pembuat masalah,” ujar Nem. Mereka bertiga melihat ke arah Gun. Nem meminta agar Song menjauhi Gun. Gun berhenti di samping mereka dan memandang Nem. Nem tampak kesal dan menarik Dew pergi seraya pamit pada Song. Gun tampak heran dengan sikap Nem padanya. Ia lalu menatap heran pada Song. Ditatap seperti itu, Song hanya menunduk dan berjalan pergi meninggalkan Gun yang tampak berpikir.

= Flashback =
Dua tahun lalu.
 
Gun sedang bersiap menghadapi Ujian Akhir SMA. Gun tampak gelisah di bangkunya, ia melirik ke arah luar. Di luar sekolah, Kla menunggu Gun sembari membunyikan motornya. Pengawas ujian mulai membagikan soal ujian. Saat tiba di bangku Gun, ternyata Gun menghilang!

2 anggota Geng Sperm, Champ dan Arm, berlari dengan panik di sebuah gang. Ternyata jalan buntu dengan sebuah pagar besi menjulang tinggi. Mereka berdua berusaha memanjat pagar itu untuk meloloskan diri, namun terlambat karena kawanan geng yang dari tadi mengejar mereka tiba2 muncul. Champ yang belum sempat memanjat, memutuskan untuk menghadapi mereka dengan tangan kosong. Sementara Arm yang sudah hampir sampai di puncak pagar, ditarik turun oleh gerombolan itu. Mereka lalu menghajar Champ dan Arm hingga babak belur.
Gun yang kabur dari ujian, ternyata berboncengan dengan Kla ke gang buntu itu. Gun lalu turun dari motor sendirian. Gun lalu menyelamatkan kedua temannya dengan menghajar gerombolan itu. Gun berhasil menjatuhkan mereka semua sendirian.
Gun dipanggil oleh kepala sekolah karena ulahnya yang kabur saat ujian. Gun menghadap kepsek bersama sekretaris ayahnya, Kepsek merasa kecewa karena bukannya ayah Gun yang menemuinya, melainkan sekretarisnya. Sekretaris ayah Gun meminta maaf karena Tn. Unnop, ayah Gun, tidak bisa datang karena ada rapat mendadak. Kepsek bertanya apa Tn. Unnop sudah tahu kalau anaknya tidak ikut ujian akhir karena kabur? Sekretaris ayah Gun mengiyakan seraya tersenyum kalem berusaha berwibawa. Kepsek merasa sangat kecewa, “Ini membuatku menjadi sulit. Bagaimana kalau aku keluarkan saja Gundrit dari sekolah ini?” Sekretaris yang nggak ngeh dengan ucapan Kepsek, mengangguk mengiyakan. Sedetik kemudian dia tersadar dengan apa yang Kepsek ucapkan barusan.

Sekretaris ayah Gun berkata kalau Tuan Unnop meminta maaf. Ia berusaha membujuk Kepsek agar tidak mengeluarkan Gun dari sekolah dengan menyodorkan sebuah amplop. Sekretaris menarik kembali amplop itu karena yang ia sodorkan adalah tiket sirkus. Ia lalu menukar amplop tadi dan menyodorkan selembar cek senilai 200 Baht. Kepsek langsung sumringah melihat cek itu. “Tolong diterima sebagai sumbangan untuk sekolah ini,” ujar Sekretaris.
 
Sebelum cek itu sempat berpindah tangan ke Kepsek, Gun lebih dahulu mengambil cek itu dan merobeknya. Ia merasa jengah dengan aksi penyuapan yang dilakukan Sekretaris atas perintah ayahnya hanya agar dirinya tidak dikeluarkan dari sekolah. Kepsek merasa putus asa melihat ulah Gun merobek2 cek itu. Gun berbalik pergi, namun ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Kepsek.
“Aku keluar!” tegas Gun seraya keluar dari ruangan Kepsek.

Gun berjalan menuju parkiran. Ia membuka jasnya dan membantingnya ke lantai. Terdengar monolog Gun. “Bagi orang lain, uang membawa kebahagiaan. Tapi bagiku, uang membawa penderitaan…
Song sedang makan siang di kantin sembari menggambar adegan perkelahian Gun cs di buku sketsanya. Nem dan Dew juga berada di kantin hendak makan siang. Mereka berdua sedang mencari meja untuk ditempati. Tiba2 dua mahasiswa menghalangi jalan mereka dan berbasi basi ingin membantu membawakan makanan Dew. Dew yang kesal menolak dan berbalik pergi, tapi kedua pemuda itu lagi2 menghalangi jalan Dew dan ngotot ingin membawakan makanan Dew. “Apa kau tidak mengerti bahasa Thailand? Minggir!” seru Nem kesal melihat tingkah mereka. Salah seorang dari pemuda itu menyukai Dew dan berkata kalau ia hanya mau makan bareng Dew. “Nggak!” tolak Dew kesal.
 
Tiba2 Dew berseru menyapa Song yang sedang asyik menekuni sketsanya. Song menengadah dan tersenyum pada Dew. Mereka berdua menghampiri Song dan duduk semeja dengannya. Dua pemuda yang sedari tadi mengganggu Dew menghampiri mereka dan memukul meja dengan keras, Ia menggertak Song dan  berkata kalau ia yang memesan meja itu seraya menyuruh Song menyingkir dari tempat itu. Song tampak mengkerut, ia hendak beranjak meninggalkan tempat itu tapi Nem buru2 menahan tangannya, “Jangan dengar mereka, Song.” Song kembali duduk. Merasa Song membantahnya, pemuda tadi menaikkan kakinya ke bangku dan menggertak Song menyuruhnya minggir. Song walaupun merasa agak takut, ia tetap tidak bergerak dari tempatnya. Pemuda tadi terus berusaha menyuruh Song menyingkir.

Tiba2 Gun muncul di kantin. Salah seorang dari pemuda itu memberi isyarat pada temannya melihat kehadiran Gun yang berjalan mendekati mereka. Mereka berdua lalu beranjak pergi dari tempat itu seraya menatap kesal Song.
Gun sedang mengantri makan siang saat seorang pemuda nyelonong memesan makan siang tanpa mengantri. Gun yang merasa kesal menengur pemuda itu, “Mengapa kau tak ‘queue’ (mengantri)?” Song tampak tertarik melihat keributan kecil itu. Tiba2, Beer dan gengnya yang merupakan musuh bebuyutan geng Sperm, menghampiri Gun. Beer bertanya apa ada masalah? Gun menjawab kalau temannya itu tidak mau ‘queue’ (mengantri). Beer bertanya pada pemuda itu apa ia tidak mau ‘queue’ (mengantri). “Aku tidak tahu siapa ‘Queue’. Boleh aku bergabung dengannya?” ejek pemuda itu pada Gun. Beer menatap Gun seraya tersenyum mengejek. “Baiklah kalau tidak tahu. Kau pikir kau jagoan?!” seru pemuda itu pada Gun. Gun merasa kesal mendengar ucapan Beer. Tangannya mengepal menahan emosi.
Tiba2 Pak Guru yang potongan rambutnya mirip ‘Dora The Explorer’ datang dan melerai mereka. Pak Guru bertanya apa yang mereka lakukan? Mengukur tinggi badan? Pak Guru melarang mereka untuk berkelahi. “Kalian tak harusnya jadi manusia, tapi ayam jago. Setiap kali aku lihat kalian, selalu berkelahi!” seru Pak Guru kesal. Pak Guru lalu mernyuruh mereka semua bubar. Ia lalu mengomentari rambut ikal Beer, “Lebih baik kau keramas sana!” Sementara itu, Song terus memperhatikan Gun.

Sepulang dari kampus, Song berada di depan apartemennya. Ia terus mencoba menghubungi Neung, kakak perempuannya, tapi tidak ada jawaban. Song akhirnya mengetuk pintu apartemen seraya berseru memanggil kakaknya. Akhirnya pintu terbuka, Neung keluar dengan wajah kesal karena Song terus menelpon. Tiba2 seorang pria keluar dari dalam apartemen mereka dengan wajah kesal, seakan kesenangannya sudah terganggu dengan kehadiran Song. Pria itu hendak pergi, namun Neung mencegahnya dan bertanya bolehkah ia menelponnya nanti? Pria yang merupakan pacar Neung itu tidak menggubris ucapan Neung dan terus berjalan pergi. Song, bersedekap menatap kesal adiknya.
Song yang curiga melihat kehadiran pacar kakaknya itu mulai marah, “Beraninya kau bawa laki2 ke dalam!” Neung balas memarahi adiknya dan memintanya mengurus urusannya sendiri. Song berkata kalau ia sudah mengetuk berulang kali tapi tidak ada jawaban. Ia bertanya apa yang kakaknya lakukan dengan pacarnya? Neung semakin kesal mendengar ucapan Song. “Apa kau sebenarnya saudaraku atau ayahku? Kau pindah ke sini karena kau muak dengan ibu, kan? Jadi, jangan ganggu hidupku!” ujar Neung. Song tampak merasa sedih karena kakaknya kembali mengungkit kepindahannya ke kota itu. Jika kau terus menggangguku, kau tak boleh tinggal di sini,” tukas Neung. Mendengar ucapan Neung barusan, Song tampak marah. Ia membuka tasnya dan melemparnya masuk ke dalam apartemen seraya beranjak pergi meninggalkan kakaknya. Neung terkejut melihat sikap adiknya itu. Ia merasa bersalah karena ucapannya dan berseru Song mau kemana? Song terus berlalu tanpa mengindahkan panggilan kakaknya.

Song terus berjalan tanpa arah dengan perasaan kacau. Tiba2 Dew yang mengendarai motornya, berhenti di samping Song dan bertanya Song mau kemana. Melihat kehadiran Dew, senyum Song langsung mengembang. “Masih belum tahu. Cuma mau jalan2 saja,” jawab Song. Dew bertanya apa Song mau jalan2 dengannya? Song langsung tersenyum seraya mengangguk mengiyakan ajakan Dew yang baginya adalah sebuah keberuntungan.  Dew lalu memberikan helm untuk  Song sembari turun dari motornya. “Kau yang bawa ya,” ucap Dew. Song yang sedang memakai helm tanpa bingung, ia mengamati motor Dew. “Aku tidak bisa bawa motor,” ucap Song polos. Dew tertawa mendengar ucapan Song. Ia lalu menyuruh Song naik ke motor, ia yang akan membonceng Song.
Dew mengajak Song ke sebuah danau dengan pemandangan yang indah. Song duduk di atas motor Dew, sedangkan Dew berdiri di pinggir danau, mereka menikmati pemandangan indah di depan mereka. Dew bertanya kenapa Song kuliah di sini? Song menjawab kalau ibunya menikah lagi. “Kau tak suka ayah tirimu?” tanya Dew lagi. Song terdiam sesaat, ia lalu berjalan dan berdiri di pinggir jalan.

“Sebenarnya, aku tak suka ibuku karena dia selalu mengaturku. Saat aku dengannya, aku tak boleh keluar rumah. Harus langsung ke rumah pulang sekolah dan minta izin untuk apapun,” curhat Song. Dew tersenyum mendengar cerita Song, “Jadi kau ingin bebas?” Song mengangguk mengiyakan. Dew hendak naik menghampiri Song, Song buru2 mengulurkan tangannya membantu Dew. Song yang merasa malu karena memegang tangan Dew, buru2 memalingkan wajahnya. Dew tertawa melihat tingkah Song, “Ada apa? Kau malu, ya?” Song tampak canggung, ia tampak tersipu malu. “Kau cantik,” puji Song malu. Melihat Song yang tersipu, Dew menghalangi jalan Song dan mulai menggodanya, “Kenapa? Kau mau mengajakku jalan?” Song hanya tersipu. Dew meminta Song agar jangan memanggilnya ‘Nona’, panggil nama saja. Song tersenyum mengiyakan.
 
Mereka kembali menikmati pemandangan danau yang begitu indah. “Tempat ini indah, ya?” tanya Dew. Alih2 menjawab pertanyaan Dew, Song balik bertanya apa nama tempat ini? “Huay Tueng Tao,” jawab Dew seraya tersenyum menatap Song. Mereka saling memandang dan tersenyum satu sama lain.
Terdengar monolog Song…“Aku tak tahu apa itu cinta. Tapi bersamanya, aku merasa bahagia…
 
Song semakin dekat dengan Dew. Ia mulai mahir mengendarai motor setelah diajari oleh Dew. Mereka pun menikmati waktu bersama, makan siang bersama di kantin, jalan2 sambil mengendarai motor, bahkan Song melukis Dew di padang rumput. Mereka juga berbelanja di toko souvenir. Mereka berdua tampak bahagia menikmati waktu kebersamaan mereka.
Di sebuah klub malam, tampak seorang gadis dengan dandanan sedikit aneh. Ia memakai sepatu boot, legging macan tutul berbulu, dan blazer serta rambut panjangnya yang dikepang dua. Dia adalah Elle, fans Gun. Ia datang ke klub itu bersama teman2nya hanya untuk melihat Gun. Elle bertanya pada salah seorang teman cowonya yang ‘gemulai’ apa ia yakin Gun datang malam ini? Temannya itu mulai menerawang ke sekililing klub dan menemukan Gun yang sedang bersantai bersama gengnya. Elle dan ketiga temannya histeris melihat ketampanan Gun. Elle bertanya apa gayanya sudah mirip ‘Korean Idol’? Teman2nya menggeleng. Elle mengira temannya mengiyakan dan tersipu berterima kasih. “Gak mimpi!” ejek teman2nya yang membuat Elle cemberut.

Teman cowo Elle mulai pasang aksi. Ia berjalan melenggak lenggok menghampiri Gun cs. Elle tidak mau kalah, ia berjalan menghampiri Gun sembari menyenggol teman cowonya itu. Terjadilah aksi senggol2an yang membuat teman cowo Elle terjatuh karena senggolan Elle. Elle menghampiri Gun dengan wajah sumringah. Gun merasa heran dengan kehadiran Elle cs. Elle bertanya apa dia Gun? Gun mengangguk mengiyakan yang membuat Elle dan teman2nya histeris. Tod yang duduk di belakang Gun mengejek mereka yang histeris karena melihat Gun. Elle kesal dan menyebut Tod bodoh. Gun cs tertawa karenanya.
Elle kembali memasang senyum manisnya di depan Gun. Elle bertanya Gun ketua Geng Sperm, kan? Alih2 menjawab pertanyaan Elle, Gun malah tidak habis pikir, Elle dan teman2nya masih di bawah umur dan bagaimana mereka bisa masuk ke bar itu? Salah seorang teman Elle balik bertanya, bagaimana Gun dan teman2nya? Bukankah mereka juga di bawah umur? Tod meledek apa ia mau di cium? Tod hendak maju mencium teman Elle itu, namun mengkeret mundur karena teman cowo Elle yang maju menghalanginya (minta di cium…wkwkwkw).
“Ok, jika kau mau kenalan dengannya, habiskan ini dulu,” tantang Nick pada Elle seraya menyodorkan sloki minuman. Gun memperhatikan apa Elle akan menerima tantangan itu?  Elle menerima tantangan Nick dan  meminum minuman itu sekali teguk. Teman cowo Elle buru2 menarik sloki Elle dan menatap takjub padanya. Tod menyodorkan sloki kedua, dan Elle lagi2 meminumnya dengan sekali teguk. Tod kembali menyodorkan sloki yang ketiga, tapi Gun menahannya, “Cukup.” Elle yang tidak pernah minum, merasa tenggorokannya sakit. Melihat kondisi Elle, Gun tampak khawatir dan menariknya keluar klub. Tinggalah temen cowo Elle dan geng Sperm. Temen cowo Elle tersenyum sembari memegang sloki. Geng Sperm tertawa meledek, “Panggil pembasmi hama buat dia.” Teman cowo Elle tampak kesal, ia meletakkan gelas sloki di meja lalu berbalik pergi meninggalkan mereka.

Gun ternyata mengantar Elle pulang. Elle yang agak mabuk, tersenyum memandangi Gun di sebelahnya. Gun menghela nafas melihat Elle yang seperti itu. “Kau tidak boleh keluar seperti ini. Orang tua-mu pasti khawatir,” ujar Gun mengingatkan. Elle yang mabuk berkata kalau ia hanya ingin bertemu dengan Gun. “Kau tahu, kau sangat popular di kampus. Bertemu denganmu secara langsung, membuatku makin tergila2 padamu!” terang Elle senang. Gun hanya terdiam, ia hanya memandangi Elle tanpa ekspresi.

Gun terus memandangi Elle sembari mendekatkan wajahnya pada Elle. Elle yang mengira akan dicium oleh Gun, memejamkan matanya. Ternyata, Gun mengulurkan tangannya membuka pintu mobil untuk Elle. Elle tersentak mendengar bunyi pintu mobil dibuka, ia tampak malu karena sudah berpikiran yang tidak2 (hahaha…kecele nih ye). Gun menyuruh Elle pulang. Elle tidak mengindahkan ucapan Gun dan malah meminta nomor telpon Gun. Ia mengancam Gun memberikan nomor telponnya atau ia tidak mau turun dari mobil. Gun mendesah pelan, dengan terpaksa ia memberikan ponselnya pada Elle. Elle mengambil ponsel Gun lalu menuliskan nomornya. Bukan hanya itu saja, ia juga mengirim satu foto dari ponsel Gun dan mengirim ke ponselnya. Gun hanya menghela nafas melihat tingkah Elle sembari mengambil ponselnya kembali.
Elle meminta berfoto dengan Gun. Gun terlihat enggan, tapi Elle sedikit memaksa dengan menarik kepala Gun mendekat. Elle tersenyum senang karena berhasil berfoto bersama Gun. Gun nampak syok melihat tingkah Elle yang aneh. Tapi dia tidak bisa berbuat apa2, dia bukan orang yang tega menolak permintaan seorang wanita apalagi membuat mereka kecewa padanya.
Elle akhirnya turun dari mobil Gun. “Sampai jumpa lagi Gun,” ucap Elle seraya berjalan memasuki gerbang rumahnya (huaaa….rumah Elle keren euy). Gun hanya memandangi Elle dari dalam mobilnya.
“I Love You, Gun!” teriak Elle seraya melayangkan ‘Kiss Bye’ untuk Gun. Gun menghela nafas melihat kepergian Elle.

Keesokan harinya, di hotel Imperial sekaligus kediaman Gun, tampak Gun berada di kamarnya sedang memandang keluar jendela. Alarm di atas meja di samping tempat tidur berbunyi, pukul 7 pagi tepat. Gun mematikan alarm itu, lalu meraih gagang telpon dan menghubungi seseorang. Tidak berapa lama, Gun meletakkan kembali gagang telpon itu dan mengenakan jaketnya, bersiap berangkat ke kampus.
Saat hendak keluar, Gun berpapasan dengan Bibi pembantu di depan pintu. Gun bertanya apa kedua orang tuanya ada di rumah? “Mereka baru pulang sebelum jam 6 tadi, sepertinya masih tidur,” terang Bibi. Gun menghela nafas kecewa karena tidak bisa bertemu dengan orang tuanya. Bibi bertanya apa Gun mau sarapan? Gun menolak dan berkata dia akan sarapan di luar saja. Gun berjalan pergi, tapi Bibi memanggil Gun. “Gun, ayahmu menitipkan 5000 Bath buatmu,” ujar Bibi seraya menyodorkan beberapa lembar uang pada Gun. Gun hanya memandangi uang itu dan tidak menyentuhnya sama sekali.
 “Aku masih punya uang,” ucap Gun sembari berjalan pergi menuju kampus.
Song yang membonceng Dew baru saja tiba di kampus. Dew turun dari motor dan berdiri menunggu Song selesai memarkir motornya. Tiba2 Song berseru seraya menarik Dew ke dalam pelukannya, saat mobil Gun melaju dengan kencang dan hampir saja menyambar Dew. Gun mengerem mobilnya. Ia menurunkan kaca mobil dan melirik ke spion, ia melihat Song yang memeluk Dew. Gun tampak tidak peduli lalu menjalankan mobilnya kembali. Dew yang syok berteriak kesal pada mobil Gun yang berjalan menjauh bagaimana kalau dia tertabrak? Song tertawa mendengar teriakan Dew karena menurutnya Gun tidak akan mendengar teriakannya. Mendengar ucapan Song, Dew tersenyum geli. Ia melirik ke lengannya dan menyadari tangan Song masih memeluk lengannya dengan erat. Dew tersipu karenanya. Menyadari kalau ia masih setengah memeluk Dew, Song melepas pelukannya dan tersenyum simpul.
Song membantu Dew menaruh helmnya di motor. Mereka berdua sama2 tersipu karena kejadian tadi. Song lalu pamit pada Dew, ia akan ke kelasnya. Dew lalu memberikan kanvas milik Song yang sedari tadi dipegangnya. Song lalu berjalan pergi sambil tersenyum. Dew berbalik dan memandangi kepergian Song dengan hati berbunga2 (ciieeeee..yang lagi fall in love nih ye :p ). Tanpa mereka sadari, dua mahasiswa yang menyukai Dew mengamati mereka sedari tadi. Temannya memberi isyarat untuk memberi pelajaran pada Song.
Song ke toilet hendak buang air kecil. Di toilet sudah ada seorang mahasiswa culun bin nyetrik dengan kacamatanya. Ia terus memandangi Gun Song yang berdiri di sampingnya dengan tatapan mengejek. Tiba2 dua mahasiswa yang menyukai Dew, masuk ke toilet dan menghampiri Song. Salah satu mahasiswa itu menyuruh mahasiswa culun tadi untuk menyingkir. Song yang panik, buru2 berbalik pergi, tapi kedua mahasiswa tadi menahannya dan bertanya Song mau kemana? Song terdiam sesaat. Ia kemudian memberanikan diri bertanya apa yang mereka mau dari dirinya?

Salah satu mahasiswa itu lalu memukul wajah Song dan menyudutkannya di dinding. Mahasiswa culun tadi tampak berdiri ketakutan di sudut toilet, berpura2 buang air kecil. Ia tidak berani membantu Song. “Kau anak baru, jadi tolong sopan sedikit. Jangan main2 dengan pacarku,” ancam mereka. Mahasiswa yang satu menarik kerah baju Song lalu menyikut perutnya. Song merintih kesakitan, ia hampir terjatuh tapi mahasiswa itu menariknya berdiri. Beberapa mahasiswa yang hendak masuk ke toilet, buru2 keluar saat melihat kejadian itu. Mereka tampak ketakutan.

Mahasiswa tadi lalu memperingatkan Song, “Ingat baik2, Dew milikku.” Gun masuk tepat saat mahasiswa itu hendak memukul Song. Ia buru2 menurunkan tangannya melihat kehadiran Gun dan bergegas keluar dari toilet. Gun memandang heran pada Song yang kesakitan. Dipandangi seperti itu, Song buru2 keluar dari toilet. Gun semakin heran melihatnya.
 
Di kelas melukis, Song menghapus sketsanya dengan kasar. Ia masih marah karena kejadian di toilet tadi. Nem menghampiri Song lalu menaruh lengannya di pundak Song. “Apa kemampuan menggambarmu sebagus kemampuan merayumu?” tanya Nem seraya tersenyum geli. Song tampak bingung dengan maksud Nem, ia tertunduk lesu. Nem tampak bingung melihat ekspresi Song yang seperti itu. “Kenapa? Kau tak seperti orang jatuh cinta. Kau baru di sini, tapi sudah berkencan dengan gadis cantik. Kau tahu, semua orang ingin sepertimu,” ujar Nem tertawa senang. Bukannya ikut tersenyum, kata2 Nem malah membuat Song semakin cemberut. Ia kembali teringat kejadian di toilet, itu semua karena ia semakin dekat dengan Dew.
Nem lalu mendekatkan wajahnya ke Song. “Kuberitahu ya. Jika kau menyakitinya, kubunuh kau,” ancam Nem. Song tampak terkejut mendengar ancaman Nem. Melihat ekspresi terkejut Song, Nem tertawa dan berkata kalau ia hanya bercanda.
Tiba2 Gun masuk ke kelas itu dan menghampiri mereka. Melihat kehadiran Gun, Nem tampak kesal. Dengan wajah cemberut, ia kembali ke tempatnya. Gun mengikuti Nem, ia tersenyum pada Nem yang kembali menggambar. Sketsa Nem sangat bagus. Gun bertanya kapan Nem pindah dari Lampang? Nem kesal mendengar pertanyaan Gun. Ia menekan pensilnya terlalu kuat hingga mata pensilnya patah. Dengan emosi, Nem menarik kanvasnya lalu mengambil tasnya di lemari dan beranjak pergi dari ruangan itu. Semua orang memandang heran melihat sikap Nem. Gun berbalik memandangi kepergian Nem. Song mengamati Gun dengan tatapan penuh selidik. Gun melirik ke arah Song yang membuat Song gelagapan dan buru2 kembali melanjutkan sketsanya.

Di lapangan kampus. Tod menyulut rokoknya, ia menyalakan koreknya menggunakan jari kelinkingnya (gaya Tod nyalain korek unik dah). Ia duduk di pinggir lapangan  menonton teman2nya bermain bola.  Arm yang menjadi penjaga gawang. Permainan semakin seru. Tanpa sengaja bola melambung keluar lapangan dan hampir saja mengenai Song yang sedang berjalan pulang. Song menahan bola itu dengan kakinya. Perlahan Song mengembalikan bola itu ke lapangan dengan tendangan keras. Melihat bola yang melaju kencang ke arah mereka, mereka semua bergegas menyingkir. Tapi sayang, Champ terlambat menyingkir dan bola itu sukses mendarat di wajahnya hingga ia mimisan. Song terkejut, Tod apalagi. Ia melongo dan tanpa sadar rokoknya terjatuh dari mulutnya.
Song semakin panik melihat wajah Champ yang mimisan. Gun menghampiri Champ dan menanyakan keadaannya. Champ yang kesal lalu berjalan menghampiri Song, teman2nya mengikuti. Kla maju lebih dahulu dan mencengkram kerah baju Song, Song tampak ketakutan. Kla emosi dan berseru pada Song, apa ia mau membunuh temannya? Gun menarik Kla sebelum sempat menghajar Song, ia berusaha menenangkan Kla. Kla mulai tenang. Song menarik nafas lega.

Gun lalu bertanya pada Song apa ia mau main? Song hanya terdiam tidak menjawab pertanyaan Gun, ia masih gugup. Gun lalu menanyakan pendapat teman2nya. Suasana menjadi hening. Mereka semua akhirnya menyetujui Song bermain bersama mereka.

Song mulai bermain bola bersama geng Sperm. Dengan lihai ia menggiring bola melewati lawan2nya. Song lalu mengoper bola pada Gun, yang membuat Gun berhasil mencetak skor. Mereka bersorak penuh kemenangan.

Permainan pun usai. Gun dan Song lalu menghampiri Tod dan beristirahat di pinggir lapangan. Gun memuji kehebatan Song dalam bermain bola. Arm ikut bergabung bersama mereka sembari menyodorkan air mineral untuk Gun dan Song. Mereka tampak kelelahan. Semua memuji kehebatan Song. Song sumringah, dia berkata kalau ia biasa bermain bola saat SMA. Kla muncul dan berkata kalau permainan Gun tidak sebagus itu. Song menatap Kla heran. Champ bertanya apa Song satu SMA dengan Gun? Song mengangguk mengiyakan.
Tod yang duduk di belakang Song, mencolek bahunya. Ia lalu mengenalkan dirinya pada Song. Ia juga mengenalkan teman2nya satu persatu. Tod mengenalkan Arm pada Song. “Tapi jangan bicara dengannya. Dia cerewet, “ ledek Tod. Arm mengumpat kesal mendengar ledekan Tod, ia hendak memberikan pelajaran pada Tod namun Champ menahannya. Tod tertawa2 melihat ekspresi Arm.

Tiba2, Beer dan gengnya memasuki lapangan itu dengan mengendarai motor. Kla yang mengetahui hal itu, bergegas memperingatkan Gun. Suasana yang tadinya menyenangkan, berubah tegang karena kedatangan Geng Beer. Beer cs turun dari motor lalu berjalan menghampiri mereka. Song yang mengenali Beer sebagai orang yang bertengkar dengan Gun di  kantin, merasa heran melihat kedatangan Beer dan Gengnya. “Kita belum selesai,” ujar Beer pada Gun.
 
Ternyata kata ‘belum selesai’ yang Beer maksud adalah lanjutan pertengkaran mereka di kantin tempo hari. Beer menantang Gun untuk duel, Gun pun menuruti permintaan Beer. Mereka pun berkelahi one by one. Teman2 mereka bersorak, saling menyemangati Ketua geng mereka masing2. Beer mulai melayangkan pukulan ke arah Gun tapi Gun berhasil mengelak. Gun menahan tangan Beer dengan lengannya, tapi itu dijadikan kesempatan bagi Beer untuk melayangkan pukulan ke perut Gun hingga Gun terdesak mundur. Song mengamati pertarungan itu dengan wajah cemas.

Gun menahan rasa sakit di perutnya, tapi hal itu tidak membuat dia menyerah. Ia lalu maju dan menghajar Beer berkali2 hingga jatuh tersungkur. Dan tentu saja, itu berarti pertarungan di menangkan oleh Gun. Beer tertunduk menahan rasa sakit. Teman2nya memaki agar Beer segera bangun. Gun maju menghampiri Beer, tapi Beer mengacungkan tangannya menahan langkah Beer. “Aku menyerah,” ujar Beer.
 
Melihat Beer yang sudah menyerah, Gun pun mengulurkan tangannya untuk membantu Beer berdiri. Beer meraih uluran tangan Gun dan bangkit. Beer berkata kalau ia menyerah hanya untuk hari ini. Ia lalu mengajak teman2nya pergi dari tempat itu. Kheng yang emosional, tidak terima dengan kekalahan  Beer. Tiba2 ia menyerang Gun dari belakang. Gun terkejut dengan serangan tiba2 itu. Teman2 Gun naik pitam dan menghajar Kheng. Perkelahian hampir saja terjadi jika saja Gun dan Beer tidak berusaha melerai teman2 mereka. Beer lalu menarik Kheng pergi. Kheng hendak mengeluarkan pisau yang terselip di pinggangnya, tapi Beer mencengahnya seraya membawa Kheng pergi dari tempat itu. “Jangan sampai aku melihatmu lagi!” seru Kheng kesal yang ditujukkan pada Gun.

Gun memandangi kepergiaan mereka dengan pandangan heran. Ia tidak habis pikir dengan sikap Kheng yang tiba2 menyerangnya seperti itu. Tiba2 Champ dan Nick berlari sambil ngos2an menghampiri mereka sembari membawa sekeranjang kecil bola tenis. Champ dengan kesal berkata seharusnya ia menimpuk Kheng dengan bola2 itu. Tod dan Arm menghampiri mereka. Mereka merasa heran, untuk apa bola2 tenis itu. Champ berkata itu untuk menimpuk Kheng cs. “Buat apa? Mereka sudah kabur, bodoh!” ucap Tod kesal seraya berpura2 menghajar Champ. Arm menimpuk pelan kepala Nick dengan bola tenis yang dibawanya. Gun tersenyum melihat tingkah teman2nya itu. Sementara Song, ia berdiri di pinggir lapangan sambil tersenyum lebar melihat ulah teman2nya.
Song pulang ke apartemennya. Pada saat yang bersamaan, Neung dan pacarnya juga baru datang. Melihat mereka berdua, Song bersembunyi di balik tembok. Neung masuk ke dalam apartemen untuk memeriksa apakah Song ada di rumah, sementara Natt menunggu di luar. Melihat Song belum pulang, Neung mengajak Natt masuk ke dalam apartemennya. Song yang mengintip dari balik tembok, tampak merasa kesal. Ia lalu memutuskan pergi dari tempat itu daripada berurusan dengan mereka berdua.
Alih2 menghilangkan stresnya, Song pergi ke jembatan untuk menenangkan diri. Ia duduk di pinggir jembatan sembari menggambar. Sepasang kekasih yang naik sepeda lewat di depan Song. Song menghentikan kegiatannya, ia tampak galau memikirkan sesuatu. Ia meraih ponselnya dan mencari kontak Dew. Awalnya ia berniat menghubungi Dew, namun urung karena ia merasa ragu. Song berpikir sesaat, ia lalu memutuskan menghubungi Gun.

Hingar bingar klub malam, DJ memainkan lagu yang membuat pengujung klub malam itu yang sebagian besar adalah wanita, bergoyang mengikuti hentakan irama. Di tengah2 lantai dansa, tampak Geng Sperm asik berjoget. Untuk menghilangkan rasa galaunya, Song diajak teman2nya ke klub malam itu. Song yang baru pertama kalinya ke klub malam, tampak takjub melihat tempat itu. Ia mengamati sekelilingnya seraya tersenyum. Charm yang berjoget di samping Song, memuji Song yang tampak keren memakai jaket Gun. Song tampak  tersipu mendengar pujian Charm. Sementara itu dari pinggir lantai dansa, Kla yang tidak ikut bergabung bersama teman2nya tampak mengamati menatap Song dengan pandangan tidak suka.

Kembali ke lantai dansa, Nick menyuruh Song bergoyang sembari mengajarkan Song gaya dance yang aneh. Tod tertawa meledek Song, apa ia belum pernah clubbing? Song menggeleng mengiyakan. Tod kembali meledek Song kalau gerakannya payah. Song nyengir mendengar ledekan Tod. Ia lalu ikut berjoget bersama yang lainnya. Kla terus mengamati mereka sambil menegak minumannya.
Tiba2 dua pria bertubuh kekar muncul tampak mengamati Geng Sperm. Salah satu dari pria kekar itu lalu memberi isyarat tangan pada Nick agar menghampiri mereka. Dengan setengah hati, Nick menghampiri mereka. Kedua pria kekar itu lalu merangkul Nick dan mengajaknya ke suatu tempat. Gun akhirnya datang ke klub itu, ia menyapa orang2 yang dikenalnya. Ia mengintarkan pandang dan melihat teman2nya sedang asyik bergoyang di lantai dansa. Mata Gun tertumbuk pada Nick yang dibawa oleh dua pria kekar tadi menyendiri. Kedua pria itu meminta rokok Nick. Nick yang penakut lalu memberikan rokoknya pada mereka. Kedua preman itu mengambil rokok Nick lalu pergi sembari memukul pelan kepala Nick. Gun tampak kesal melihat hal itu. Ia lalu mengintrogasi Nick siapa mereka? Nick berkata mereka adalah preman gak jelas yang selalu meminta rokoknya. Gun mulai emosi, ia tidak terima temannya diperlakukan seperti itu.

Kedua preman tadi berada di toilet, salah satunya sedang buang air kecil. Mereka tertawa senang melihat hasil jarahan mereka. Tiba2 dari belakang, Gun muncul dan menghajar mereka berdua hingga terjungkal ke lantai. Mereka terkejut dan bertanya siapa Gun? “Jangan macam2 dengan temanku!” ancam Gun. Ia lalu mengambil kembali rokok Nick dari tangan mereka seraya berlalu pergi.
Geng Sperm + Song berada di bukit tempat biasa mereka berkumpul. Gun mengembalikan rokok Nick yang dirampas kedua preman tadi. Dengan ragu Nick mengambilnya. “Jangan biarkan mereka memerasmu lagi,” ucap Gun tersenyum seraya menepuk pelan pundak Nick. Kla menghampiri Gun. “Kau pikir kau jagoan? Jika mereka menghajarmu, itu akan menghancurkan reputasi geng kita,” ujar Kla khawatir. Charm menilai kalau apa yang dilakukan Gun itu untuk tujuan baik dan meminta Kla bersikap santai. Gun mengangguk mengiyakan. Ia menepuk pundak Kla untuk menenangkannya sembari menghampiri teman2nya yang duduk di pagar pembatas.

Tod menyalakan rokok dengan gaya uniknya (aku suka liat cara Tod nyalain korek pake jari kelingking, unik gitu). Ia lalu menyodorkan rokok itu ke mulut Song. Song tampak terkejut tapi ia mencoba menghisapnya sekali, tapi yang ada Song malah batuk2. Tod yang merasa heran bertanya apa Song tidak bisa merokok? Song berkata kalau ia tidak pernah merokok. “Jangan coba kalau kau tak suka. Terserah padamu,” timpal Gun. Tod bertanya apa rokok separah itu yah?
“Aku lebih suka memakannya,” ujar Tod sembari berpura2 hendak memakan rokoknya. Mereka semua mengamati Tod, menunggu ia memakan rokok itu. Tod yang hanya bercanda terkejut melihat keseriusan teman2nya, ia kembali bertanya apa tidak ada yang menahannya?
“Kalau begitu, aku merokok seperti biasa saja” ucapnya sambil kembali menikmati rokoknya.
Teman2nya berpura2 kecewa karena Tod tidak jadi memakan rokoknya. Nick meminta Tod membuktikan kalau ia bisa memakan rokok itu. Alih2 menuruti permintaan Nick, Tod malah menyodorkan rokoknya pada Nick agar ia memakannya duluan. Nick tidak mau dan berusaha kabur, tapi Tod dan Arm mengejarnya sembari menyodorkan rokoknya. Teman2nya tertawa melihat tingkah lucu mereka. Gun lalu duduk di samping Song.
“Mengapa kalian selalu berkelahi?” tanya Song tiba2. Gun berbalik mendengar pertanyaan Song itu,“Seharusnya kau tanya, ‘Mengapa yang lain selalu menantang kami berkelahi?’” Song terdiam. Teman2nya yang tadi bermain kejar2an kembali berkumpul bersama mereka. Gun melanjutkan ucapannya, “Kau harus jadi kuat. Kau akan selalu dikerjai.” Gun lalu memengang pundak Song, “Jika kau tak punya teman, bergabunglah dengan kami.” Song tersenyum mendengar tawaran Gun.

Nick memberi syarat kalau Song ingin bergabung dengan mereka, Song harus bertukar pakaian dalam dengannya. Teman2nya tertawa mendengar syarat Nick. Nick bertanya apa Gun takut? Ia lalu membuka satu persatu celanananya, lalu menyodorkan pakaian dalamnya pada Song. “Jika kau tak berani, kau tak bisa masuk geng kami,” ujar Kla.
“Berani?” tantang Nick sekali lagi. Song akhirnya menerima tantangan Nick. Ia meraih pakaian dalam Nick lalu pergi ke samping mobil Gun untuk berganti. Teman2nya bersorak menyemangati. Song melirik kiri-kanan, berharap tidak ada yang melihatnya. Setelah beberapa saat…Tadaa! Song selesai berganti dan menujukkan pakaian dalamnya lalu melemparkannya pada Nick. Nick menangkap pakaian dalam Song lalu memakainya. Teman2nya tertawa melihat tingkah mereka berdua. Arm menyodorkan celana panjang Nick, tapi Nick menolaknya. Ia memutuskan hanya memakai pakaian dalam Song.
 
Nick lalu berjalan menghampiri Song dan merangkul bahunya, “Sekarang kau anggota geng Sperm. Jika ada yang macam2 denganmu, aku yang urus,” ucap Nick. Tod meledek kalau apa yang diucapkan Nick itu omong kosong. Karena selama mereka berteman, ia belum pernah melihat Nick berkelahi. Kla berkata ia yang akan lebih dulu menendang bokong Nick seraya merangkul Nick dan pura2 menghajarnya. Nick berusaha kabur dari kejaran teman2nya yang hendak menedang bokongnya. Song tertawa melihat tingkah teman2 baru2nya itu.
Song mulai menghabiskan waktunya bersenang2 bersama teman2nya. Mereka berenang bersama di kolam renang hotel milik Gun dan beradu panco. Bermain bola di lapangan tempat biasa mereka berkumpul hingga menghabiskan sore hari sembari bermain gitar. Mereka sangat menikmati kebersamaan mereka itu.
Geng Sperm sedang berada di depan café, tampak mendengarkan dengan serius cerita Nick tentang dvd porno yang dia tonton. Semuanya tampak penasaran mendengarnya, bahkan Arm menyumpal hidungnya dengan kapas untuk berjaga2 agar dia tidak mimisan mendengar cerita Nick. Namun cerita Nick terputus karena kaset yang di tontonnya tiba2 rusak. Mereka semua tampak kecewa mendengarnya.  Tod komen seharusnya Nick membeli kaset asli bukannya kaset bajakan. Sekelompok pemuda yang duduk di meja sebelah tampak terganggu dengan keributan geng Sperm. Charm juga ikut komen, tapi malah  hendak ditimpuk buku oleh Kla. Parahnya, bukannya mengenai Charm, buku itu malah melambung tinggi hingga mengenai salah satu pemuda itu.

Para pemuda itu kesal dan beranjak dari kursinya lalu menghampiri Geng Sperm. Geng Sperm berdiri waspada. Nick buru2 bersembunyi di belakang Gun. Charm yang hendak melarikan diri malah terjatuh menabrak kursi. Teman2nya melihat heran Charm. Pemuda yang terkena timpukan Kla bertanya dengan kesal siapa yang melakukannya? Tod berseru kalau ia yang melakukannya seraya melayangkan tendangannya ke salah satu pemuda itu.

Perkelahian tak dapat terelakkan. Mereka saling menghajar satu sama lain. Nick melarikan diri dan bersembunyi di toilet. Sementara Song tampak bingung dengan perkelahian itu. Ia tidak pernah berkelahi sebelumnya. Tiba2 salah satu pemuda tadi menghampiri Song dan melayangkan pukulan ke wajah Song. Melihat Song yang dipukul, Gun berusaha menolongnya dan mendorong pemuda itu. Tiba2 terdengar sirene polisi. Mereka semua langsung lari berhamburan. Kla dan Arm berboncengan motor pergi dari tempat itu. Sedang Gun dan yang lainnya masuk ke dalam mobil Gun. Tinggalah Nick di kamar mandi mengamati keadaan.
Tiba2 Gun mengerem mobilnya. Mereka semua memandang heran ke jok depan. Ternyata salah satu dari kelompok pemuda tadi salah masuk ke dalam mobil Gun dan duduk di pangkuan Tod. Pemuda itu hanya bisa nyengir (ngakak liat adengan ini..lol). Pemuda itu ditendang keluar dari mobil Gun. Mobil Gun lalu beranjak pergi. Nick yang melihat teman2nya sudah pergi, berusaha mengejar mobil Gun.

Di taman kampus, Nem memberikan hadiah pigura kaca yang dibuatnya sebagai hadiah ulang tahun untuk Dew. Dew berterima kasih atas hadiah Nem. Nem lalu ikut duduk bersama Dew dan salah seorang temannya. Dew yang tampak khawatir bertanya pada Nem apa Song masuk hari ini? Nem berkata tidak, ia menyarankan agar Dew menelpon Song. “Dia tahu hari ini ulang tahunmu?” tanya Nem. Dew mengangguk mengiyakan dan berkata kalau Song tidak menjawab telponnya. Nem tersenyum menggoda Dew, “Sepertinya kau sangat perhatian padanya.” Dew tampak tersipu.
Tiba2 Nem berseru, “Tle ke sini!” Mendengar nama Tle, Dew langsung cemberut. Seorang pemuda berkacamata dan membawa seikat mawar merah menghampiri mereka. “Dew. Selamat ulang tahun,” ucap pemuda yang bernama Tle itu pada Dew. Nem bertanya kenapa Tle kemari? Nem mengira kalau Dew dan Tle sudah putus. Tle meminta tolong pada Nem agar mengizinkannya bicara dengan Dew. Nem bersikap tak acuh. Dew semakin cemberut.
“Dew, maafkan aku atas apa yang telah kulakukan. Bolehkah aku kembali peduli pada pujaan hatiku lagi?” rayu Tle sembari menyodorkan seikat mawar merah itu pada Dew. Nem merasa kalau rayuan Tle itu membuatnya ingin muntah. Tle tidak mengidahkan ucapan Nem. Ia kembali membujuk Dew agar memaafkannya. Dew merasa tersentuh mendengar permintaan maaf Tle, tapi ia merasa ragu mengambil mawar itu. Teman Dwe memberi isyarat agar Dew menerima mawar itu. Walaupun sedikit ragu, Dew akhirnya mengambil mawar pemberian Tle. Tle merasa senang karena Dew akhirnya menerima mawar itu yang berarti juga Dew menerima permintaan maafnya. Ia lalu bergabung bersama mereka dan duduk di samping Nem.

Tanpa sepengetahuan mereka, Song sedari tadi bersembunyi di balik tiang dan mendengar obrolan mereka. Kekecewaan tampak terlihat jelas di wajah Song. Ia memegang sebuah kotak kado kecil, hadiah yang tadinya akan diberikan pada Dew sebagai hadiah ulang tahunnya.
Nem pulang ke rumahnya dengan wajah kesal. Gun berusaha mengejarnya. Ia memarkir mobilnya di ujung lorong lalu turun dari mobil berusaha mengejar Nem. Gun tidak habis pikir mengapa Nem marah padanya? Nem menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Gun. “Jika kakakku tidak mengenalmu, dia tidak akan mati! “ seru Nem kesal. Beer, Kheng dan dua orang temannya melihat pertengkaran Gun dan Nem dari warung di samping mereka. Nem hendak berbalik pergi, namun Gun buru2 menarik tangannya karena Kheng cs menghampiri mereka. Gun tampak waspada, berusaha melindungi Nem.

“Sudah kubilang, jangan sampai aku melihat wajahmu lagi!” ujar Kheng. Salah seorang teman Kheng lalu mengintari Gun, Gun semakin waspada. Kheng memuji Nem sebagai pacar Gun yang cantik. Nem tampak kesal dan berkata kalau ia bukan pacar Gun seraya beranjak pergi. Tapi Kheng buru2 menahan Nem dan menyanderanya. Gun panik dan berusaha maju menyelamatkan Nem, tapi Kheng malah menodongkan pisau ke wajah Gun. Gun bergerak mundur. Beer yang tidak suka melihat tingkah Kheng, menegur agar Kheng menurunkan pisaunya. Tapi Kheng malah membentak kalau itu bukan urusan Beer. Beer mundur perlahan sembari bergantian memandang Gun dan pisau yang dipegang Kheng. Gun memberi isyarat mata pada Beer, Beer mengerti.
Tiba2 Beer menarik tangan Gun berusaha merebut pisaunya. Kesempatan itu diambil Gun untuk menyelamatkan Nem. Beer berteriak agar Gun segera pergi dari tempat itu. Dua teman Kheng berusaha menghalangi Gun, tapi Gun berhasil menendang mereka berdua hingga terjungkal. Kheng sempat melukai pundak Gun dengan pisaunya. Gun segera menarik Nem pergi dari tempat itu. Sementara itu, Kheng tampak kesal karena Beer sudah menghalanginya. Ia menondongkan pisau ke wajah Beer dan meraih kerah bajunya. Ia menghempaskan Kheng dengan kesal dan mengancamnya dengan pisau, “Jangan coba2!”
 
Gun dan Nem terus berlari menghindar dari kejaran Kheng cs. Mereka mengintari pasar kerajinan itu untuk menyelamatkan diri. Dua preman itu berhasil mengejar Gun, tapi Gun berhasil menghajar mereka. Gun lalu menarik Nem pergi. Tanpa mereka sadari, mereka berlari sambil berpegangan tangan. Gun dan Nem lalu bersembunyi di salah satu toko. Dua preman yang mengejar tidak berhasil menemukan mereka. Mereka berdua bersembunyi di balik pintu. Keadaan sudah aman. Saat menengadahkan wajahnya, Nem termangu menyadari wajahnya terlalu dekat dengan wajah Gun. Suasana menjadi canggung. Gun menatap mata Nem dalam. Tiba2 Nem mendorong Gun dengan keras hingga membentur pintu dan menampar wajah Gun. Nem lalu pergi dengan kesal meninggalkan Gun yang terdiam karena tamparan Nem tadi.

Song berada di bukit tempat favorit Geng Sperm. Ia duduk di pinggir danau sambil memegang kotak hadiah ulang tahun untuk Dew. Ia membuka kotak itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah gantungan kunci berbentuk ikan yang dipilih Dew saat mereka jalan2 tempo hari. Song mengamati gantungan kunci itu dengan perasaan galau. Ia memasukkan kembali gantungan kunci itu ke dalam kotak dan menghela nafas berat. Song benar2 risau memikirkan Dew.

Sementara itu, Champ, Arm dan Tod asyik bermain2 di belakang Song. Arm memakai mainan lompat untuk menarik perhatian dua gadis yang sedang asyik menikmati sore di bukit itu. Champ dan Tod tertawa melihat tingkah Arm yang mendekati kedua gadis itu dan berusaha merayunya dengan bahasa isyarat (aku bingung sendiri, nih Arm bisu-nya kadang2).
Tod memalingkan wajah dan didapatinya Song sedang melamun. Tod merasa ada yang aneh pada sahabatnya itu. Nick lalu mengajak Tod menghampiri Song. Arm yang gagal merayu kedua gadis tadi, ikut menghampiri Song yang sedang galau. Mereka bertiga lalu duduk di samping Song. Nick bertanya ada apa dengannya? Ia beranggapan kalau Song seperti orang yang sedang patah hati saja. Song membantah anggapan Nick. Tod menimpali kalau ucapan Song itu omong kosong. Ia meminta Song untuk tersenyum. Song mencoba tersenyum, tapi malah terlihat aneh karena senyumnya terlihat dipaksakan. Tod menggeleng melihat senyum terpaksa Song.
“Hei, kalian berdua tunjukkan padanya cara tersenyum,” perintah  Tod pada Nick dan Arm. Nick dan Arm lalu menunjukkan senyum lebarnya. Bukannya membuat Song tersenyum, tingkah mereka berdua malah membuat Tod mengumpat karena senyum mereka berdua malah membuat mereka berdua tetap terlihat bodoh. “Jika aku bodoh, kau lebih bodoh lagi!” seru Nick pada Tod seraya tertawa lebar. Bukannya marah, Tod malah ikut tertawa. Alih2 ikut tertawa mendengar gurauan teman2nya, Song tetap dengan ekspresi galaunya. Teman2nya mulai khawatir melihat Song. Nick menepuk pundak Arm dan Song, mengajak mereka pergi ke tempat lain. Arm beranjak mengikuti Nick, sementara Song dan Tod tidak beranjak sama sekali.

Tod mengamati Song yang terus melamun. Tod menepuk pelan pundak Song. “Song. Dia tidak akan jadi satu2nya gadis dalam hidupmu. Jika kau tak punya siapa2, kau masih punya kami,” ujar Tod memberi semangat Song seraya beranjak pergi. Ia menghentikan langkahnya dan berbalik memanggil Song. Song mengangkat wajahnya. Tod mengulurkan tangan pada Song. Song akhirnya tersenyum dan menerima uluran tangan Tod. Mereka akhirnya berhasil membuat Song tersenyum dan menghilangkan rasa galaunya. Mereka lalu pergi meninggalkan bukit itu.
Malam harinya, Geng Sprem naik mobil Gun menuju klub malam untuk bersenang2. Song bernyanyi dengan riang di mobil, sepertinya dia sudah melupakan soal Dew. Saat mobil Gun melewati sebuah hotel, Song melihat pacar kakaknya, Natt, sedang bersama wanita lain beserta teman2nya di café hotel. Song meminta Gun menghentikan mobilnya. Song lalu turun dari mobil dan mengamati Natt dan teman2nya dari samping café. Teman2nya ikut turun dari mobil. Gun bertanya ada apa. Dengan emosi Song menunjuk ke arah café dan berkata kalau pria yang sedang bermesraan dengan seorang wanita itu adalah pacar kakaknya. Nick bertanya apa wanita itu temannya? Kla menimpali kalau wanita itu mungkin pacar yang sebenarnya (berarti kakaknya Song cuman selingkuhan dong ya?). Tod malah semakin memanas-manasi Song, ia menduga kakaknya Song hanya dijadikan mainan oleh pacarnya. Teman2nya tampak kesal mendengar ucapan Tod, Champ meminta Tod menjaga ucapannya. 
Gun bertanya apa yang akan Song lakukan? Song hanya terdiam. Melihat sikap diam Song, Gun menarik Tod untuk memberi pelajaran pada pacar kakaknya itu. Teman2nya yang lain mengikuti. Nick berusaha menahan teman2nya. Ia yang memang pada dasarnya penakut, mulai panik.
Song dan yang lainnya menghampiri Natt. Natt merasa heran melihat kehadiran Song dan teman2nya.  “Mengapa kau lakukan ini pada kakakku?!”  tanya Song emosi. Pacar Natt yang bingung dengan maksud Song, bertanya pada Natt siapa dia? Natt menenangkan pacarnya dan pura2 tidak mengenal Song. Natt lalu mengajak teman2nya pindah ke tempat lain. Natt menarik pacarnya pergi dari tempat itu. Gun tidak habis pikir kenapa Song membiarkan Natt pergi begitu saja. Song yang marah karena diabaikan berusaha menahan Natt, tapi Natt malah mendorongnya hingga terjatuh ke aspal.  Gun tidak terima temannya diperlakukan seperti itu, ia pun menghajar Natt. Teman2 Natt yang masih berada di dalam café terkejut, mereka beranjak untuk membantu Natt. Tapi Geng Sperm menghalangi mereka.

Perkelahian pun tak dapat terelakkan. Nick yang ketakutan makin panik. Bukannya membantu teman2nya, ia malah berlari masuk ke dalam mobil, mengencangkan volume musik, lalu mengunci pintu mobil. Ia bersembunyi di jok belakang. Salah seorang tamu hotel lalu menghubungi polisi, mengabarkan tentang perkelahian di depan hotel itu.
Tidak lama kemudian, terdengar sirene polisi. Gun yang menyadari hal itu berteriak pada teman2nya kalau polisi datang. Mereka semua panik lalu lari menuju mobil Gun. Mereka menggedor pintu mobil, memanggil2 Nick, meminta dibukakan pintu. Tapi karena musik yang diputar Nick terlalu kencang, ia tidak mendengar panggilan teman2nya. Mereka semua semakin panik karena Nick tak kunjung membuka pintu mobil. Nick akhirnya mengangkat kepalanya dan menyadari kepanikan teman2nya, ia pun membuka pintu mobil. Tapi terlambat, polisi sudah keburu memborgol teman2nya. Mereka hanya bisa pasrah digiring ke kantor polisi.

Geng Sperm bermalam di sel di kantor polisi. Mereka semua tampak duduk termenung meratapi kesialan mereka kali ini. Sesekali mereka melirik Nick yang tertunduk lesu. Nick menyadari ini semua karena kesalahannya. Kla yang kesal bangkit dan melayangkan tinjunya ke wajah Nick. Gun berusaha melindungi Nick, ia tidak habis pikir dengan sikap Kla yang tiba2 emosi seperti itu. Kla menyalahkan kebodohan Nick yang mengunci pintu mobil sehingga mereka terlambat kabur dan akhirnya ditahan di sel itu. “Dia teman kita, kawan,” ucap Gun mengingatkan. Kla yang emosi tidak mengindahkan ucapan Gun dan terus menyalahkan Nick. Nick bangkit seraya memegang wajahnya yang terluka karena pukulan Kla.
“Kau pikir yang dia lakukan benar? Pengecut ini membuat kita dalam masalah,” seru Kla kesal. Champ menghampiri Kla, ia bertanya apa Kla masih mau melindungi Nick?! Tidak berarti Kla harus memukul Nick. Alih2 mendengar nasihat Champ, Kla malah mendorongnya dengan kasar. Kla berseru apa teman2nya itu melindungi Nick? “Baik. Aku memang sampah. Aku bukan sahabat sejati. Tapi akulah yang selalu berkelahi bersamamu dan tak pernah lari!” seru Kla kesal pada Gun. Gun yang mengerti kalau sahabatnya itu sedang emosi berusaha menenangkannya dengan memegang pundaknya, tapi Kla malah menyingkirkan tangan Gun dengan kasar. 
“Gun, kau yang mendirikan geng kita. Kau ingat kita siapa? Kau bilang kita semua pemenang. Kita adalah sperma yang terkuat, lebih kuat dari jutaan sperma lainnya. Itu sebabnya kita terlahir,” ujar Kla yang membuat teman2nya tertegun. Kla lalu menunjuk Nick, ia menganggap kalau Nick hanyalah seorang pengecut. Bagaimana bisa ia berada di dalam geng mereka?
“Tapi dia teman kita, kawan,” ujar Gun kembali mengingatkan.
“Aku yakin Nick juga tidak mau berakhir jadi seperti ini,” timpal Song.

Mendengar ucapan Song, Kla marah dan menunjuk Song agar jangan ikut campur karena dia hanya orang baru. Song mundur perlahan melihat kemarahan Kla. Kla menatap Nick dan berteriak marah, “Nick, sebaiknya kau tinggalkan geng ini. Pergilah!” Gun yang dari tadi menahan emosinya akhirnya ikut marah dan berteriak agar Kla berhenti berkata seperti itu. Gun emosi dan mendorong Gun dengan kasar seraya memakinya. Tapi pertengkaran mereka dilerai oleh petugas polisi yang menyampaikan kalau mereka sudah ditebus seraya membuka kunci sel. Gun dan Kla saling memandang dengan penuh emosi. Melihat mereka semua tidak beranjak keluar, petugas itu tampak kesal dan berkata jika mereka tidak mau keluar mereka tinggal di sel itu saja.

Kla keluar duluan seraya mendorong Arm yang menghalangi jalannya dengan kasar. Teman2nya hanya bisa terdiam melihat tingkah Kla.  Tod melirik kesal pada Nick yang terus tertunduk merasa bersalah.

Di ruang tunggu, para orang tua sedang menunggu anak2 mereka dibebaskan. Kla berjalan tertunduk menuju ruang tunggu, menghampiri orang tuanya.  Seorang wanita yang bergaya sedikit glamour beranjak dari duduknya saat melihat kedatangn Kla. Tiba2 wanita itu melayangkan tamparan ke wajah Kla. Kla hanya bisa terdiam saat wanita yang ternyata ibunya itu memarahinya dengan kesal.  “Mau jadi apa kau? Kau mau jadi gangster? Siapa yang mengajarmu jadi seperti ini. Jika kau ingin jadi gangster, tak usah pergi ke kampus lagi,” serunya. Ibu Champ berusaha mengingatkan Ibu Kla agar ia tenang, tapi ibu Kla malah menampiknya dan meminta Ibu Champ mengajari anaknya sendiri. Ibu Champ sampai terkejut mendengar ucapan Ibu Kla yang sedikit kasar itu.
 
Ibu Kla menarik Kla dengan kasar, mengajaknya pulang. Ia berhenti sesaat menatap geng Sperm dan mengupat mereka. Geng Sperm hanya bisa terdiam mendengar umpatan Ibu Kla. Ibu Kla pergi dari tempat itu dengan keadaan marah. Satu persatu para orang tua itu pulang bersama anak2nya. Arm bersama ayahnya, Champ dan Nick bersama ibu mereka masing2. Tinggalah Gun, Song dan Tod di tempat itu. Gun celingak celinguk  tampak mencari2 seseorang. Sekretaris ayah Gun yang sedari tadi duduk, akhirnya berdiri dan menanyakan kabar Gun. Gun tidak merespon sapaan Sekretaris ayahnya itu, ia terus melirik ke belakang Tuan Sekretaris, mencari2 seseorang. Tuan Sekretaris tampak bingung melihat tingkah Gun dan ikut melirik ke belakang. Akhirnya Tuan Sekretaris menyadari apa yang sebenarnya Gun cari.

“Ayah dan ibumu masih di Singapura sekarang,” terang Tuan Sekretaris. Gun tertunduk lesu, rasa kecewa teraut jelas di wajahnya. Ia merasa sedih melihat orang tua teman2nya menjemput anak2nya, sedangkan orang tuanya malah mengirim Sekretarisnya untuk menjemputnya. Gun benar2 merasa dikecewakan untuk yang kesekian kalinya oleh orang tuanya sendiri. Tidak adanya perhatian yang orang tuanya berikan pada Gun lah yang membuat Gun menjadi seperti sekarang ini, selalu terlibat masalah.

Namun Gun tidak mau bersedih berlama2, ia berbalik dengan cepat menatap kedua temannya. Ia bertanya pada Song bagaiamana ia akan pulang? Apa Song perlu tumpangan? Song berpikir sejenak. “Aku tak mau pulang sekarang. Bolehkah aku menginap di tempatmu?” tanya Song yang diiyakan Gun. Tod bertanya bolehkah? Gun membenarkan. Ia lalu mengajak kedua sahabatnya meninggalkan tempat itu untuk menginap di rumahnya. Tuan Sekretaris diabaikan oleh Gun, “Tuan Gun, haruskah kita….tunggu,” ujar tuan Sekretaris bingung. Tapi ia hanya bisa pasrah melihat sikap tuan mudanya itu.
Di rumah Nem, Ibu sedang bersedih. Ia membelai sayang pigura foto dirinya dan putra semata wayangnya, Oak, yang kini telah tiada. Nem yang baru pulang dari kampus, terkejut mendapati ibunya sedang menangis. Nem merasa sedih melihatnya, ia lalu duduk di samping ibunya.
 
“Ibu, mengapa kau menangis lagi?” tanya Nem sembari mengambil foto itu dari tangan ibunya lalu meletakkannya di atas meja. Ibu tidak menjawab pertanyaan Nem. Ia lalu merangkul Nem dan membelai rambutnya dengan sayang. Nem balas memeluk erat ibunya.
“Oak seharusnya tidak mengenal sialan itu,” ucap Nem sedih. Ia masih merasa marah karena merasa kematian kakaknya dikarenakan mengenal Gun. Ibu terkejut mendengar ucapan Nem barusan. “Jangan bilang begitu,” ucap ibu mengingatkan. Nem menatap ibunya dengan tatapan kesal, “Apa aku bilang sesuatu yang salah? Jika Oak tidak pergi dengannya….”
Ucapan Nem terpotong mendengar seruan ibu. “Nem! Jangan salahkan Gun! Kau tahu…dia sangat menyayangi kakakmu.” Ibu lalu menceritakan saat Ibu yang baru tau kalau Oak kecanduan narkoba.

= Flashback =
Oak sedang membongkar laci, mencari2 sesuatu dengan terburu2. Ia lalu menemukan kaleng berisi uang hasil jualan ibunya. Ia tersenyum senang. Tiba2 ibu datang dan melihat kelakuan Oak. Ia terkejut dan bertanya apa yang Oak lakukan seraya berusaha mengambil kembali uang jualannya dari tangan Oak. Oak meminta ibunya melepaskan tangannya dan menepis tangan ibunya dengan kasar. Ia lalu pergi meninggalkan ibunya yang menangis sedih melihat kelakuannya. Ibu lalu menghubungi Gun, meminta bantuannya agar membawa pulang Oak kembali ke rumah.
Oak dipukuli beberapa orang hingga babak belur. Saat Gun tiba, ia menemukan Oak sedang dipukuli oleh orang2 yang ternyata para pengedar narkoba tersebut hingga wajahnya berlumuran darah. Gun berusaha menyelamatkan Oak, tapi para pengedar itu keburu lari melihat kedatangan Gun.
Gun lalu menghampiri Oak yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari kepalanya. Gun berteriak memanggil2 nama Oak, berusaha menyadarkannya. Tapi terlambat, Oak sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Gun menangis melihat kepergiaan sahabat yang disayanginya tersebut. Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Gun hanya diam saja menghadapi kemarahan Nem padanya. Ia juga merasa bersalah karena tidak berhasil menyelamatkan sahabatnya itu.
 = Flashback End =

== Bersambung =
 

Written by : Ann  |Fb|Twitter|
Image by : DewiRF [Blog]
Only Posted on Pelangi Drama
DON'T REPOST TO OTHER SITE!!!!!!!!!!!!

2 Responses so far.

  1. Anonim says:

    G sabar nunggu part selanjutnya, ^________^

  2. sedih ceritanya...ntr marionya mati kn ditusuk pake pisau...hikss..hikss

Leave a Reply

RULES BERKOMENTAR:
*Jangan lupa Like dan ReTweet Postingan di atas.
*Gunakan bahasa sopan.
*Sertai nama dalam berkomentar.
*Sebelum tanya episode selanjutnya, lihat dulu INDEX Sinopsis, bila belum ada, harap bertanya baik-baik.
*Kami akan sangat menghargai komentar berupa support dan kritik yang membangun demi perbaikan kualitas Pelangi Drama

 
Pelangi Drama © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger . Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

You can add link or short description here